#MEGANTARASERIES 1 👑
Jika semua laki-laki mengatakan bahwa seorang ibu adalah cinta pertamanya, maka hal itu tidak berlaku bagi seorang Axelino Dylan Megantara.
Karena jika ditanya hal apa yang paling Axel benci, ia akan menjawab tanpa ragu bahwa i...
Yang jadi silent reader mau ku timpuk? Apa mau aku betot lehernya?
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YAA!!!
Happy reading 🤍
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cantik itu bukan suatu patokan buat bisa dapetin hati doi.
🍀🍀🍀
Kesal karena terus diledek oleh para sahabat, akhirnya Axel melengos pergi begitu saja. Entah kemana tungkainya itu melangkah yang penting Axel pergi jauh dari para sahabatnya yang sangat miskin akhlak dan melarat iman itu.
Ponsel dalam sakunya bergetar, pesan dari Diandra kembali mengisi ruang obrolan. Wanita itu terus mengajak Axel untuk menjemput sang kakek ke bandara nanti sore setelah Axel pulang sekolah. Sebenarnya, Diandra sudah akan membicarakan hal ini pada Axel ketika Axel baru saja pulang main semalam, namun lagi-lagi Axel mengabaikannya.
Laki-laki bermarga Megantara itu langsung melengos pergi menuju kamar setelah memberikan pesanan bi Sari ke kamar asisten rumah tangganya itu.
Tadi pagi juga sama, Axel langsung melengos tanpa mendengarkan Diandra yang terus meneriakkan namanya. Telinganya selalu ia tulikan jika Diandra sudah bersuara. Bagi Axel suara Diandra itu sangat mengganggu ditelinga-nya. Ibaratkan suara terompet sangkakala yang dapat membuat hancur alam semesta beserta isinya.
Jujur dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya semakin Axel membenci Diandra, semakin banyak rasa sakit yang Axel rasakan. Selama ini Axel berusaha untuk bangkit sendiri, tanpa adanya bimbingan dari seorang ibu. Hanya Arsenio yang selalu ada untuk Axel.
Arsenio selalu siap siaga untuk selalu ada ketika putranya membutuhkan. Arsenio selalu mengorbankan waktu kerjanya demi Axel. Apapun yang Axel inginkan selalu Arsenio turuti. Arsenio adalah laki-laki yang sangat hebat bagi Axel, Arsenio sudah menjadi papa sekaligus ibu untuknya.
Langkah kaki jenjangnya terhenti ketika netranya melihat empat orang gadis yang tengah berjalan menuju taman belakang sekolah yang tak pernah dilalui oleh siapapun.
Kepalanya miring sedikit, terus menatap kepergian keempat gadis yang kini semakin menjauh. Salah satu diantaranya adalah gadis yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya.
"Si cewek gila sama si murid baru. Ngapain mereka?" gumamnya.
Tanpa sadar tungkainya kembali bergerak mengikuti kemana arah Audrey, si cewek gila dan si murid baru yang Axel maksud, membawa Zia.
Dalam sejarah hidupnya Axel tidak pernah ingin tahu tentang cewek. Tapi entah mengapa, daya tarik gadis bernama Nanzia itu dapat menarik perhatian Axel.