#MEGANTARASERIES 1 👑
Jika semua laki-laki mengatakan bahwa seorang ibu adalah cinta pertamanya, maka hal itu tidak berlaku bagi seorang Axelino Dylan Megantara.
Karena jika ditanya hal apa yang paling Axel benci, ia akan menjawab tanpa ragu bahwa i...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ada kalanya seseorang ingin menghilangkan ingatannya. Hanya karena ia tak ingin selalu dihantui oleh kejadian masa kelam yang membuatnya trauma hingga ia dewasa.
🍀🍀🍀
"Sshhh .... Sakit goblok!"
"Pelan-pelan, Sialan!"
"Kalo gak bisa ngobatin diem aja deh, lagian gue mintanya bi Sari, bukan lo!" Axel terus menggerutu tak jelas.
Entah sudah berapa kali bocah durhaka itu terus mengumpati sang mama yang kini tengah mengobati luka di keningnya.
"Ini udah pelan-pelan, Axel. Kamu diem dulu makanya."
"Lagian kenapa bisa kayak gini sih?" tanya Diandra. Wanita itu dengan sabar mengobati Axel walaupun terus mendapat umpatan dan tepisan tangan dari putranya itu.
"Bukan urusan lo!" Axel kembali menepis tangan Diandra saat mamanya baru selesai memakaikan plester di keningnya.
"Udah selesai kan? Cepet keluar dari kamar gue!" Axel mengusir Diandra. "Jangan harap gue bakalan bilang makasih."
"Iya, sebentar mama beresin ini dulu," sahut Diandra dengan sabar.
"Gak pake lama!" Bocah songong itu memperingati.
Diandra menuruti perintah Axel. Wanita itu segera keluar dari kamarnya dengan membawa kotak P3K dan meninggalkan Axel seorang diri.
Sebelum Diandra pergi sepenuhnya, wanita itu kembali menoleh pada Axel yang kini tengah tidur terlentang di kasur king size miliknya dengan tangan yang kembali memijat kepalanya.
"Sebentar lagi kakek kamu pulang, semoga emosi kamu segera reda ya." Diandra memberi tahu.
"Ck!" Axel berdecak kesal. "Gimana emosi gue mau reda kalo lo masih ada di sini? Cepet enyah dari pandangan gue!"
"Gue muak liat muka lo yang so suci itu!" ucap Axel begitu pedas. Ia tidak memperdulikan perasaan Diandra akan seperti apa nantinya ketika Axel berkata demikian.
Diandra hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Wanita itu kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar Axel. Sedangkan sang penghuni kamar saat ini tengah sibuk dengan ponselnya dengan posisi tidur yang memunggungi Diandra.
"Kamu berhak membenci Mama, Xel," gumam Diandra.
Setelah berkata demikian, Diandra langsung melengos pergi, dan menutup rapat pintu kamar Axel.
Sedangkan di tempatnya, Axel sudah menitikkan air mata yang kini membasahi bantal. Setiap mendengar Diandra berucap seperti tadi membuat Axel kembali mengingat betapa kejamnya Diandra dulu.
Jujur, sebenarnya Axel masih takut pada Diandra. Axel bersikap kasar kepada Diandra karena Axel tak ingin Diandra menyakitinya seperti dulu. Axel tak ingin terlihat lemah di mata Diandra.