#MEGANTARASERIES 1 👑
Jika semua laki-laki mengatakan bahwa seorang ibu adalah cinta pertamanya, maka hal itu tidak berlaku bagi seorang Axelino Dylan Megantara.
Karena jika ditanya hal apa yang paling Axel benci, ia akan menjawab tanpa ragu bahwa i...
Sesuai janji yang pernah aku janjikan sama kalian!!
Siap buat baca?
Jangan lupa vote dan komen dulu ya!!
Oke kalo udah, HAPPY READING!!
•••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Karena pada kenyataannya, hidup adalah perihal sebuah perjalanan, bukan pelarian ataupun suatu perlombaan.
🍀🍀🍀
Toktoktok!
Suara ketukan pintu membuat seorang pria yang tengah berbincang dengan seseorang di dalam sambungan telepon lantas mengakhiri sambungannya. Ia kembali menyimpan benda pipih berwarna hitam itu ke atas meja, di samping laptop miliknya.
"Masuk," serunya sembari membenarkan kerah kemeja.
"Permisi, Tuan Axelino," ujar seorang gadis sembari membuka pintu dengan hati hati.
"Ada apa, Adinda?" tanya Axel pada sang sekertaris.
"Ini ada sebagian laporan yang harus Tuan tanda tangani. Sebelumnya boleh dicek terlebih dahulu, Tuan."
Axel menerima beberapa map yang Adinda berikan kemudian membuka dan membaca ya satu-persatu dengan teliti. Kepalanya mengangguk samar dengan kerja baik dari sekertarisnya ini sangat pintar.
Tangannya terulur meraih bolpoin kemudian menorehkan tinta hitam di atas materai yang juga tertera nama dirinya. Axel menandatangani laporan itu saat dirasa tak ada kesalahan apapun, begitupun dengan lembaran yang lain, Axel melakukan hal yang serupa.
"Ini, sudah saya tanda tangani semua," ucap Axel penuh wibawa, dan kembali memberikan map itu kepada sekertarisnya.
"Terimakasih banyak, Tuan. Kalau begitu saya kembali ke ruangan untuk mengecek laporan lainnya." Adinda berpamitan.
"Iya, silahkan. Terimakasih untuk kerja baiknya, Adinda," ujar Axel tersenyum ramah.
Adinda membalasnya dengan anggukan kepala. "Sama-sama, Tuan."