#MEGANTARASERIES 1 👑
Jika semua laki-laki mengatakan bahwa seorang ibu adalah cinta pertamanya, maka hal itu tidak berlaku bagi seorang Axelino Dylan Megantara.
Karena jika ditanya hal apa yang paling Axel benci, ia akan menjawab tanpa ragu bahwa i...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Selamat istirahat untuk beberapa saat.
🍀🍀🍀
"Kita selesai."
Dua kata yang terlontar dari mulut Axel membuat telinga Zia seakan tuli. Hatinya semakin berdenyut nyeri. Sesuatu yang sangat ia takutkan ternyata menjadi kenyataan yang berhasil menusuk hati.
"S-selesai apa?"
"Gue tahu lo gak bodoh, Zia," cetus Axel.
Lagi. Axel benar-benar sudah kembali pada sosok Axelino yang dulu. Sangat menyeramkan.
Zia menggeleng tegas. "Nggak. Aku gak mau."
"Gue gak butuh persetujuan dari lo." Axel tersenyum kecut.
"Nggak Axel, please. Aku gak mau!" Zia meraih tangan Axel dan digenggamnya begitu erat. "Kamu udah janji gak akan pergi, Xel. Kamu udah janji gak akan tinggalin aku sendiri."
"Aku mohon dengerin penjelasan aku dulu, Xel." Zia terus memohon agar Axel mau mendengarkan penjelasannya. Zia tahu saat ini Axel benar-benar kecewa padanya, tapi Zia hanya ingin Axel mendengarkan secara langsung akan semua alasan Zia selama ini.
"Lo mau ngasih penjelasan atau mau mencari pembelaan?" tanya Axel begitu dingin sembari melepaskan cekalan tangan Zia.
"Semuanya udah jelas Axelino, buat apa lo dengerin penjelasan cewek licik kayak dia." Dimas angkat suara berniat mengompori.
Zia dan Axel melirik sinis pada lelaki itu. Sedangkan sang pelaku hanya memamerkan senyum bahagianya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Bacot lo anjing! Gak usah ikut campur sama urusan gue!" sentak Zia.
Tangan Zia terulur mengambil sepatu yang ada di pojok pintu kemudian melemparkannya tempat mengenai kepala Dimas. Axel yang melihat itu dibuat tak percaya karena Zia yang memiliki sikap kasar.
"Gue gak butuh manusia sampah kayak lo, bajingan! PERGI DARI TEMPAT GUE!"
Dimas mengaduh kesakitan karena sepatu yang Zia lempar tadi tepat mengenai matanya. Dimas tak sempat menghindar karena yang dilakukan oleh Zia begitu tiba-tiba. Dimas tak pernah mengira bahwa Zia akan memajukan penyerangan seperti barusan, ini adalah Zia yang lain setelah sekian lama mereka berteman.
Mungkin karena terbiasa bersama Axel, sikap Zia pun lama-lama mengikuti sikap buruk pemuda itu.
Dimas memandang horor pada Zia dan Axel kemudian melangkahkan kakinya mendekati keduanya.