Luishara tak pernah membayangkan, menjadi seorang ibu rupanya begitu menyenangkan sekaligus melelahkan. Darlene, putrinya yang berusia empat tahun itu begitu aktif dan menggemaskan. Bermata biru dan berlesung pipi, membuatnya menjadi bulan-bulanan kecupan oleh orang-orang di sekitarnya. Tak jarang, Lui sampai menegur saudara bahkan orang tua dan mertuanya karena membuat gadis kecilnya tak nyaman akibat kecupan terus-menerus yang diterimanya.
"Mamiiii," lengkingan Darlene terdengar hingga seluruh penjuru rumah. Gadis kecil itu tengah berdiri di pintu kamarnya dengan wajah sayu khas baru bangun tidur.
"Di dapur, Sayang," seru Lui membalas panggilan sang putri.
Adalah Dave yang bergerak cepat menghampiri Darlene. Ia sedikit berlari dari dapur tempatnya menanti pizza buatan kakaknya matang. Begitu sampai di depan Darlene, pemuda itu lantas membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya.
"Princess udah bangun? Kok cepet amat boboknya?" Dave membawa kemenakannya menuju dapur.
"Alen kangen Papi. Mau ama Papi," rengek Darlene di bahu Dave.
"Mau ditelfonin Papi?" tawar Dave.
Darlene menggeleng kecil. "No. Papi gi kelja. Nti gangu."
Dave tersenyum seraya tangan kanannya mengacak rambut Darlene. Bocah itu begitu lengket dengannya. Sejak Lui melahirkan, Dave hampir setiap hari mampir ke rumah kakaknya hanya untuk menyapa dan bermain dengan Darlene. Lui bahkan tak perlu menyewa tenaga baby sitter karena kehadiran Dave cukup membantunya dalam mengurus Darlene di kala Ervin sedang bekerja. Tak jarang pula Lui menitipkan Darlene pada Dave saat dirinya harus mengunjungi Luisine yang kini telah melebarkan lokasi dengan membeli bangunan di sebelahnya untuk dijadikan restoran.
"Nanti kalau Papi udah selesai kerjanya, kita telfon, biar Darlene bisa ngobrol sama Papi, ya?" Lui mencoba menenangkan putrinya yang dua hari belakangan cukup rewel karena ditinggal pergi oleh sang ayah ke Lombok.
Agen properti milik Ervin berkerja sama dengan pengusaha dari Korea Selatan untuk proyek pembangunan sebuah resort di salah satu pantai di Lombok. Pemilik jaringan resort itu ialah Tuan Oh Shin Ji. Sejak dua hari lalu, Ervin beserta Dika telah terbang ke Lombok untuk meeting final sebelum pembangunan dimulai. Rencananya, mereka akan berada di Lombok selama lima hari. Untuk selanjutnya mereka secara berkala akan mengecek progres pembangunannya.
Wajah Darlene masih masam. Bahkan saat Lui mengeluarkan pizza dari panggangan dan menghidangkannya di meja bar, Darlene masih terus murung. Bujukan gelato kesukaannya pun tak mempan. Bocah kecil itu justru mencebikkan bibirnya tanda tangisannya hampir pecah.
"Princess jangan nangis," cegah Dave. "Besok kita susul Papi ke Lombok. Mau?"
Wajah Darlene mendadak cerah. "Benelan?"
"Iya dong, kapan Oncle Dave bohong?"
"Yeay! Alen mau temu Papi!" sorak gadis kecil bermata biru itu gembira. Darlene bahkan sampai berlari menuju boneka barbie kesayangannya untuk mengabarkan berita bahagia itu. Berbeda dengan Lui, yang raut wajahnya mendadak keruh. "Dave! Lo jangan PHP anak gue, dong!"
"Siapa yang PHP?"
"Ya itu, ngapain lo bilang mau nyusul Ervin ke Lombok? Lo pikir Lombok ada di belakang rumah gue?" hardik Lui.
"Ya elah, Kak. Jaman sekarang mah ke Lombok udah nggak jauh kali. Lo tinggal duduk santai, sampai deh di Lombok."
Lui mendelik mendengar ucapan Dave yang super duper enteng. "Enteng banget lo ngomong?"
"Oncle, kita belangkatnya kapan?" seruan Darlene mencegah Dave yang hendak menjawab omongan Lui.
"Besok. Darlene nanti malem boboknya jangan kemaleman. Biar besok nggak telat berangkatnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomanceLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
