Setelah malam di mana Ervin kembali mengatakan bahwa dia dulu pernah menyukai gue, Ervin menjadi lebih gencar mendekati gue. Dia nggak menyerah walau gue nggak pernah menanggapinya. Kini, di dukung Malit yang lebih sering memberiku tugas yang berhubungan dengan Ervin, membuat Ervin merasa di atas angin.
Di usia gue yang mendekati seperempat abad ini, memang udah selayaknya gue mulai menjalin hubungan asmara. Dave bahkan selalu meledek gue yang nggak pernah kelihatan dekat dengan cowok ini. Bocah itu mengatakan, dia harus menyiapkan dirinya karena nanti di masa tuanya, dia nggak hanya mengurus orangtua kami yang telah renta, tapi juga mengurus gue yang jomblo karatan alias nenek perawan.
Bocah sialan!
Bukannya gue nggak tertarik dengan lawan jenis, atau pun bukannya nggak ada yang mau mendekati gue. Gue hanya nggak tertarik dengan hubungan percintaan yang rumit, emm mungkin belum. Dulu, gue yang terbilang ambisius untuk menjadi chef ini punya pendirian, gue nggak akan membiarkan perasaan gue merusak mimpi gue. Gue telah banyak menemui, mereka yang menjalin cinta kebanyakan menjadi abai pada cita-citanya, membuat gue percaya, cinta dan ambisi nggak akan bisa berjalan bersamaan.
Sekarang, meski ambisi gue telah memudar, namun tetap tak membuat gue berencana menjalani hal yang berhubungan dengan hati. Gue hanya mau melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Bila bercinta bisa menghasilkan uang, maka gue akan melakukannya sejak tiga tahun lalu. Tapi itu jelas mustahil, karena bagi gue cinta hanya untuk dirasakan bukan dijual.
"Melamun aja!" Raisa menepuk bahu gue.
Saat ini gue sedang mendapat tugas dari Malit untuk menemani Raisa belanja, tentunya dengan disupirin Ervin. Gue masih bisa percaya kalau Malit belum mempercayai gue untuk membawa mobilnya, bagaimana pun gue adalah orang luar. Tapi mengatakan bahwa Malit lebih percaya bila Ervin yang membawa mobil ketimbang Raisa membuat gue yakin, itu hanya akal-akalan mereka saja. Lagipula, Raisa ini kenapa belanja aja musti sama gue? Emang dia nggak punya temen?
"Gue suka males kalau pergi sama temen, bawa temen satu yang lain bilang gue pilih-pilih temen. Bawa semuanya yang ada nanti jadi ajang gibah doang. Sedangkan kalau pergi sama kak Ervin, gue malesnya dia tuh lebih rempong dari Malit. Gue pilih baju, dikomentarin segala yang nggak cocok buat guelah, apalah. Gue pilih lipstick, dibilang nggak usah keganjenanlah, itulah. Muak gue!" begitu alasan Raisa saat gue menanyakan kenapa dia minta gue buat nemenin dia belanja.
Tepat. Gue juga lebih suka pergi sendiri, atau paling nggak berdua sama Eriya. Terlebih setelah kondisi gue yang bisa dibilang turun kasta ini, sangat terlihat mana yang teman sejati mana yang hanya penjilat. Hanya Eriya yang tetap setia di samping gue. Sayangnya, pekerjaan dia membuatnya jarang di rumah, jadi kita jarang punya waktu untuk hangout berdua.
"Masih kurang apa lagi?" tanya gue ketika Raisa masih celingukan melihat-lihat berbagai barang. Padahal tangan Ervin sudah penuh dengan kantong belanja.
"Gue pengen beli baju couple lagi buat kita," sahut Raisa.
"Buat apa? Lusa kan lo balik ke Jepang," suka aneh-aneh aja nih bocah satu.
"Betul. Lagian kalau untuk urusan couple sama Lui itu biar jadi bagian gue," Ervin ikut menimbrung.
"Yeee.. emang lo doang yang mau! Gue juga mau pake baju couple, tapi sayangnya susah nyari yang pas buat gue sama Malit. Nah kalau sama kak Lui kan banyak pilihan," Raisa tak mau kalah.
"Ya ampuunnnn ... kalian masih kurang puas selama empat belas tahun pake baju couple hampir tiap hari?" tegur gue dramatis.
Raisa tampak berpikir. "Maksudnya?"
Gue memutar bola mata malas. "Dari TK sampai SMA kan hampir tiap hari bajunya couple tuh, sama anak satu sekolah."
Raut paham muncul di wajah Raisa, yang sedetik kemudian berganti raut sebal. "Ish, jelas beda lah!"
Gue tertawa geli melihat Raisa bersungut sambil tangannya sibuk memilah baju. Pada akhirnya gue nggak bisa menolak permintaan Raisa. Dia selalu bertingkah seperti seorang adik yang manja pada kakaknya. Wajar saja, karena Raisa pernah bilang di ingin punya saudara perempuan. Hanya saja Malit udah nggak bisa punya anak lagi sejak keguguran saat Raisa berusia tiga tahun. Mungkin itu sebabnya, Raisa terlihat kegirangan setiap melihat gue memasuki gerbang rumah Malit.
Tapi, bukan hanya Raisa yang berhasil memaksa gue untuk punya baju dan barang couple dengannya. Sang kakak, alias si tengil Ervin pun berhasil melakukan hal yang sama. Dengan dalih bahwa ini adalah salah satu tugas buat gue, maka gue pun mengantongi kaos, jaket, sepatu hingga topi yang warna dan bentuknya persis dengan punya Ervin.
Hhh, jangan sampai aja setelah ini Malit juga mau punya barang yang sama dengan gue.
Kami pulang disambut oleh Malit yang menunggu di ruang keluarga. Jadwal Ma Cuisine hari ini nggak begitu padat, dan semuanya makanan khas Indonesia yang mana gue nggak terlalu di butuhkan, karena passion gue memang di western. Raisa segera naik ke kamarnya untuk membongkar belanjaannya. Sementara gue disuruh duduk di samping Malit, Ervin disuruh Malit mengambilkan es krim buat kami. Tak lama kemudian Ervin kembali dengan satu cup besar es krim stroberi untuk Malit, dan dua cone es krim coklat buat gue dan dirinya sendiri.
"Gimana shoppingnya?" tanya Malit sambil menyendokkan es ke mulutnya.
"Capek, Ma," keluh gue.
Malit terkekeh. "Biasanya cewek paling strong kalau lagi belanja."
"Kalau Raisa mah iya, kalau aku kan nggak begitu suka keliling mall buat hunting baju, sepatu, gitu-gitu," gue kalau nggak dipaksa sama Mama, bisa jadi hanya setahun sekali punya baju baru, pas lebaran aja.
"Masa sih?" Malit terlihat nggak percaya.
"Iya, Ma. Aku lebih suka wisata alam dari pada ke mall, dan dari pada hunting baju, aku lebih suka hunting makanan," balas gue nyengir.
"Ih samaaa, Malit juga lebih suka ngunyah daripada keliling mall," sambut Malit antusias.
"Kalau gitu, besok-besok gue ajak lo wisata kuliner aja," cetus Ervin tiba-tiba.
"Nah betul itu, ajakin Malit juga pokoknya," dukung Malit.
"Yang ada Malit bakal gangguin kita," sungut Ervin.
"Ya nggak dong. Kan Malit bisa ajak Padi, jadi kita bisa double date," usul Malit.
"Kalian mau double date, tanpa ngajakin aku?!" Raisa datang sambil mencak-mencak.
"Lah, kamu mau ngedate sama siapa? Emang punya pacar?" cibir Malit.
"Ya enggak," jawab Raisa lesu yang langsung ditertawakan oleh kakak dan ibunya. Gue ikut tertawa melihat tampang ngenes Raisa.
"Cari pacar dulu makanya, biar nggak ngenes-ngenes amat," sambar Ervin.
"Dih ngatain gue, elo aja jomblo. Sesama jomblo nggak boleh ngatain!" tukas Raisa kesal.
"Kan gue ada Lui. Ya nggak, Lu?" Ervin mengedipkan matanya pada gue yang gue balas dengan decakan.
"Belum tentu kak Lui mau sama lo."
"Udah-udah," Malit melerai. "Kalian semua tuh jomblo, cuma Malit yang udah jelas laku. Jadi di sini yang boleh ngatain kalian para jomblo, ya, cuma Malit."
"Dih apa enaknya laku sama orang yang lempeng kayak jalan tol," cibir Raisa. Memang, Padi orangnya terlalu lempeng untuk Malit yang super absurd.
"Biarin, yang penting tiap malam ada yang bisa di peluk. Emangnya kalian, cuma bisa meluk guling, nggak ada yang angetin," balas Malit telak.
"Ewwhh!"
"Iyyuuuhhhh!"
Ya ampuunn, keluarga Malit ini benar-benar kacau!
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomanceLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
