Selama sisa hari sebelum kepulangannya ke Manado, Derry rutin mengantar jemput gue. Dan selama itu pula gue nggak melihat sosok Ervin di sekitar gue.
Rasanya sedikit berbeda mengingat biasanya Ervin nggak pernah absen nyamperin gue. Tapi gue lebih suka dengan keadaan ini, karena dengan tidak adanya Ervin, maka tidak ada gangguan pula buat gue. Namun, hal ini sepertinya menjadi perhatian Malit. Semenjak melihat gue diantar Derry tempo hari, Malit jadi lebih sering menyambut serta mengantar gue sampai gerbang. Lalu dia akan menengokkan kepalanya ke arah pengemudi mobil yang menjemput gue.
Hingga, mungkin karena rasa penasarannya yang semakin tinggi, siang ini Malit menghampiri gue yang tengah makan siang sendirian. Kebetulan saus pasta yang gue masak tadi belum matang pada saat jam makan siang, jadilah semua orang makan siang duluan setelah gue memaksa mereka. Dan karena gue makan sendiri, maka gue memilih memakannya di taman kecil pemisah Ma Cuisine dan rumah Malit.
Sambil membawa semangkuk mangga potong dan bangku plastik, Malit menempatkan bangku dan mendudukinya di samping gue.
"Kamu sama Ervin lagi berantem ya?" tanpa basa-basi Malit membuka percakapan.
Gue sedikit tersentak oleh pertanyaan Malit yang bernada serius itu. "Kok Malit nanya gitu?"
Gue mencoba berhati-hati sebelum menjawab. Jangan sampai gue salah menjawab dan berakibat serius pada karir gue.
"Malit liat, belakangan ini kalian nggak pernah interaksi. Ervin kayak lagi menghindar dari kamu. Padahal biasanya tuh anak ngerecokin kamu melulu."
"Mungkin dia sadar, kalau sikapnya itu bisa menggangu kerjaan aku, Ma."
Malit terlihat tidak puas dengan jawaban gue. Dengan memicingkan matanya, Malit mencondongkan kepala mendekati gue.
"Apa ini ada hubungannya dengan orang yang antar jemput kamu yang kata kamu temen deket kamu itu?"
Duh, Malit kejauhan mikirnya.
"Nggak, Ma. Ervin sama Derry aja nggak saling kenal," sangkal gue.
"Terus kenapa kalian jauhan?"
"Kita bukannya jauhan, Ma. Kita hanya bersikap selayaknya aja. Kemarin-kemarin Ervin cuma lagi kurang kerjaan, makanya ngerecokin aku mulu. Sekarang mungkin dia lagi banyak kerjaan," semoga Malit mau menerima penjelasan gue ini.
Malit mengangguk sekilas sambil memasukkan potongan mangga ke mulutnya. Diam-diam gue melirik Malit yang seperti tengah berpikir keras. Perasaan was-was kini menyelimuti gue, mengantisipasi apa yang akan diucapkan Malit berikutnya.
"Hahhh!" Malit mendesah keras, membuat gue tersentak kaget. "Yang namanya hubungan emang nggak bisa dipaksakan. Biar Malit kepingin kamu yang jadi mantu Malit nantinya, tapi kalau kamu dan Ervin sama-sama nggak mau, Malit bisa apa?"
Jadi, Malit tuh serius soal restuin gue untuk jadi mantunya?
Gue bingung mau jawab apa, jadinya gue memilih diam melanjutkan makan siang gue. Begitu juga dengan Malit yang memilih menghabiskan sisa mangganya dalam diam. Setelah makanan di tangan kami telah habis, kami pun beranjak. Malit masuk ke rumahnya, sedang gue kembali ke dapur Ma Cuisine untuk melanjutkan pekerjaan gue.
Pekerjaan gue hari ini tidak terlalu banyak, membuat gue bisa pulang lebih awal dari yang lain. Mobil Derry telah terparkir di depan gerbang begitu gue keluar. Ini kali terakhir Derry menjemput gue sebelum pulang ke Manado besok pagi. Dan sesuai kesepakatan kami sebelumnya, gue akan mengantar Derry ke bandara.
"Gimana hari ini?" pertanyaan yang rutin Derry lontarkan beberapa hari ini setiap menjemput gue.
"Kerjaan nggak terlalu banyak, tapi gue tetep ngerasa capek," keluh gue.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomanceLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
