Gue masih mencoba mencerna omongan Ervin barusan. Maksud dia apa ngomong gitu ke Dave? Gue pun bergegas masuk gerbang menyusul Ervin yang tak terlihat di mana pun. Asumsi gue, Ervin sedang mengambil kunci mobilnya di dalam rumah. Kalau begitu, mana berani gue main nyelonong masuk. Biar Malit sudah berkata gue boleh main ke rumahnya sesuka hati, tetap saja gue nggak mau seenaknya masuk rumah orang yang baru gue kenal.
Maka gue pun menunggu di samping mobil yang tadi di pakai Ervin. Total ada tiga mobil di carport, sedangkan sisa duanya ada di garasi. Sepertinya gue terlalu banyak bengong, karena gue nggak sadar kalau Ervin telah keluar rumah kalau bukan mobil di ujung carport menyala dengan Ervin duduk di balik kursi kemudi. Ternyata Ervin memakai mobil yang berbeda dengan tadi siang.
"Ervin!" seru gue saat gue lihat mobil siap melaju. Gue pun menyebrangi satu mobil di antara kami.
"Lui, cepet masuk!" perintah Ervin.
"Vin, lo nggak perlu anterin gue. Gue bisa ke sana sendiri," ucap gue.
Ervin berdecak sebal, kemudian turun dari mobilnya. "Lo nggak usah banyak protes, kasian adek lo kalau nungguin kelamaan," katanya sambil mendorong paksa gue agar masuk ke mobilnya.
"Tapi, Vin. Gue nggak mau berutang budi sama lo, yang mana tahu suatu hari nanti bakal lo tagih," sindir gue.
Ervin melongo mendengar ucapan gue. "Gue nggak selicik itu, Lu. Lo pikir gue nggak bisa jadi orang baik?" dia menjitak kening gue.
"Lo nggak usah khawatir, kali ini gue tulus bantuin lo. Jadi, lo nggak usah banyak protes biar kita bisa cepet jemput adek lo itu," dengan mengatakan itu Ervin mendorong gue kasar hingga gue duduk di kursi depan.
Gue cuma bisa nurut sambil cemberut. Semoga saja Ervin serius dengan ucapannya, jadi masa berlaku gue menjadi babu Ervin tidak akan diperpanjang. Kami membelah malam melewati jalanan yang padat. Jarak antara rumah Malit dengan posisi Dave terbilang jauh, untungnya gue dianterin Ervin jadi duit gue aman. Gue cuma perlu bayar ongkos bengkel nanti.
Sepanjang jalan Ervin terus menanyai gue, tentang kehidupan gue pasca lulus. Sebenarnya gue cukup malas membahas kehidupan gue, karena selanjutnya orang akan memandang gue dengan tatapan kasihan atau justru menghina. Jadi gue tanggapi pertanyaan Ervin sekadarnya. Dia nggak perlu tahu detail hidup gue.
Hampir satu jam kemudian kami sampai di bengkel tempat Dave menservis motornya. Begitu melihat gue turun dari mobil Ervin, Dave terlihat lega sekaligus penasaran.
"Kak, lo sama siapa?" tanya Dave tanpa basa-basi.
"Dia anak bos gue," gue memberi tahu. "Motor lo udah beres?"
Dave mengangguk, dia menunjuk motornya yang terparkir di sudut. "Baru aja beres, tinggal bayar," ujar Dave pelan sambil menunduk.
Gue memberi senyuman pada Dave. "Di mana gue harus bayar?"
Dave mendongak, raut wajahnya terlihat sedih. Dia tahu betul bagaimana perjuangan gue mencari uang, ongkos perbaikan motor Dave harusnya gue pergunakan untuk kebutuhan makan kami.
"Don't worry, all is well. Okay?" gue mencoba menenangkan Dave, meski hati dan dompet gue kocar-kacir.
Dave mengangguk berat, lalu memberi tahu gue tempat pemilik bengkel. Sebelum beranjak, gue menyuruh Dave menyalakan motornya dengan alasan agar kita bisa segera pulang. Gue hanya nggak mau melihat dia kembali sedih saat gue menyerahkan uang untuk ongkos bengkel.
"Pak, saya mau bayar ongkos motor yang barusan," gue menunjuk motor Dave. "Berapa semuanya, Pak?"
Bapak-bapak pemilik bengkel melongokkan kepalanya ke arah Dave. "Oh, sudah dibayar barusan mbak. Sama Masnya," bapak itu menunjuk Ervin yang berdiri di samping motor Dave.
Gue hampir nggak bisa ngomong karena terkejut. "Oh begitu, kalau boleh tahu total biayanya berapa ya, Pak?"
Gue harus ganti duit Ervin.
"Semuanya empat ratus tujuh puluh tiga ribu mbak, soalnya tadi sekalian ganti ban juga. Udah tipis banget, bahaya kalau nggak di ganti," jelas si bapak.
Jantung gue seakan berhenti berdetak mendengar total biayanya. Ya Tuhan, itu banyak sekali. Walau saat ini gue pegang uang segitu, tetap saja rasanya berat membayangkan gue harus melepas berlembar kertas warna-warni kecintaan gue.
"Oh oke, makasih banyak, Pak. Permisi," gue pamit dari hadapan bapak pemilik bengkel menghampiri Dave dan Ervin.
Sebelum sampai di sisi mereka, gue terlebih dulu mengambil uang sejumlah yang tadi disebutkan. Walau setelah ini kita harus ekstra hemat, senggaknya gue nggak beban karena menanggung utang pada Ervin.
"Yuk Dave, kita pulang," gue sengaja menyuruh Dave menunggu di jalan sementara gue beriringan keluar bengkel bareng Ervin.
Setelah kami sampai di samping mobil Ervin, gue menyerahkan uang yang tadi telah gue persiapkan. "Ini untuk ganti tadi lo bayarin dulu ongkos bengkel. Makasih juga lo udah anterin gue ke sini."
Ervin diam tanpa menerima uluran tangan gue yang berisi uang, dia justru menatap gue dalam yang membuat gue jengah.
"Lo simpen uang itu buat lo sama Dave," kata Ervin tenang.
Gue menggeleng kuat. "Gue nggak mau punya hutang sama lo, Vin."
"Gue nggak anggep lo berhutang sama gue, Lu."
Gue tertawa sinis. "Kami nggak perlu belas kasihan lo, Vin."
Ervin menggeleng. "Lu, gue bukan lagi kasihan sama lo ataupun Dave. Gue tulus."
"Nggak perlu, Kak. Gue masih punya tabungan kok buat ganti uang kak Lui. Jadi uang ini lo ambil ya, makasih udah anterin kak Lui ke sini. Kita pamit duluan," tanpa gue sadari Dave telah berdiri di samping gue dan menyela, sembari tangannya merebut uang di tangan gue dan menyurukkan paksa ke tangan Ervin. Dave menarik tangan gue membawa gue ke motornya yang telah menyala.
Gue menerima uluran helm dari Dave dan memakainya, sebelum melesat pergi kami sempat melambai pada Ervin yang mematung melihat kami.
"Dave, lo beneran punya tabungan? Duit dari mana?" tanya gue saat kami telah jauh dari Ervin.
"Nggak, tabungan gue udah buat nyicil biaya kelulusan nanti," jawab Dave berseru.
"Terus, kenapa lo ngomong gitu ke Ervin?"
"Gue ngomong gitu karena gue mau nyelametin harga diri lo. Lo pasti malu kan dapet bantuan dari temen lo?" jawaban Dave membuat mata gue panas.
Dididik ala bangsawan membuat harga diri gue melambung tinggi. Gue pantang menerima bantuan tanpa alasan yang jelas. Ketimbang berterima kasih, gue justru akan menganggap bantuan itu sebagai hutang yang akan gue bayar walau harus bersusah payah. Dan Dave tahu betul sifat gue yang satu ini.
"Thank's, Dek," gue menangis di pundak Dave.
"Saat ini mungkin gue belum berguna buat lo, tapi gue akan berusaha keras agar gue segera menjadi manusia berguna. Supaya kita nggak perlu lagi dapat tatapan kasihan dari orang-orang, supaya lo bisa kembali menjadi princess kayak sebelumnya. Sampai hal itu terjadi, gue mohon lo tetep kuat dan terus berada di sisi gue, Kak," gue menangis semakin tersedu sambil memeluk Dave erat dari belakang.
Dave mengusap tangan gue yang ada di perutnya, tanpa kata dia melajukan motornya semakin cepat. Memberi gue kesempatan untuk tersedu di bahunya. Gue rasa, Dave adalah kakak gue yang terlambat lahir. Bagaimana bisa bocah piyik yang kini duduk di kelas 3 SMA itu selalu punya pikiran dan tindakan lebih dewasa dari gue?
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomansaLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
