Pagi ini terasa cukup berat buat gue. Bagaimana tidak, tiap melihat Ervin mata gue otomatis akan melihat ke bibirnya dan otak gue langsung memutar ulang adegan tadi malam.
Apalagi saat kami hanya berdua di dapur, Ervin terang-terangan mengatakan bahwa dia ketagihan dengan bibir gue. Rasanya gue pengen tenggelamin diri ke Laut Mati aja!
Gue berkali-kali menggelengkan kepala agar pikiran gue kembali jernih. Sebentar lagi Mbak Rida akan datang, gue harus fokus pada pekerjaan gue.
"Ma, nanti Mbak Rida mau ke sini," gue memberi tahu Mama. Sepertinya ngobrol dengan Mama dan Papa akan membantu gue untuk mengalihkan pikiran.
"Beneran? Papa pasti seneng," sambut Mama sambil melirik Papa yang mengangguk senang.
"Iya, kemarin aku minta tolong sama Mbak Rida buat nyariin orang yang bisa bantu aku. Dan Mbak Rida langsung menghubungi para karyawan Papa dulu. Hari ini Mbak Rida mau ke sini bawa orang itu," gue menjelaskan.
"Siapa?" Papa penasaran.
"Aku juga belum tahu, Pa. Mbak Rida nggak bilang siapa orangnya," jawab gue.
"Siapa pun itu, kalau dia adalah karyawan Papa dulu maka kamu nggak perlu khawatir. Semua karyawan Papa adalah orang yang berbakat dan kompeten," tambah Mama.
"Iya, Ma. Aku percaya kok sama Mbak Rida."
Selang satu jam kemudian Mbak Rida datang bersama dua orang. Yang membuat gue terkejut adalah dua orang itu tak lain Mas Edo dan Pak Erik. Demi apa, yang bakal bantuin gue di sini adalah Mas Edo? Bukannya dia kerja sama wanita ular itu?
"Mas Edo? Bukannya Mas kerja sama ular itu?" celetuk gue spontan.
"Lui, ngomong yang sopan!" tegur Mama. Mama selalu mengajarkan gue dan Dave untuk sopan santun kepada siapa pun. Tapi, apa si ular itu termasuk mahluk yang harus gue sopani?
"Iya, memang masih ada kontrak yang akan habis akhir bulan ini. Mas udah ditawari buat perpanjang kontrak, tapi karena kata Rida kamu butuh orang. Mas mending ke sini dari pada bertahan di sana," jawab Mas Edo panjang.
"Aku seneng karena yang mau bantu aku ada Mas Edo juga. Tapi jujur deh, aku tuh masih sakit hati tahu nggak sama Mas Edo, gara-gara khianatin kami," ungkap gue jujur.
"Terpaksa, Lui. Kamu tahu sendiri, Mas ini tulang punggung keluarga. Mas harus bayar biaya kuliah adik-adik Mas. Bu Vita nawarin gaji tinggi, makanya Mas mau. Maaf ya, kalau bikin kamu sakit hati."
"Kamu nggak salah Edo, jangan minta maaf begitu," bela Mama. "Luishara, kamu nggak boleh egois gitu dong!"
"Iya, Ma. Maaf deh, aku bukan mau bermaksud gitu kok. Aku ngerti sama kondisi Mas Edo, tapi aku juga nggak bisa bohong kalau aku kecewa pas tahu Mas Edo bergabung dengan ul- eh wanita itu."
"Santai aja, Lui. Jangankan kamu, Mas aja sebel sama diri sendiri setelah tanda tangan kontrak itu. Tapi, itu dulu karena sebentar lagi Mas bisa bebas dari sana."
"Eh tapi ... Mas Edo, Pak Erik sebelumnya aku mau minta maaf dulu. Aku memang butuh bantuan kalian untuk mengembangkan usaha aku yang masih belum apa-apa ini. Tapi untuk saat ini aku jelas belum bisa bayar kalian dengan layak. Gaji dari aku mungkin nggak ada apa-apanya dibanding gaji yang kalian terima sebelum ini," gue mengamati dua orang di hadapan gue yang menyimak dengan seksama.
"Jadi, aku mau kalian pertimbangin dulu sebelum bergabung dengan aku. Jangan sampai kalian menyesal. Apalagi kalian kan punya tanggungan," sambung gue kemudian.
Pak Erik berdeham. "Begini, Lui. Bapak memang dulu di gaji tinggi sama chef Albert. Tapi semenjak restoran itu berganti tangan, gaji Bapak turun drastis. Selama ini Bapak kerja dalam tekanan, karena bos baru kami sangat otoriter. Jadi pas dengar kamu butuh bantuan, Bapak nggak mikir dua kali buat ngajuin diri. Karena Bapak yakin, suatu hari nanti kamu pasti akan sukses melebihi Papa kamu. Saat ini bukan lagi soal gaji yang Bapak pikirin, karena anak-anak bapak sudah lulus kuliah dan sudah bekerja. Sekarang ini Bapak hanya ingin bekerja dengan nyaman."
"Yakin nih, Pak? Padahal aku lebih galak loh di banding Papa," gue berkelakar.
"Ngadepin kamu mah gampang. Dulu tiap kamu marah-marah, Bapak kasih gelato juga udah diem. Bikin gelato mah keahlian Bapak," sahut Pak Erik yang disambut gelak tawa kami semua.
"Mas juga, Lui. Adik Mas yang paling gede udah lulus kuliah tahun lalu, dan sekarang udah kerja di perusahaan asing. Gajinya gede, cukup banget buat bantuin bayar kuliah adiknya. Jadi tanggungan Mas saat ini udah nggak segede sebelumnya. Dan seperti Pak Erik, Mas juga pengen kerja kayak dulu lagi. Santai tapi serius, nggak ada tekanan. Nah, kalau soal gaji. Mas yakin, kalau usaha kamu udah sukses nanti. Kami pasti juga kecripatan kok, otomatis Mas sama Pak Erik dapat gaji tinggi dari kamu," Mas Edo menambahi.
"Trima-kasih dah bantu-Lui," ucap Papa terbata-bata. Kedua mata Papa tampak berkaca-kaca.
"Sama-sama chef, kita berjuang bersama lagi kayak dulu," Pak Erik menimpali.
Pak Erik adalah karyawan pertama Papa. Jadi dia tahu betul bagaimana perjuangan Papa hingga bisa sukses. Dan gue rasa, gue sangat beruntung karena kali ini Pak Erik bersedia menemani perjuangan gue. Loyalitas Pak Erik pada kami nggak perlu diragukan lagi.
"Tapi Mas belum bisa bantuin kamu besok, karena Mas masih terikat kontrak sampai akhir bulan," tukas Mas Edo.
"Bapak juga, Lui. Ada ketentuan kalau mau resign harus menunggu dua minggu sebelum bisa benar-benar keluar."
Gue sudah siap dengan berita ini. Karena gue pun dulu mengalami hal seperti itu. Tidak mungkin kita mengajukan resign hari ini dan besoknya kita sudah bisa melenggang bebas.
"Nggak masalah kok. Untuk bulan ini aku masih sanggup handle sendiri. Kalau bulan depan aku jelas udah butuh bantuan kalian. Selain orderan harian, bulan depan aku dapet orderan besar. Aku nggak yakin bisa handle semua itu sendirian."
Wajah semua orang di sekitar gue terlihat sangat berbinar. Mama berulang kali mengucap syukur. Yang lainnya mengucapkan selamat pada gue.
"Ayo kita mulai berjuang. Semangat!" ajak Mas Edo dengan lantang.
"SEMANGAT!"
Belum pernah gue merasa sesemangat ini. Perasaan ragu yang selama ini bercokol di hati gue perlahan sirna melihat bagaimana antusiasnya orang-orang di sekitar gue. Gue nggak boleh meragu lagi. Gue harus lebih semangat dan lebih yakin dari mereka. Karena di sini guelah pemeran utamanya. Gue yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya, maka gue harus bisa membawa kesuksesan untuk gue, keluarga gue dan para partner gue.
Ya, nggak akan ada bos atau anak buah. Nggak akan ada majikan dan karyawan. Yang ada hanya partner untuk meraih kesuksesan bersama.
________________
Lui mulai bangkit.. dari keterpurukan, bukan dari kubur :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomanceLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
