"Emmphh"
Gue hampir tersedak oleh es krim yang tiba-tiba masuk ke mulut gue. Sedangkan Ervin tetap menjejalkan es krim di tangannya ke mulut gue dengan muka sok polosnya.
"Ervin!" Sentak gue, segera gue cuci bibir gue yang belepotan es krim.
"Kenapa? Lo nggak suka? Bukannya dulu lo paling suka sama es krim ini? Hampir tiap hari lo makan es krim ini di kantin," sahut Ervin polos.
Pernyataan Ervin membuat gue membeku. Bagaimana Ervin tahu?
"Lo kok bisa tahu?"
Ervin menyandarkan tubuhnya pada meja dapur di sebelah gue. "Kita satu sekolah selama hampir tiga tahun kalau lo lupa. Dan tiap hari lo ngemilin es krim ini, gimana gue nggak tahu?"
"Tapi gue selama tiga tahun satu sekolah sama lo, tetep nggak tahu kebiasaan elo, Vin," heran aja gue.
"Itu karena gue selalu merhatiin elo, tapi lo nggak," balas Ervin dengan santainya memakan es krim yang tadi disuapkan ke gue.
Gue masih diam menerawang. Bagaimana bisa Ervin begitu memperhatikan kebiasaan gue? Apalagi kita udah nggak sekelas lagi semenjak kelas 2.
"Gue dulu suka sama lo," kata Ervin tanpa beban.
Gerakan gue yang sedang menggosok panci pun terhenti. "Lo suka sama gue? Kok bisa?"
Ervin memutar bola matanya. "Namanya cinta emang bisa ditebak?"
"Tapi kan gue dulu termasuk yang bully elo, kok bisa-bisanya lo malah naksir gue," gue kembali menggosok panci.
"Lo nggak pernah nyentuh gue, meski temen-temen lo nyiksa gue. Dan gue rasa karena itu gue bisa suka sama lo. Diantara semua gengnya Anya, cuma lo yang sedikit waras," Ervin menerka.
"Sedikit?" protes gue. Gue mengabaikan ungkapan suka Ervin, toh kejadian itu sudah bertahun-tahun lalu.
"Ya, karena setelah gue perhatiin selama tiga tahun, lo salah satu cewek gila yang pernah gue kenal," jawab Ervin.
"Lo bego, naksir sama cewek gila," gue menyipratkan air ke muka songong Ervin.
Ervin mengerjap tak sempat menghindar, detik berikutnya dia melempar sisa es krim yang tinggal sedikit ke tong sampah dan membalas gue dengan menyipratkan air dari kran yang terbuka berkali-kali hingga seluruh muka dan leher gue basah.
Gue udah mau bales dengan menyiram Ervin menggunakan air sepanci, tapi gue inget hal itu hanya akan bikin gue rugi, karena setelahnya kerjaan gue tambah banyak. Jadi gue menurunkan kembali panci berisi air dan melanjutkan acara cuci-mencuci gue.
"Kenapa nggak jadi nyiram gue?" tanya Ervin dengan nada mengejek.
"Lo mendingan pergi deh!" usir gue.
"Lo ngusir gue di rumah gue sendiri?"
Lah gue lupa kalau ini rumahnya dia. "Habisnya lo disini gangguin gue, kerjaan gue nggak kelar-kelar ntar!"
Ervin terkekeh mendengar gerutuan gue. "Sini gue bantuin. Gue suruh ngapain?"
Gue nggak yakin Ervin bisa bantuin gue dengan baik dan benar. Bisa-bisa dia malah ngacauin kerjaan gue.
"Nggak usah, lo mendingan pergi dari sini. Ke kamar kek atau ke gudang," tolak gue.
"Suka-suka gue dong mau di mana, ini kan rumah gue," Ervin turut menolak pergi.
Gue mendesah keras. "Ya udah terserah lo, asal lo nggak gangguin gue. Minggir!"
Ervin berlalu sambil menggerutu yang tak gue hiraukan. Dia terlihat menarik kursi dan duduk di meja bar sambil ngawasin gue. Terbiasa diawasi saat sedang melaksanakan tantangan dari chef, membuat gue merasa biasa saja ketika Ervin mengamati setiap gerak-gerik gue. Semua peralatan masak telah gue cuci dan gue lap, lalu gue letakkan kembali ke tempatnya. Begitu juga dengan berbagai toples bumbu, sisa bahan makanan basah gue simpan di kulkas sedangkan yang kering gue bungkus rapat dan gue masukkan ke salah satu lemari di atas kompor. Gue tinggal mengelap meja dapur dan lantai saat suara Malit bergema dari depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomansaLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
