Tugas pertama dari Ervin telah gue laksanakan. Gue langsung tidur setelah diantar Ervin sampai depan kamar karyawan. Dan pagi ini gue memulai aktivitas dengan mata nyaris tertutup selama satu jam lebih. Ini semua karena gue keasikan ngobrol dengan Raisa hingga lupa waktu, untung Ervin datang dan mengingatkan.
Oh ya, sebelum berangkat ke kantornya pada pukul delapan tadi, Ervin sempat pamit pada gue. Bukan sekadar pamit karena Ervin menyurukkan lipatan kertas berisi note dan sejumlah uang. Tertulis bahwa gue harus membuatkan makanan untuk Ervin dan membelikan beberapa barang lalu diantar ke kantornya. Gue hanya bisa menggerutu dalam hati, ternyata Ervin benar-benar menjadikan gue sebagai babunya.
"Bule, barusan Ervin nelfon Malit, dia nanyain makanan buat dia udah kamu bikin belum," beritahu Malit. Saat ini gue tengah makan siang karena kerjaan kami baru beres.
"Belum, Ma. Selesai makan nanti aku buatin."
Malit mendudukkan diri di kursi seberang gue, dia menaik turunkan alisnya. "Jadi, udah baikan nih?"
Gue melebarkan mata. "Baikan apaan sih, Ma? Orang kita nggak ada hubungan apa-apa."
Malit mendecih. "Lalu ini apa? Minta dibuatin makanan terus dibawain ke kantornya, udah kayak bininya aja."
Gue menelan ludah gue gugup. Gue harus beralasan apa pada Malit? Nggak mungkin kan, gue bilang kalau ini gue lakukan sebagai bayaran agar Ervin tutup mulut soal gue yang pernah ngebully Ervin dulu? Bisa-bisa gue langsung diusir dari sini.
"Eh, emm... itu Ervin pake jasa aku, Ma. Jadi nanti dia bayar jasaku," gue mengarang cerita.
Malit melihat gue dengan pandangan menyelidik. "Beneran?"
Gue mengangguk terlalu semangat.
"Kalian beneran nggak ada hubungan?"
"Bener, Ma. Kemarin tuh Ervin cuma asal ngomong aja," gue meyakinkan.
"Yaahhhh...," desah Malit kecewa.
"Ya udah, kamu selesaiin makannya. Terus masakin buat Ervin," kata Malit sambil berdiri dari kursinya. "Ervin udah Malit kasih nomor kamu. Biar dia bisa langsung hubungin kamu tanpa transit ke Malit dulu."
Gue melotot mendengar informasi barusan. Astaga Malit! Gue nggak berniat ngasih nomor gue ke Ervin.
"Biar makin mesra," bisik Malit saat melewati gue.
Beberapa orang mengamati interaksi gue dengan Malit, saat gue menoleh le arah mereka, semua memberi gue tatapan menggoda. Terutama Mbak Rida yang mengacungkan jempolnya untuk gue. Mereka kenapa sih?
Selesai makan kami semua membereskan kekacauan di dapur. Ketika yang lain pulang, gue justru masuk ke rumah Malit. Tanpa banyak kata, gue mulai memasak untuk Ervin ditemani Raisa yang mengatakan ingin belajar masak sama gue. Gue tidak mengiyakan tidak juga menolak, gue hanya menyuruh Raisa mengamati bagaimana saat gue memasak. Karena Ervin nggak memberi intruksi gue harus memasak apa, maka gue memasak sesuai keinginan gue. Masa bodoh bila ternyata dia nanti nggak suka, salah sendiri nggak pesan apa-apa.
Lasagna yang gue buat sudah jadi. Gue sengaja bikin agak banyak untuk Raisa dan Malit juga. Setelah memasukkan ke dalam kotak bekal, gue pun pamit pada Raisa dan Malit untuk ke kantor Ervin. Mereka terus menggoda gue dengan mengatakan kalau gue harus akur sama Ervin. Terserah mereka saja.
Gue baru mau pesan ojek, ketika ada panggilan masuk dengan nomor asing. Gue agak ragu untuk mengangkat, walau akhirnya gue angkat juga.
"Halo?"
"Lui." suara Ervin terdengar di ujung sana.
Gue mendesah lega, karena ternyata bukan nomor penagih hutang yang selalu menghubungi gue saat gue telat membayar cicilan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomanceLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
