Menyiapkan pernikahan tidaklah semudah menyiapkan makan malam untuk Dave. Banyak sekali yang harus diurus dan disiapkan, dan semua itu membuat gue cukup stres, karena gue juga masih harus mengurus Luisine, yang setelah resmi dibuka menjadi sangat sibuk.
Kepala yang sudah berasap ini pun semakin dibuat pusing oleh perdebatan antara gue dan Ervin. Hampir semua hal kita debatkan, mulai dari konsep hingga biaya. Gue ingin konsep sederhana dengan menikah di rumah tanpa resepsi, tapi Ervin, Malit dan Mama menentangnya. Mereka kompak meminta gue setuju untuk melakukan resepsi di hotel. Karena merasa kalah, gue akhirnya menyerahkan urusan itu kepada Malit dan Mama, gue hanya memberi sedikit masukan.
Lalu soal biaya, harusnya gue dan Ervin sepakat untuk membagi dua biaya yang tidak sedikit ini. Tapi lagi-lagi gue kalah karena Ervin berkeras ingin menanggung semua biayanya tanpa gue boleh mengeluarkan sepeser pun.
"Sayang, tolong jangan tersinggung. Aku bukannya nggak percaya kalau kamu mampu, tapi ini memang udah jadi niatan aku dari dulu kalau nikah aku yang akan tanggung semua biayanya. Aku udah lama nabung buat ini dan sekarang ini saatnya aku laksanain niatan aku, karena aku maunya nikah hanya sekali dan itu sama kamu."
Begitulah alasan yang dibuat oleh Ervin. Bahkan permintaan Mama yang ingin menyumbang untuk pernikahan kami pun sempat ditolaknya hingga membuat Mama menjadi sedih karena merasa tak bisa berbuat apapun untuk hari besar gue. Dengan sedikit rayuan, akhirnya Ervin menyetujui permintaan gue. Dia akan menanggung semua biaya untuk resepsi di hotel. Sedang untuk biaya prosesi sebelum dan saat akad di kediaman gue, akan ditanggung oleh keluarga gue, yang tanpa gue ketahui ternyata Mama masih menyimpan rapat-rapat tabungan yang dikhususkan untuk pernikahan anak-anaknya kelak.
Persiapan ini tak hanya melibatkan gue dan Ervin, tetapi juga kedua orangtua kami. Meski gue hanya mengijinkan Mama menyiapkan hal-hal kecilnya saja.
"Masih ada request lagi buat makanannya?" Malit mengulang pertanyaannya.
"Nggak kok, Ma. Aku setuju sama menu yang dipilih Malit," sahut gue setelah melihat daftar menu untuk resepsi nanti.
Malit menangguk lalu mencatat di note kecil di depannya. "Tapi nggak pa-pa kan kalau chef Luisine ikut memasak buat acara nanti?"
Kami sepakat untuk tidak menggunakan katering dari tempat lain. Ma Cuisine dan Luisine akan bekerja sama untuk menyuguhkan makanan di hari pernikahan kami. Gue telah mengkonfirmasikan hal ini pada para partner gue, dan mereka setuju tanpa protes sama sekali.
"Nggak papa kok, Ma. Aku udah bilang ke mereka, dan mereka setuju untuk ikut berpartisipasi."
Malit mendesah lega. Setelah selesai mencatat, kini atensinya beralih ke gue. "Malit hanya ngurusin makanan, baju pengantin sama seragam keluarga doang. Untuk gedung, dekorasi dan lainnya Malit pakai jasa WO. Nggak papa?"
Gue tahu, menyiapkan pernikahan dalam jangka waktu hanya satu bulan lima hari jelas bukanlah perkara mudah. Akan sangat merepotkan jika mengurus semuanya sendirian. Maka gue pun mengangguk menyetujui hal yang dilakukan Malit.
"Kamu beneran nggak mau ada bridesmaid yang rame kayak yang lagi ngeteren sekarang? Cuma empat doang?" Malit kembali memastikan. Gue menaik turunkan kepala sebagai jawaban.
Gue memang meminta seragam bridesmaid untuk empat orang saja. Mereka adalah Eriya, Raisa dan dua sepupu gue dari pihak Mama. Gue hanya akan mengundang teman gue yang lain untuk acara resepsi, itu pun hasil dari bujukan Eriya dan Mama, karena gue sendiri nggak berminat mengundang mereka untuk datang.
"Oke, kalau gitu kalian tinggal pesen baju pengantin. Kamu konfirmasi jadwal dengan Ervin dulu, kapan dia bisa mengantar kamu ke butik. Berdua aja nggak pa-pa kan? Malit mau mesen seragam sama besan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
Roman d'amourLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
