Persiapan Opening

1.4K 177 3
                                        


Persiapan untuk launching Luisine memakan waktu yang nggak sebentar. Dan jelas, biaya yang nggak sedikit. Tabungan gue yang nggak seberapa telah ludes untuk membeli perabotan dan perintilan kecil lainnya. Dave sempat akan menyerahkan tabungannya juga, tapi gue tolak karena uang itu akan digunakan untuk kepentingan kuliahnya.

Omset dari Luisine memang sudah lumayan, tapi gue nggak bisa menggunakan semua keuntungan yang gue peroleh. Karena sebagian dari itu harus gue gunakan untuk membayar hutang, yang kemungkinan baru bisa gue lunasi dalam waktu dua atau tiga bulan lagi. Sebab itulah yang membuat gue butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mengisi toko dengan berbagai kebutuhan. Setiap pendapatan yang gue peroleh, akan gue gunakan untuk membayar gaji partner gue, itu pun telah gue potong setengahnya dan untuk memenuhi kebutuhan rumah. Sisanya baru gue sisihkan untuk nantinya mencicil keperluan toko.

Beruntungnya, gue banyak dibantu oleh Tante Rania dalam urusan pengadaan barang. Beliau dengan senang hati memberi info di mana gue bisa memesan etalase dan furnitur lainnya dengan harga miring. Tante Rania salah satu yang berjasa dalam kemajuan Luisine. Nggak jarang pula, Tante Rania meminjamkan karyawannya ke gue, saat gue sedang ada orderan besar. Seperti saat gue mendapat orderan untuk pesta pernikahan salah seorang selebgram bulan lalu, Tante Rania meminta pada separuh karyawannya untuk membantu gue, kebetulan saat itu dapur mereka sedang libur produksi.

Ini sudah bulan ke lima sejak gue pertama kali mengecek toko bersama Ervin dan toko masih belum bisa gue buka karena persiapannya baru sekitar 80% saja. Gue masih harus membeli beberapa kulkas besar dan freezer untuk menyimpan bahan makanan di dapur, maupun untuk menyimpan makanan siap saji di depan. Gue juga perlu membeli beberapa hiasan dinding agar suasana tidak terkesan monoton.

Kepala gue seperti hampir pecah, gue pusing karena dompet gue sudah nyaris kosong, sementara Mas Edo semakin gencar menyuruh gue untuk segera menempati toko. Tapi, bagaimana mau ditempati, kalau alat pendukungnya saja belum lengkap. Otak gue benar-benar terkuras untuk memikirkan sumber dana yang gue perlukan. Gue sudah buntu, yang ada di otak gue hanyalah meminjam uang pada Eriya. Memang Eriya selalu menawarkan gue untuk meminjam uang padanya, tetapi gue nggak mau menambah hutang lagi. Gue sudah sangat kewalahan dengan hutang Papa, gue nggak mau menambah beban lagi. Tapi, untuk saat ini nggak ada cara lain selain itu.

Namun sebelum menghubungi Eriya, gue harus mempertimbangkan masak-masak terlebih dahulu. Berapa nominal yang akan gue pinjam serta berapa kali gue sanggup mencicil hingga lunas. Hutang gue dengan Bank akan segera lunas, setelah urusan gue dengan pihak Bank selesai maka gue tinggal menyisihkan pendapatan untuk melunasi hutang pada Eriya. Dengan pertimbangan itulah gue akhirnya berani menemui Eriya dan mengungkapkan maksud hati gue. Karena jumlah yang akan gue pinjam cukup besar, gue membawa sertifikat rumah untuk gue jadikan jaminan atas ijin Mama. Kami percaya Eriya tidak akan setega itu untuk menyita rumah kami, tapi gue tetap harus sadar diri dan realistis.

"Lui, pokoknya gue nggak mau terima sertifikat itu!" seperti dugaan gue, Eriya menolak gue beri jaminan.

"Lo harus mau terima ini kalau mau minjemin gue duit. Gue nggak bisa main pinjam tapi nggak ada jaminannya, apalagi yang mau gue pinjam duit banyak," gue memaksa.

"Lui, kita ini udah kayak saudara. Kenapa sih harus selalu sungkan tiap mau gue bantu?"

Kami terus berdebat hingga akhirnya Mama Eriya datang dan menengahi kami. Pada akhirnya gue pulang dari rumah Eriya dengan uang hasil pinjaman dan juga sertifikat rumah. Eriya dan Mamanya kekeh menolak menerima sertifikat itu sebagai jaminan. Entah gue harus merasa senang atau malah merasa semakin nggak enak pada keluarga itu.

Setelah menyerahkan kembali sertifikat rumah ke pada Mama, gue meluncur menuju rumah Malit. Rencananya hari ini gue akan diantar Malit untuk membeli kebutuhan toko. Sedikit banyak Malit tahu tentang kualitas kulkas yang bagus dan mana yang lebih gue butuhkan. Sesampainya gue di Ma Cuisine, Malit meminta gue untuk menunggunya. Daripada menunggu di rumah, gue memilih menunggu di dapur Ma Cuisine. Gue rindu pada suasana dapur dan teman-teman dulu.

"Kamu jadi pergi sama Bu Lita?" tanya Mak Atin.

"Iya, aku butuh saran dan pendapat dari orang lain sebelum beli. Dan Malit adalah orang yang tepat," jawab gue.

"Nanti pas launching jangan lupa undang kita ya," celetuk Bita yang tengah mengupas kentang.

"Iya tuh, jangan lupain kita-kita ya, Lui. Biar nanti kalau kita masuk ke resto kamu, bisa dapat diskon."

"Nanti kalau kamu udah sukses, jangan sombong ya. Kalau ketemu kita pura-pura nggak lihat aja."

Mereka saling melempar candaan yang membuat gue hanya bisa tertawa keras menanggapinya. Suasana penuh keakraban seperti ini pasti akan selalu gue rindukan. Dan gue harap, gue juga bisa menghadirkan suasana nyaman untuk para partner kerja gue.

"Calon Mantu! Ayo berangkat sekarang!" panggil Malit yang telah siap untuk pergi.

"Tuh, udah dipanggil calon mertua, sana gih!"

"Kalian tuh ya!" gue membuat gestur geram, yang tentunya tidak serius. "Aku pergi dulu, kalian baik-baik ya di sini. Nanti aku kabari lagi kalau Luisine udah mau launching."

Dengan di supiri Pak Mahdi, kami menuju ke pusat belanja eletronik terbesar di sini. Selain harga yang lebih murah dibanding dengan toko lainnya, koleksi di toko ini juga lebih lengkap. Malit menerangkan beberapa produk layaknya sales.

"Kamu ambil yang besar buat nyimpen stock di dapur, buat di depan ambil yang agak kecil. Nanti dessert dan kue display sedikit aja, yang penting di dapur ada ready stock," Malit memberi saran.

Gue membeli sesuai yang disarankan Malit. Kami masih terus berkeliling mencari tambahan lain dan baru selesai saat waktunya makan siang. Sebelum pulang, Malit mengajak gue untuk makan siang di sebuah restoran Korea. Gue baru saja memilih menu yang akan gue pesan, saat tiba-tiba sebuah tangan tersampir di pundak gue.

"Ervin? Lo kok bisa di sini?" tanya gue heran, pasalnya baik gue maupun Malit nggak ada yang menghubungi Ervin.

"Gue mau traktir orang kantor buat makan di sini juga, dan kebetulan lihat kalian," jawab Ervin terbuka.

"Kalau gitu ngapain kamu di sini? Sana temenin anak kantor," usir Malit.

"Aku mau makan di sini aja, Ma, bareng Lui. Toh meja kita juga deket kok," Ervin menunjuk ke meja yang hanya selisih satu meja dengan meja kami.

Saat gue mengikuti arah yang ditunjuk Ervin, gue mendapati Roni, Dika dan Wina saling melambaikan tangan ke gue yang gue balas dengan melambaikan tangan juga. "Iya, Vin. Lo mendingan temenin mereka deh. Kan lo yang mau traktir mereka, masa lo malah tinggalin mereka."

"Nggak masalah. Mau gue di sini atau di manapun, tetep gue juga yang bayarin," Ervin mengedikkan bahu dan ikutan memesan menu.

Gue dan Malit nggak mau ambil pusing, jadi kita hanya membiarkan Ervin berbuat sesuka hatinya. Selama makan, percakapan kami di dominasi oleh Malit dan Ervin yang rebutan soal mengantar gue pulang. Gue mencoba menengahi dengan mengatakan bahwa gue akan pulang sendiri naik ojol, yang disambut penolakan tegas oleh keduanya.

"Ma, kan Malit sendiri yang ngebet pengen jadiin Lui sebagai mantu. Ya, harusnya Malit dukung aku dong. Jangan ganggu acara pedekate aku sama Lui, biar aku bisa secepatnya bawa Lui pulang sebagai mantu Malit," Ervin kekeh nggak mau ngalah. Saat ini kami sudah selesai makan, dan mereka masih berdebat.

Reaksi Malit sangat tidak terduga. "Lah iya, kamu bener! Ya udah, Malit pulang sekarang aja. Kamu bawa calon mantu Malit ini ke mana kek, kencan gitu sebelum antar pulang. Jaga baik-baik calon mantu Malit ini!"

Malit berdiri lantas mencium pipi gue lalu mengacak rambut Ervin. Setelah berpamitan pada anak buah Ervin, Malit melenggang pergi meninggalkan kami.

"Pamit mah pamit aja kali, nggak usah ambil jatah anaknya juga," dumel Ervin yang gue nggak ngerti maksudnya.

"Jatah apaan sih?"

"Jatah ini," Ervin menjawil ringan pipi gue. "Ini kan harusnya jatah gue. Seenaknya Malit main nyium elo, gue aja belum pernah."

"Lo kan udah pernah nyuim gue, Vin. Pas di dapur, kita kan ciuman. Lo lupa?"

Ervin sontak memutar tubuhnya menghadap gue. "Lo masih inget?"

Aduh, keceplosan!

Kill me now!



Chef LuiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang