Usaha gue menutupi keterlibatan gue dalam proses membuat Pâtisserie Alsha kembali jaya dari orangtua gue akhirnya terbongkar. Hal itu terjadi karena wanitan sialan itu nekad datang ke rumah saat gue sedang bekerja. Wanita itu berdalih menitipkan rasa terima kasihnya untuk gue. Karena berkat kue buatan gue, kini tokonya kembali jaya seperti saat pertama kali dia merebutnya dari kami.
Malam ini Ervin di telfon Dave yang mengatakan nggak bisa jemput gue. Dave bilang ada sesuatu yang terjadi di rumah. Nomor gue nggak bisa dihubungi karena ponsel gue yang kehabisan daya. Tanpa berpikir dua kali, gue menerima tawaran Ervin untuk mengantar gue. Begitu masuk rumah, gue disambut oleh tangisan pilu dari Mama dan Papa. Dave terlihat kewalahan menenangkan mereka.
"Ini ada apa?"
Mama melihat gue dengan pandangan campur aduk. Ada raut marah, sedih sekaligus penyesalan. Mama nggak mengatakan apapun, hanya memeluk gue sambil terus menangis. Isyarat Papa yang menyuruh gue mendekat membuat gue melepaskan pelukan Mama.
"What makes you cry?"
Papa semakin sesenggukan. "I'm sorry. I'm sorry to make you suffer."
Gue menoleh pada Dave. "What happened?"
"Perempuan itu tadi kesini."
Gue nggak perlu nanya dua kali untuk tahu siapa maksud Dave.
"Mau apa dia kemari!" gue mendadak emosi.
Dave menceritakan, dia baru masuk rumah saat wanita itu mengatakan bahwa gue telah berjasa dalam membuat usahanya kembali jaya. Mama marah mendengarnya, Papa sangat emosi hingga seluruh tubuhnya bergetar. Dave yang melihat itu segera menarik wanita itu untuk keluar. "Sori, gue harusnya bisa lebih cepat pulang dan mencegah hal ini terjadi."
"Jadi benar? Kamu yang membuat makanan untuk toko itu?" Mama bertanya dengan berlinang air mata.
Gue langsung berlutut di kaki Papa. "Maafin Lui, Pa. Lui udah bikin kalian kecewa. Sungguh, Lui nggak bermaksud membantu wanita itu."
Mama menubruk punggung gue. "Mama yang harusnya minta maaf sama kamu, karena kami, kamu harus merendahkan diri dihadapan perempuan itu. Ini semua nggak akan terjadi kalau Mama lebih kuat, kalau saja Mama nggak terpuruk terlalu lama, kamu pasti nggak akan semenderita ini, Sayang."
Papa menarik tangan gue dengan tangannya yang ringkih. "Maafin Papa, membuat kamu banyak menderita. Papa nggak bisa kasih kamu kebahagiaan, justru Papa selalu menjadi beban buat kamu," sesal Papa dengan pengucapan yang sudah lebih jelas dari kemarin-kemarin.
"Nggak! Kalian bukan beban buat aku, tolong jangan bicara seperti itu lagi," gue memohon yang semakin membuat mereka menangis.
Gue masih meminta maaf pada mereka karena gue belum berdaya untuk mundur dari Ma Cuisine dan keterlibatan gue dalam pembuatan pesanan untuk toko wanita itu. Mama hanya menggeleng tanpa suara. Gue tahu banget, Mama sangat membenci wanita itu dan segala tentangnya. Dengan fakta bahwa gue secara nggak langsung turut bekerja untuk wanita itu, Mama pasti lebih membenci dirinya sendiri. Dan reaksi terpukul Papalah yang membuat hati gue benar-benar sakit.
Wanita itu benar-benar sialan! Dia sengaja datang ke sini hanya untuk membuat keluarga gue semakin kacau. Tapi, di sini gue sama sekali nggak berdaya. Gue nggak punya kekuatan buat melawan dia. Disaat keluarga gue merasa bahwa mereka nggak berguna, justru di sinilah gue yang sebenarnya paling nggak berguna. Seandainya gue berani untuk keluar dari Ma Cuisine, seandainya gue punya keahlian lain yang bisa gue gunakan untuk mencari pekerjaan. Sayanganya, semua itu hanya ilusi, karena nyatanya gue hanya manusia nggak berguna yang nggak bisa berbuat apapun untuk melindungi kehormatan keluarga gue.
Sebuah sentuhan di pundak gue mengembalikan atensi gue, Ervin menyerahkan sekotak tisu untuk gue. "Siapa yang ijinin lo masuk kamar gue?"
Di tengah isakan mohon maaf gue tadi, kondisi Papa sempat drop. Dave segera membawa Papa ke kamar seraya meminta Mama untuk mengikutinya. Setelah mereka masuk kamar, gue melangkah gontai dengan pandangan mengabur hingga gue sampai di balkon kamar gue yang menghadap taman belakang. Semilir angin malam membuat hati gue kembali berdesir oleh kepedihan. Mungkin gue terlalu kacau hingga gue lupa mengunci pintu kamar.
"Maaf, gue hanya mau mastiin lo nggak berbuat nekad."
Gue tersenyum sinis. "Sekalipun gue nekad terjun dari sini, gue rasa takdir tetep nggak akan membiarkan gue mati semudah itu."
"Luishara! Jangan bicara yang nggak baik!" tegur Ervin. "Lo kuat, gue yakin lo juga tahu. Lo akan melewati semua ini dengan baik, dan akan menjalani kehidupan yang jauh lebih baik dari ini."
"I hope so"
"Lo pasti bisa. Dan gue akan mastiin lo melakukannya."
"Thank's"
"Jangan menolak tangan gue lagi. Lui, terkadang orang nggak bisa memanjat ke tahapan yang lebih tinggi sendirian, dia tetap butuh bantuan orang yang ada diatas untuk mengulurkan tangan dan menariknya naik. Mungkin sekarang posisi gue ada diatas lo, itu sebabnya gue mengulurkan tangan ke elo, supaya lo bisa naik dan kita akan sejajar. Selanjutnya gue yang akan dorong lo untuk naik lebih tinggi lagi, dan lo akan melakukan hal yang sama ke gue. Sampai kita menempati tempat yang sesuai, kita bisa terus bekerja sama."
Jujur, gue terharu mendengar perkataan Ervin. Meski ego gue sedikit terusik, tapi hati gue membenarkan ucapan Ervin. Gue memang nggak seharusnya mempertahankan gengsi gue yang setinggi langit, ada kalanya gue harus berbesar hati menerima uluran tangan orang lain. Dan uluran tangan Ervin kali ini akan gue sambut dengan sebuah genggaman erat.
"Lo mendingan sekarang istirahat. Mama sama Papa biar diurus gue sama Dave. Untuk malam ini, gue boleh kan nginep di sini? Gue khawatir Papa drop lagi."
Gue agak ragu mengijinkan Ervin, tapi karena kondisi Papa saat ini memang cukup mengkhawatirkan maka gue pun mengangguk. Ervin mengusap rambut gue sebelum pergi.
"Jangan mikirin kejadian buruk sebelum tidur, nanti kebawa mimpi. Jangan mau rugi dua kali karena mengalaminya di kenyataan sekaligus mimpi."
Nasehat dari Ervin itu yang sedang gue coba terapkan. Gue nggak mau rugi dua kali, makanya gue mulai mengalihkan pikiran gue ke masa di mana gue masih sekolah di Le Golden. Sukses, suasana hati gue sedikit membaik. Tapi imbasnya perut gue jadi lapar, karena mengingat apa saja yang pernah gue masak di sana.
Gue berjalan menuruni tangga dengan ukiran rumit sebagai pagarnya. Terlihat Ervin dan Dave tengah bertukar cerita di sofa ruang keluarga. Mereka kompak menoleh ke arah gue.
"Kenapa, Lu?"
"Gue laper," jawab gue seadanya.
Gue terus berjalan ke dapur dan mengambil sebungkus mie instan. Dibalik musibah yang gue alami, gue mendapat hikmah sebuah pengetahuan yang sangat penting. Bahwa, makan mie instan tengah malam dengan ulekan cabai rawit dan potongan sawi serta taburan bawang goreng, ternyata sangatlah enak. Dulu gue mana boleh mengkonsumsi makanan ini. Fakta ini yang gue dan Dave sesali, karena makanan seenak ini telah kami lewatkan bertahun-tahun lamanya.
"Gue juga laper, buatin buat gue sekalian." Ervin turut mengambil mie dari lemari atas. Gue mengambil mie dari tangan Ervin dan menggabungkannya dengan punya gue.
"Kok gue nggak dibuatin juga?" Dave yang ikutan nyusul ke dapur pun protes.
"Lo kan bisa bikin sendiri."
"Lah, kak Ervin juga bisa bikin sendiri, tapi tetep lo buatin. Ini namanya nggak adil!"
"Gue kan bukan pemerintah yang kudu adil."
"Udah dek, lo mendingan tidur deh," saran Ervin.
"Enak aja, gue juga mau makan mie!"
"Ya kalo gitu, lo bikin sendiri lah!"
"Lo juga bikin sendiri harusnya, Kak!"
"Lui mau kok masakin buat gue."
"Kak Lui, lo juga harus mau masakin buat gue!"
Perdebatan mereka bener-bener mengganggu pendengaran gue. Gue menyerahkan pisau yang gue gunakan untuk memotong sawi pada Ervin dan seikat sawi pada Dave.
"Kalian yang masak, gue tunggu di depan!" putus gue final sembari meninggalkan mereka yang kini saling menyalahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
CintaLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
