Ervin sampai tepat pukul satu siang, saat kami sedang menyantap makan siang kami. Tanpa tahu malu dia ikut nimbrung makan bersama kami. Eriya yang baru kali ini melihat Ervin pun terlihat terkesima dengan penampilan Ervin. Gue akui, hari Ervin memang terlihat lebih charming dari biasanya.
"Eh, siapa tuh? Pacar lo?" bisik Eriya menunjuk Ervin.
"Bukan! Dia anak bos gue, lo masa kenal ibunya tapi nggak kenal anaknya?" jawab gue berbisik pula.
"Lah, gue kenal ibunya juga kan karena nyokap gue langganan kateringnya. Selain itu mah gue nggak tahu."
"Eh, tapi kok kalian bisa langsung dekat. Nggak mungkin kalau nggak ada something di antara kalian," Eriya mulai kepo.
"Fyi, dia tuh temen gue jaman SMA dulu. Bukan temen langsung juga sih, cuma kita pernah sekelas," gue masih merasa terlalu aib untuk menceritakan kelakuan gue ke Ervin dulu.
"Wow, jodoh itu namanya," Eriya berbinar.
"Nggak nyambung, Eriya!"
Eriya terkikik pelan. Saat gue melirik Ervin, saat itulah dia sedang mengawasi kami. Lengan gue kembali disenggol Eriya.
"Kenalin boleh lah ya, buat nambah temen."
Gue mengangguk. "Vin, kenalan nih sama temen gue. Namanya Eriya. Dia temen gue dari SMP, kita beda SMA tapi satu universitas sebelum gue ke singapore."
Eriya menginjak kaki gue keras. Dia melototi gue seraya tangannya mencoba mencubit lengan gue. Gue sontak menghindar.
"Nggak segamblang itu juga, Luisharaaa!" desis Eriya gemas.
Gue tertawa melihat wajah Eriya yang memerah. "Gue cuma ngelakuin apa yang lo minta."
Dave tertawa keras sementara orangtua gue terlihat geli. Ervin menatap gue tajam yang gue bales dengan kode agar mengajak Eriya bicara.
"Hai, gue Ervin," sapa Ervin ke Eriya kaku.
Gue hampir menyemburkan nasi di mulut gue melihat kelakuan tak biasa Ervin. Ke mana sikap tengilnya tadi?
"Gue Eriya," bahkan Eriya pun membalas canggung.
Keadaan menjadi sedikit canggung. Eriya seolah kehilangan kata untuk melanjutkan obrolan, sementara Ervin terlihat cuek. Keheningan ini dipecahkan oleh Dave yang melontarkan pertanyaan basa-basi. Anak itu terbilang cepat peka dengan keadaan.
"Suasana di sini nyaman banget. Next, boleh lah kita main kesini lagi ya, Kak Er?"
"Eh, tentu. Papa bilang, kalian boleh main ke sini kapan aja. Jangan sungkan," Eriya sedikit terkejut mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Dave.
"Nginep boleh?" Dave excited.
"Boleh dong, tinggal kabarin pak Awan aja. Beliau yang ngurusin villa ini."
"Yes, liburan semester besok, gue mau nginep sini ya, Kak?" Dave minta ke gue.
"Boleh, sendiri tapi," sahut gue nggak minat.
"Ogah, kalau Mama Papa nggak ikut, minimal sama elo lah!"
"Dih, badan doang gede, aslinya penakut," ledek gue yang disambut tawa semua orang kecuali Dave.
"Yah, Kak. Gue ngeri aja, kalau gue nginep sendirian di sini, tuh mbak-mbak dan mas-mas berwajah pucet bakal gercep ndeketin gue. Secara gue kan ganteng, ramah, enak diajak ngobrol. Beda kalau ada lo, jangankan mendekat, yang ada baru liat lo doang langsung ngibrit mereka."
Semua orang tertawa keras mendengar guyonan Dave. Gue mengumpat tanpa suara pada Dave.
"Tenang aja, ntar gue temenin," sambar Ervin. "Gue juga boleh kan nginep di sini bareng mereka?" tanyanya pada Eriya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chef Lui
RomanceLuishara sudah lama ingin menyerah dengan kehidupannya yang kacau akibat ulah ayahnya, hingga dia harus mengubur mimpinya untuk menjadi chef. Tapi, bagaimana pun dia berusaha, pada akhirnya dia tetap kembali pada keluarga dan kehidupannya yang menye...
