Sungchan tergesa gesa, memaksa kaki pincangnya berlari menuju gerbang sekolah
"5 menit lagi"
Dan jarak sekolah masih 300m lagi. Sesekali ia meringis karena kakinya yang membiru terus dipaksakan berlari
"duh, mana sakit lagi" keluhnya
Matanya membulat saat pintu gerbang ditutup oleh salah seorang satpam
"pak! Bukain dulu, pak! Pak, pak satpam!"
"kenapa telat?" sinis satpam tadi
"kesiangan, masak buat bekal, sama taksinya ga ada. Bukain dong, pak"
Memang benar apa yang dikatakan Sungchan tadi. Ditambah ia harus membersihkan kamar mandi lantai 1 yang masih kotor sejak kemarin
"alasan saja kamu! Tunggu guru kesiswaan datang!"
Nasib buruk bagi Sungchan. Ia memang diperbolehkan masuk. Tapi setelah merapikan satu rak penuh buku di perpustakaan dan berlari memutari lapangan belakang sekolah berukuran hampir 30x10 m²
Matanya mulai berkunang kunang. Sedikit pasang mata melihatnya iba karena berlari di tengah terik matahari. Mungkin yang berpasang pasang mata lainnya dari makhluk makhluk yang sebisanya ia hindari
"bantu aku!"
Pusing semakin menderanya
"tolong, bantu aku"
Entah itu halusinasinya atau bukan. Tapi ia melihat sosok perempuan setinggi telinganya tengah menatapnya penuh harap. Jangan lupakan kakinya yang tidak terlihat
Hingga sedetik sebelum ia jatuh, sebuah tangan kecil berusaha menariknya agar tidak terjerembab, meski gagal karena tubuh tingginya itu
"TOLONGGG~"
.
Bau minyak angin menyeruak ke indra penciumannya. Sungchan mengerjapkan matanya pelan hingga mendapati sosok Jisung dan Yohan berdiri menatapnya
"kak! Kakak pusing? Sakit? Ga enak badan? Gimana? Bilangin sama Jisung!" cerca adik kembarannya itu
"ga papa. Cuma lemes aja"
"kakak belum sarapan kan? Maafin Jisung. Tadi kata bunda kakak udah duluan. Ga taunya masih di rumah!"
Sungchan terkekeh
"apaan sih. Ga papa. Liat Yohan, keliatan ngeri liat kamu cerewet"Benar saja, Yohan sedikit bingung dengan sikap Jisung yang kelewat overprotektif pada kakaknya
"oy, bangun lo?" sahut Chenle yang baru datang
"kok lama?"-Yohan
"halah, nak kelas laen datengnya barengan. Makanya gw ngalah"
"kemana?"-Sungchan
"tadi kesiswaan minta data nya siswa kelas 10. Punya kakak udah Jisung isi" jawab Jisung
"ohh"
"btw, kok kalian lahirnya ga bareng?"
Pertanyaan Chenle membuat Sungchan diam
"beda 5 bulan ya?""iya. Kok bisa? Kan kembar?"
Yohan benar benar ingin merutuki mulut Chenle yang kelewat lancar berbicara setelah melihat raut wajah Sungchan dan Jisung
"diem, Le!" bisik Yohan penuh penekanan
"itu biasa di dunia kedokteran. Kita beda plasenta" jelas Jisung singkat
"oh, gitu? Masa iya? Malah lo sama Yohan yang sama tanggalnya"
Plak
"yaudah sih gw ga minta juga" desis Yohan setelah menggeplak kepala Chenle karena gemas

KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Boy
Fanfiction"b-bunda, Sungchan takut..." "kak, Jisung temenin yah. Tapi jangan kasih tahu Jisung gimana bentuknya. Jisung juga takut" Si lelaki dengan tinggi semampai yang takut melihat hal dari dunia lain karena mendiang kakaknya sendiri. Hanya berbekal cicita...