46. Finally

409 47 0
                                        

Nara terisak
"Plis, aku udah relain kamu. Jangan bikin aku mikir dua kali, hiks..."

Cekalannya terlepas, sebelum teriakan Jisung menggema ke sudut ruangan

"KAKAK BANGUN!"

Sontak saja Nara membalikkan badannya kembali. Dan mendapati dada Sungchan yang masih naik turun teratur. Ia bernafas

"SUNGCHAN!" pekik Irene disambut air matanya yang meloloskan diri keluar dari pelupuk matanya

Nara dipeluk erat oleh Yoona. Tapi ia masih bergeming. Tak ada tanda tanda ia senang atau histeris, bahkan air mukanya kosong. Hanya setitik air matanya turun kembali membasahi pipi tembamnya

"Itu-"

Irene mencium pipinya beberapa kali
"Makasih, nak"

"Sungchan-"

Nara masih tidak bisa berkata kata. Hingga Taeyeon berbalik dengan wajah tak kalah sembab sembari berkata
"Sungchan selamat. Ia kembali. Dan semua adalah keajaiban"

Nara memekik kaget dan langsung membalas pelukan Irene
"Bunda Irene..."

"Iya, sayang. Makasih, ya"

Angan angan kecil itu seperti tertanam kuat di pikiran Nara. Dimana detik ia merelakan dan kehilangan, tapi keduanya enggan pergi dari dirinya

Netranya menatap lekat sosok yang hampir sebulan lebih ia tunggu masa masa seperti ini bersamanya

Semenjak hujan malam itu

Di gang itu

Berbagai macam fakta yang menyertainya

Dan malam dimana ia menjadi saksi sang ayah menjadi penjahat jalanan dengan korban yang baru saja ia temui

Tak terasa air matanya turun sendiri. Padahal ia tak merasa sedih ataupun bahagia berlebih saat ini

Hanya saja ia masih diambang kebingungan sejak semalam. Dan sejak semalam pula matanya tak lepas dari sosok yang terbaring dengan oksigen di kedua lubang hidungnya itu

"Hey"

Nara tersentak. Lantas mengulas senyum. Senyum yang ia tampakkan setelah sebulan lebih hilang ditelan bumi
"Hm?"

Sungchan menggeleng
"Kenapa?"

Nara ikut menggelengkan kepala
"Mau apa? Laper? Haus?"

Si empu masih menggeleng. Kini tatapan lemahnya menangkap gerak gerik Nara yang sedikit mati gaya baginya

"Toilet? Biar aku panggil perawat dulu, ya"

Nara yang beranjak dari duduknya kembali terhempas ke kursi karena cekalan Sungchan

Ia menoleh
"Kenapa?"

"Lo ga makan?"

Gadis pendek itu terpaku. Ia de Javu. Sejak kapan ia memakai kosakata 'aku' pada Sungchan?

Nara masih terdiam. Ia baru ingat, sejak kemarin sore tak satupun makanan masuk dalam perutnya. Terlebih rasa laparnya lenyap seketika

"Gw-"

"Makan"

Nara mengeryit
"Apa?"

"Makan itu. Makan roti itu. Gw ga suka keju" ucap Sungchan lembut

Nara beralih pada sepotong roti yang mungkin dibawakan perawat tadi
"Tapi kan punya Lo"

"Gw ga suka keju, Ra. Makan aja. Ga alergi, kan?"

Indigo BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang