Jeno dan Nara masuk ke dalam rumah yang kondisinya sepi seperti tak berpenghuni. Entah kemana papa mereka pergi di teriknya sore menjelang senja itu
"Papa pergi, kak?"
Jeno mengedikkan bahu
"Ga tau. Dia ga ada hak minta izin ke kita"Nara mengeryit. Kenapa Jeno begitu acuh? Tidak biasa biasanya ia seperti itu. Bahkan langsung menutup rapat pintu kamarnya sendiri
Nara memilih merelakskan sedikit pikirannya
Sungchan
Lelaki itu nampak sangat rapuh. Menangis sesenggukan di depan jasad Jungwoo. Meski tatapannya mengosong saat jasad Jungwoo dimakamkan
Ia merogoh tas selempang kecil guna mencari ponselnya. Tapi tangannya malah menemukan memori Sungchan yang tidak disentuh si empu tadi. Ia tahu, jika memori itu kenangan satu satunya Sungchan pada mendiang Jungwoo
Ia melanjutkan ritual mandinya tak lebih dari 15 menit. Dan saat keluar, sosok Jeno sudah duduk di ranjangnya sembari menelisik memori berwarna perak milik Sungchan tadi
"Ini punya Sungchan, kan?"
Nara mengangguk
"Iya. Dia ga mau ambil. Nanti malem kalo papa ga pulang aku balikin ke rumahnya. Sekalian liat gimana keadaannya"Jeno mengangguk, laku menarik tangan sang adik kesisinya
"Duduk"
Yang lebih muda mengerutkan kening
"Kenapa? Mau ngomong apa?"Jeno menghela nafas beratnya
"Ra, kita ga bisa disini"Nara semakin menunjukkan logat jika dirinya bingung dengan topik pembicaraan sang kakak
"Maksudnya?"
"Kita harus pergi dari sini"
"Y-ya tapi kenapa?"
Jeno menatap lekat lekat memori yang masih ia genggam. Air mukanya kusut melebihi saat di pemakaman tadi
"Kita ga ada hak disini. Lagian pria itu udah ga ada hubungannya sama kita"
Nara menepuk pelan paha Jeno
"Bicara yang bener"Jeno berdecak
"Ra, orang tua bakal ikutan sakit liat anaknya menderita. Minimal simpati. Tapi papa? Dia malah siksa kita""Bisa aja kan papa lagi capek kerja"
"Jangan terpaut sama satu alasan aja. Ga mungkin papa yang jabatannya seorang manager perusahaan sampe ga ada waktu luang walaupun cuti"
"Kak-"
"Lo liat Sungchan? Bundanya yang siksa dia baru sepuluh tahun aja berubah, Ra. Bundanya sayang banget sama dia sekarang. Dan harusnya papa juga gitu. Kakak ga minta aneh aneh, kakak cuma minta hak hak kita ke papa. Cuma satu, anggap kita hidup. Kita manusia. Punya perasaan, punya hati, punya batas kesabaran, dan punya waktu buat kita melawan semuanya. Mungkin Sungchan ga sampe ditahap melawan, tapi kita? Kita malah harus lebih jauh lagi, Ra"
"Kak, plis. Kenapa pikiran kakak segini pendeknya?"
Jeno langsung menatap netra adiknya dengan tatapan menusuknya
"Kita bukan anak kandung Lee Donghae"
Nara menjatuhkan handuk yang ia pangku
"Jangan bercanda"Jeno menggeleng
"Kakak ga mungkin sebercanda ini tentang kita yang emang bukan anak kandung papa, Ra. Kita ga ada hubungan darah sama papa. Sejak kecil"Nara masih berusaha sadar dengan kenyataan yang ia ketahui dari Jeno
"Kakak bilang gini pasti ada alasannya kan? Atau bukti?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Boy
Fanfiction"b-bunda, Sungchan takut..." "kak, Jisung temenin yah. Tapi jangan kasih tahu Jisung gimana bentuknya. Jisung juga takut" Si lelaki dengan tinggi semampai yang takut melihat hal dari dunia lain karena mendiang kakaknya sendiri. Hanya berbekal cicita...