45. It's real?

396 44 3
                                        

Nara terus melangkahkan kakinya yang mulai pegal ke salah satu ruang VVIP di lantai 3 rumah sakit besar itu. Bunga Lily putih yang sempat ia bawa tadi ia genggam erat erat. Tak mungkin ia melepaskan barang sespecial itu. Apalagi itu bunga yang ia percaya melambangkan kehidupan

"Bertahan... Kumohon"

Mulutnya terus menggunakan kata yang dirasa cukup membuatnya tenang. Tapi yang ia rasakan malah ia yang semakin kalut dengan keadaan Sungchan

Tak sampai 50 meter lagi ia sampai di ruang yang ia tuju. Seorang suster datang dan masuk dengan troli obat obatan yang didorong. Ia harus masuk apapun yang terjadi

"SUNGCHAN!"

Nara melemas. Badannya seperti dipaku erat dengan lantai yang ia pijak

Sungchan

Lelaki itu tengah berjuang hidup dan mati dengan berbagai tindakan yang Taeyeon lakukan. Di sudut lain, kakak kembarnya, orang tuanya, Jeno, dan Irene hanya mampu menatap Sungchan dengan pandangan penuh harap

Bahkan mesin EKG yang sudah menunjukkan garis putus putus pun masih tak membuat Nara beranjak dari tempat ia berdiri

Irene pingsan, Yoona lemas, dan kakak kembarnya memalingkan wajah. Sungchan pergi

"Maaf, tapi Sungchan-"

Grep

Nara memeluk erat tubuh Sungchan yang mendingin itu
"Hey, bangun. Jangan tidur. Aku disini. Buka mata kamu, ya?"

Nara mengguncangkan wajah Sungchan
"Aku bilang bangun. Jangan bikin aku khawatir. Buka matanya ya. Kamu jangan tidur"

Nara terus berusaha membangunkan sosok yang terbaring di ranjang rumah sakit

"Nara, relain Sungchan, ya?" Lirih Taeyeon

Nara menatap Taeyeon dengan wajah sembabnya
"Dok, coba cek lagi ya. Sungchan ga mungkin meninggal gini. Dia udah janji sama aku ga bakal kemana mana! Dia udah bilang buat percaya sama dia! Kalo dia bilang gitu, artinya dia ga bakal bohong, dok!"

Taeyeon membawa bahu Nara untuk berdiri
"Sungchan udah ga ada. Biarin dia tenang, ya. Kamu yang kuat. Kita lepas alat medisnya dulu"

Nara mendelik
"DAN BIARIN SUNGCHAN MENINGGAL?! NGGAK! NGGAK AKAN PERNAH! KALO GINI BERARTI DOKTER YANG PENGEN SUNGCHAN MENINGGAL!"

Tiba tiba ia sedikit pusing. Ia merasa de Javu dengan apa yang ia ucapkan. Bahkan ia ingat benar jika ia tidak mengucapkan itu. Apa mungkin itu yang ia ucapkan saat bermimpi Sungchan kritis? Sayangnya tak selarik kalimat pun yang dapat ia ingat

"Ra, jangan gini" gumam Jeno

Nara abai. Tangannya meraih Lily putih yang terjatuh, dan meletakkannya di atas bantal Sungchan. Tangannya merogoh tas selempang kecil dan menarik sebuah liontin salib perak dari dalamnya

"Mau denger cerita?" Nara menggenggam erat tangan Sungchan yang masih sedikit hangat baginya. Membawanya ke dekapan sendiri

"Kamu tau? Kak Jungwoo minta aku buat bilang ke kamu, dia pengen dokter Taeyeon kamu panggil mama. Kaya dia panggil dokter Taeyeon

Sehari sebelum kak Jungwoo meninggal dia bilang gitu. Dan dia kasih liontin salib ini ke kamu. Kamu mau pake kan? Tapi kak Jungwoo bilang buat pakein ke kamu kalo kamu bisa bertahan sama penyakit kamu. Dia percaya kamu kuat, Chan. Kamu- kamu juga udah janji kan di gang itu, kalo kamu ga bakal pergi?"

Entah sejak kapan kosakata 'gw lo' Nara berubah menjadi 'aku kamu' disituasi segenting ini

Nara masih memandang lekat Sungchan yang terus menutup matanya seakan enggan membukanya barang sedetik pun

"Kamu udah ketemu siapa aja disana? Beneran ga mau buka mata? Aku udah disini. Bawain bunga Lily putih. Si pelambang kehidupan. Kamu suka kan? Hey, bangun, yuk. Kamu buka mata kamu itu. Jangan tidur"

Yoona membawa Nara ke pelukan hangatnya
"Ikhlasin ya, sayang"

"Bunda, bunda bilang Sungchan kuat. Sungchan ga gampang nyerah. Tapi dia ga mau bangun, Bun"

Nara menatap sekitarnya. Jeno dengan tatapan kosongnya, dan Irene yang sudah sadar di dekapan Jeno

"Kenapa nangis? Sungchan ga pergi! Kalian juga tau kan seberapa kuat dia selama ini? Kenapa pesimis?! Mana keyakinan kalian kalo Sungchan ga pergi! Yakinin dia kalo dia masih dibutuhkan disini! AYOK!"

Nara histeris. Bahkan ia sesenggukan saat alat yang tertempel di dadanya dilepas satu persatu

"Kenapa diem? Kamu mau biarin mereka cabut alat itu? Kamu ga butuh? Kalo nggak, bangun sekarang! Kenapa diem aja?!"

"Sayang, jangan gini, nak. Kasian Sungchan" gumam Suho. Meski ia sendiri ingin meraung sekeras mungkin melihat sosok remaja yang sudah setinggi dirinya terbaring untuk selama lamanya

"Ayah, ayah tau gimana kuatnya Sungchan! Kenapa ayah nangis?! KENAPA?!"

Nara mengguncangkan bahu lebar Suho. Si empu menarik tubuh mungil Nara ke dekapannya

"Jangan nangis. Sungchan udah seneng ketemu sama Jaemin, sama Jungwoo, sama Nakhyung juga. Kamu ga bisa suruh dia disini sedangkan dia udah seneng diatas sana"

Semuanya tau bagaimana kilas balik masa lalu Suho, Irene, Yoona dan Donghae. Mungkin mereka ingin Sungchan juga tau, tapi Jeno selaku yang bisa berkomunikasi dengan Jaemin mengatakan jika Jaemin sendiri yang akan memberi tahu Sungchan

"Tapi Sungchan ga boleh pergi, yah. Sungchan ga boleh pergi. Hiks... Salah kalo Nara pengen itu?"

Suho menggeleng. Terus mengusap punggung sempit Nara
"Nggak salah. Bahkan Nara nangis pun ga salah. Tapi Nara harus biarin Sungchan seneng juga. Dia juga pengen bahagia. Dan bahagianya ada di atas sana"

Nara menggeleng di dada Suho. Mengusap wajahnya di kemeja abu sang ayah
"Nara yakin Sungchan masih inget Nara. Nara mimpi Sungchan panggil Nara. Nara ga salah sama sekali. Biarin dia bertahan sebentar lagi, yah. Biarin dokter cek keadaannya lagi, hiks hiks..."

Suho menuntun Nara ke bankar Sungchan
"Jangan nangis. Pamit sama dia. Biarin dia bahagia juga ya. Jangan egois. Sungchan udah lelah disini, sayang"

Nara melangkah pelan, menggenggam erat tangan Sungchan yang mungkin masih bersuhu sama
"Beneran pergi, ya? Udah ketemu sama kak Jaemin? Kak Jungwoo? Kakak perempuan kamu? Kamu seneng banget kayanya diatas sana"

Nara mengecup pelan dahi Sungchan yang tertutup rambut yang memanjang. Air matanya menetes mengenai pipi tirusnya

"Kamu inget inget ya. Gimana kita ketemu, gimana kamu masuk dalam kehidupan aku. Satu yang harus kamu tau, kamu ga pernah sekalipun ngerepotin, malu maluin, apalagi ga berguna disini. Kalo ada yang bilang gitu, pergi. Pergi ke tempat dimana kamu dihargai dan dibutuhkan. Bukan yang peduli. Oke?"

Bibir Nara menahan Isak tangisnya
"Have a nice dream, deer"

Nara membalikkan badan, sebelum sebuah tangan mencekalnya dengan lemah. Sangat lemah














































































"Ra..."



















Hohoo😭jadilah seperti ini 🤗
Voment juseyo💚 maap kalo ga ngefeel. Karena aku buatnya malem malem mau tidur. Rada ngantuk juga ternyata😅


Indigo BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang