"jaga rumah ya. Kita pulang besok pagi kok"
Suho memasukkan sekoper keperluannya dan Yoona selama menjemput nenek kedua anaknya ke dalam bagasi mobil
"beneran besok ya?"
Jisung memicing. Ia sangat sangat malas jika ditinggal pergi kedua orang tuanya
"iya iya. Ada kakak kamu juga kan? Hari ini sabtu, besok minggu. Kalian bisa main sepuasnya di rumah. Tapi awas kalo ketahuan begadang semaleman"
"nanti makannya masih ada sampe nanti malem. Besok baru masak" imbuh Yoona
Jisung mengangguk
"iya. Salim dulu"Sungchan datang dengan dua kotak bekal ditangannya
"buat ayah sama bunda. Biar ga repot repot cari makan di luar sana. Maaf cuma seadanya aja"
Yoona menatap intens ke arah Sungchan. Lugu. Polos. Penurut. Dan yang terpenting, Sungchan bukan orang pendendam. Tak pernah ia bayangkan jika anak itu masih mau menganggapnya bunda karena kejahatannya tempo hari
"kok bengong sih? Terima itu nasinya" sahut Suho
Yoona tergagap. Ia buru buru meraih dua kotak di tangan Sungchan
"makasih"Dan Yoona langsung menutup pintu di samping kemudi
"ayah berangkat, ya? Jisung awas ngerepotin kakak. Ayah cubit besok pagi" ancam Suho
"masih besok pagi kan?" polos Jisung membuat Suho ingin segera keluar dari circle kepolosan anak bungsunya itu
Sungchan berjalan ke arah Suho, menjabat tangannya
"hati hati, yah""kamu juga, ya"
Sungchan mengangguk. Ia lantas berjalan ke sisi kaca kemudi. Mengetuknya hingga kaca turun perlahan
Sungchan mengulurkan tangan, dibalas tatapan bingung Yoona
"salim. Bunda hati hati, ya"
"i-iya"
Mobil melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah. Juga meninggalkan dua kakak beradik dengan perasaan yang berbeda pula
"AAKKKK!"
Sungchan berjengit. Merangkul erat leher Jisung dari samping, dan mengecup pipinha tiada henti
"YA YA YA! JANGAN CIUM AKU, KAK! HIHHH, DIEMM!"
Sungchan berhenti. Ia langsung mengembangkan senyum terlebarnya
"ikut kakak yuk"
"kemana?!" Jisung masih tidak terima pipinya diperawani kakaknya sendiri
"beli bahan makanan buat besok. Pulang beli es krim sama harum manis"
"5 menit!"
Keduanya segera pergi berganti baju. Tak butuh waktu lama. Sebab Jisung hanya merapikan rambut dan mengambil ponselnya. Sedangkan Sungchan hanya mengambil uang yang ia butuhkan
"ehhh, tunggu!"
"kenapa? Ga ikut?"
Jisung menelisik kaus hitam yang dikenakan Sungchan
"INI DARI SIAPA COBA?!"Sungchan tersenyum smirk
"kepo deh. Yuk ah. Pake sepeda gunung aja""yang roda dua itu?!"
"ya kan emang semuanya roda dua! Ga bisa? Cemen amat! Kakak bonceng"
"iya, Jisung nurut kok"
Sungchan bergidik melihat sikap sok polos Jisung, yang ia yakini muncul secara tiba tiba

KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo Boy
Fiksi Penggemar"b-bunda, Sungchan takut..." "kak, Jisung temenin yah. Tapi jangan kasih tahu Jisung gimana bentuknya. Jisung juga takut" Si lelaki dengan tinggi semampai yang takut melihat hal dari dunia lain karena mendiang kakaknya sendiri. Hanya berbekal cicita...