Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Perihal izin

58.7K 4.7K 983
                                        

Vote dulu dong, biar abangku bangga😇

*****

Shaka berhenti pada sebuah rumah besar di hadapannya. Tangan satunya masih memegang koper yang sedari tadi ia bawa. Melihat rumah di depannya hampir dua tahun tak berpenghuni ia jadi merinding. Namun, tak ada pilihan lain. Ini salahnya karena terlalu antusias untuk kembali ke Indonesia setelah ia dikatakan sudah sembuh dari penyakit yang di deritanya.

Shaka rindu dengan suasananya, Shaka rindu dengan ketiga sahabatnya. Dan, Shaka juga rindu dengan...Dia.

"Gak ada setannya kok, Shaka. Masa gitu aja takut." Cowok itu bergumam pelan. Naas sekali nasibnya, cowok itu mulai membuka gerbang, ia menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan melalui mulut.

Setelah kakinya memasuki ruang utama pada rumah, ia seakan ingin berteriak saking rindunya dengan suana tersebut. "Akhirnya, Tuhan…"

Cowok itu membuang tubuhnya pada Sofa. Ia merogoh saku celananya, ketika kembali berdering. Setelah tau siapa yang menghubunginya ia kembali terkekeh. Mamanya lagi. Ia paham, tak ada seorang ibu yang tidak menghawatirkan anaknya. Shaka menggeser logo hijau pada ponselnya.

"Halo Mama." Sapaan pertama keluar dari mulutnya.

'Sudah sampai, sayang?'

"Udah dong."

Beberapa menit dirinya terlarut dengan pembicaraan Mamanya. Sesekali ia hanya membalas, Iya Ma, gak usah khawatir, iyaa hingga akhirnya di tutup dengan salam perpisahan.

"Waalaikumsalam." Setelah panggilan terputus cowok itu berdiri, namun pergerakannya terhenti ketika ponselnya kembali berdering. Ia membalik ponselnya, menemukan nama Vanya yang ia ganti menjadi 'Tikus kesayangan' yang tertera di layar ponselnya.

Buru-buru ia mengangkatnya, entah curhatan apalagi yang akan cewek itu perdengarkan padanya.

"Cewek Tikus?" katanya terkekeh. Tak ada nada sebel yang ia dengar membuat kerutan muncul pada dahinya. "Van?"

"Shaka..." Nada lemah masuk ke telinganya. "Gue bodoh yah?"

🦋🦋🦋

Gladis kira Vanya akan membencinya. Gladis kira Vanya tidak mau lagi berbicara dengannya. Gladis kira Vanya marah besar kepadanya. Tapi, itu semua hanya ketakutannya. Nyatanya, Vanya bisa melawan luapan emosi dalam dirinya. Vanya dan segala sikap dewasanya.

Beberapa menit Gladis menginjakkan kakinya pada lantai rumah minimalis tempat yang ia tinggali beberapa menit juga helaan nafas keluar dari mulutnya. Cewek itu baru saja mengganti pakaian seragam sekolahnya. Dan kini berniat ingin membuat makan siang untuknya dan juga Daffa. Oh Iyya, untuk laki-laki itu Gladis tak tahu harus bersikap apa. Nyatanya ia masih dibuat kaget oleh tindakan cepat yang laki-laki itu lakukan tadi.

Mengakui hubungannya dan benar-benar melepaskan Vanya.

Entahlah, Gladis dibuat tercengang sesaat dengan kejutan tadi. Cewek itu memasuki area dapur, sesaat dia terdiam. Setelah itu ia menepuk jidatnya pelan.

"Pulang sekolah ke anak-anak," gumamnya. Gladis menjentikkan jarinya. Karena Daffa belum pulang sampai sekarang. Entah kemana laki-laki itu, ia ingin mengechatnya dulu untuk meminta izin. Bukan apanya, statusnya sudah berubah sejak berapa bulan yang lalu.

Gladis membuka roomchat untuk mengabari laki-laki itu.

Daffa
Daf
Daffa
Daffa

KENAPA HARUS DIA? (New Version)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang