(masih) Day 2

3.3K 441 75
                                        

Haaaiii..
Ini masih lanjutan dari chapter sebelumnya, yaa.. ga tau juga kenapa jadi panjang banget sampe harus dipisah² gini.. bahkan ini aja belum selesai, jadi chapter berikutnya masih Day 2 yaa..

Boleh minta voment-nya, kakak? 😚🙏🏽

-
-
-

"Mih! Kak Mark pulang bawa pacar tuuuhh!" Teriakan itu yang pertama kali menyambut mereka kala baru saja memasuki rumah yang lebih pantas disebut Mansion itu.

Haechan sempat melotot kaget kala Mark mematikan mesin mobilnya di pekarangan yang lebih cocok disebut lapangan karena luasnya sama dengan lapangan indoor kampus mereka.

"Gila," mulutnya tak bisa dicegah untuk mengumpat melihat rumah bergaya modern minimalis, tapi tidak ada mini-mininya sama sekali.

Rumah itu didesain elegan dengan warna abu-abu dan putih gading di tampak depannya. Seperti rumah-rumah yang sering ia lihat dalam serial televisi yang biasa ia tonton.

Hingga Mark akhirnya menggenggam tangannya, menuntunnya ke dalam rumah. Dan wajah cantik Lami --Adik Mark-- lah yang pertama kali Haechan lihat setelah pintu kayu itu dibuka.

Tak lama setelah teriakan Lami yang memenuhi ruangan, terlihat seorang wanita yang sangat cantik, wajahnya seperti boneka Barbie yang selalu Haechan mainkan saat masih kecil. Cantik sekali, apa dia artis? Pikir Haechan, bagaimana bisa ada wanita secantik ini di dunia?

"Aigoo, cantik sekali." Haechan masih belum bisa memproses apa yang terjadi kala tubuhnya ditarik ke dalam pelukan wanita cantik yang baru saja menyebutnya 'cantik'. Astaga, apa tidak salah?

"Saya Irene, Mamihnya Mark. Kamu pasti pacarnya Mark, 'kan?" Kata Irene setelah melepas pelukan sepihaknya, lengkap dengan senyum ramahnya. Astaga, apa manusia secantik ini benar-benar eksis di dunia? Sepertinya Haechan masih terpesona dengan kecantikan Ibu dari Mark.

"Chan," tepukan pelan Mark di bahunya menyadarkannya, dan langsung membungkuk hormat.

"Ha-halo, selamat siang, Tante. Saya Haechan, Kim Haechan. Seneng banget bisa ketemu sama Tante." Berusaha memasang senyum terbaiknya, Haechan masih menatap penuh kagum sosok di depannya.

"Ih, jangan panggil Tante, panggil aja Mamih. Oke?"

Haechan sempat melirik Mark yang mengangguk sebagai isyarat sebelum akhirnya ikut mengangguk, masih dengan senyum lebarnya.

"I-iya, Mamih."

Haechan hanya bisa pasrah kala pipinya dicubit gemas oleh Irene. "Gemes banget, sih. Mark, kamu pinter banget milih pacar." Mark hanya memutar bola mata jengah kala melihat sang Ibu mengacungkan kedua ibu jarinya padanya.

"Ya ya, terserah Mamih aja. Nih, dari Haechan, Mih." Menyodorkan paper bag di tangannya yang langsung diterima oleh Irene.

"Astaga, Sayang. Harusnya ga usah bawa apa-apa. Makasih banyak, ya. Ayo, duduk dulu." Irene merangkul bahu Haechan, melupakan eksistensi putra sulungnya yang kini tengah mendengus malas.

"Halo, Kakak cantik. Aku Lami. Adik kak Mark yang paling cantik." Gadis muda yang mengaku bernama Lami itu menyodorkan tangannya yang langsung disambut hangat oleh Haechan.

"Halo, Lami. Kamu cantik banget, sih. Tan --eh, Mamih apalagi. Kalian tuh kayak Barbie di dunia nyata. Cantik banget, Haechan ga bohong, sumpah."

Ibu dan anak itu tertawa akan sikap Haechan yang ternyata sangat supel dan cepat mengakrabkan diri, sungguh berbanding terbalik dengan Mark --putranya.

30 Days (MarkHyuck GS)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang