Haaaiii ..
Maaf lama banget ga up, aku harus ngumpulin akal sehat buat lanjut ngetik dan up ini..
Duh, ga tau deh.. aku mau minta maaf dulu..
Chapter ini berantakan dan ga jelas banget..
Bertele-tele dan ga ada isinya sama sekali..
Maaf aku ngerusak ekspektasi kalian..
(╥﹏╥)
Langsung aja, deh..
Mind to voment, zhayeeeennggg nya akuuu?
(っ˘з(˘⌣˘ )
-
-
-
Kini Haechan tengah berbaring seraya menatap layar ponselnya jenuh. Ya, ia tengah dilanda jenuh yang sepertinya kini berada di titik maksimal.
Tadi ia sudah meminta teman-temannya ---Jaemin, Daehwi, dan Felix--- untuk datang ke rumahnya, ia rindu segala ocehan tidak bermutu mereka, padahal baru satu hari tak bersua.
Namun ketiganya bukanlah dirinya yang tengah memiliki waktu luang, mengingat ketiganya masih mengikuti kelas masing-masing di kampusnya, dan mereka berkata akan langsung ke rumahnya seusai kelas hari ini.
Dan lagi-lagi Haechan hanya bisa menunggu dan bosan. Sungguh, ia juga ingin berkuliah hari ini, mengikuti kelas yang sama bersama Daehwi, setidaknya ia tidak harus menikmati kebosanan yang seakan membunuhnya perlahan.
Namun, entah berkah atau malah petaka, ia memiliki pacar dengan tingkat kekhawatiran berlebih. Ya, Mark yang semalam menyarankan kepada Ayah juga Kakaknya agar ia tidak perlu mengikuti kelas di hari Jumat dan Sabtu, dan sialnya kedua lelaki kesayangannya setuju dengan usulan itu. Ya, nasib Haechan dikelilingi lelaki-lelaki overprotektif.
Bosan. Bosan. Bosan.
Ia sudah menonton YouTube selama hampir tiga jam sejak Mark berangkat ke kampus pada pukul setengah sebelas siang tadi. Tangannya pegal, pun matanya.
Bahkan Ayahnya pun seolah mengikuti ide Mark yang berusaha meminimalisir pergerakannya hari ini, lelaki paruh baya kesayangannya itu bahkan membawakan makan siang ke kamarnya, kamar barunya di lantai bawah, kemudian kembali mengambil peralatan makan kosong setelahnya.
Oh, sungguh. Ia hanya tak enak hati dengan Ayahnya yang bekerja keras hari ini hanya untuk melayaninya saja.
Maksudnya, ayolah, kakinya hanya terkilir, itu pun hanya sisi kanan, dan bukannya lumpuh total. Ia masih bisa jalan dengan cara melompat dengan satu kaki, atau mungkin dengan bantuan kruk yang dibelikan Mark di hari ia mengalami kecelakaan.
Namun lagi-lagi, bak berkomplot, Ayah pun tak mengizinkan Haechan bergerak barang seinci pun dari kasurnya, kecuali untuk ke kamar mandi yang memang letaknya di luar kamar. Ya, mereka hanya memiliki dua kamar mandi, dan masing-masing berada di luar kamar, yang satu di lantai bawah, dan yang satu lagi di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Mingyu.
Sudahlah, rasanya besok ia ingin kabur ke kampus saja, lebih baik belajar di sana meskipun harus mendengarkan ocehan Daehwi sepanjang hari, dari pada hidup bak manekin bernapas.
Bagai mendapat angin segar, ponselnya berdering, menampilkan nama Felix di layar pemanggil, membuat wajahnya kembali riang. Akhirnya ia memiliki teman bicara.
"Yoo, ma freeeennn!"
// "Balik lagi aja lah, Hwi. Kek nya anaknya sehat-sehat aja. Mending jajanannya buat kita aja, yuk." //
"Heh! Bocah khamphanx! Gue tampol jadi miper lu! Buru napa, katanya setengah jam nyampe rumah gue, kenapa ga nyampe-nyampe?"
// "Bawel amat lu, bekicot! Ini gue sama Daehwi udah di depan rumah lu. Pagernya digembok, masa mau manjat? Udah cantik kek Selena Gomez gini." //
KAMU SEDANG MEMBACA
30 Days (MarkHyuck GS)
FanfictionDalam waktu 30 hari apapun bisa terjadi, bahkan pada sepasang insan yang notabenenya adalah musuh bebuyutan.. kisah Mark Lee dan Kim Haechan yang penuh warna dimulai~ Semi baku // non-baku bxb // gs Haechan gs Jaemin gs Daehwi gs Felix gs MarkHyuck ...
