(abisin) Day 5

2.5K 329 47
                                        

Haaaaiii
Sebenarnya mau up semalem, tapi aku nya ngantuk.. muehehe..

Jangan lupa tinggalkan jejak,  cintakuuuu ( ˘ ³˘)♥

Happy Tummy, Happy Reading!~
(◍•ᴗ•◍)❤

-
-
-

"Jadi masih ngambek nih ceritanya?" Mark melirik Haechan yang masih menekuk wajahnya, mereka masih di gazebo kampus, tidak ada Jeno, lelaki itu sudah mengantar Jaemin pulang lima belas menit yang lalu.

"Iya!"

Ini sisi Haechan yang Mark sukai, tidak berbelit-belit. Jika ia marah, ia akan mengatakannya dengan lantang atau bahkan tak segan mencubitinya. Jika ia senang, maka Mark akan dengan senang hati menerima segala skinship yang diberikan si Cantik. Terutama, tidak menggunakan sandi morse, alias tidak suka bermain kode-kodean. Ayolah, Mark bukan Detective Conan.

Menghela napas, kemudian meraih tangan yang lebih kecil darinya untuk ia genggam, membuat sang empu berusaha kuat menahan senyum di bibir.

"Jadi mau apa biar betenya ilang?"

"Ga tau deh, kek nya aku mau ngabisin isi dompet kamu aja. Sebelnya udah nyampe ujung banget ini." Satu tangan yang bebas Haechan gunakan untuk menekan dadanya pelan penuh drama membuat Mark merotasikan bola matanya jengah.

Namun apa yang dilakukan lelaki itu setelahnya membuat Haechan tak bisa menutup mulutnya.

Mark baru saja memberikan dompetnya kepada Haechan, membuat gadis itu terperangah tak mengerti.

"Hah? Apaan?"

Satu alis terangkat, "tadi katanya mau ngabisin isi dompetku, ya itu aku kasih sekalian sama dompetnya."

Belum juga bisa Haechan cerna kalimat itu, Mark sudah lebih dulu bangkit dan menyodorkan satu tangannya. "Yuk, nanti keburu sore. Nanti malem aku mau ada perlu soalnya, ga bisa nemenin kamu lama-lama."

Entah mengapa mendengar hal itu membuat Haechan kembali menekuk wajahnya, kemudian menepuk tangan Mark yang terulur alih-alih menggenggam.

"Dasar tapir Kanada!" Sungutnya, berjalan mendahului lelaki itu dengan langkah menghentak-hentak.

Tak tahu saja ia bahwa di belakangnya Mark sudah sibuk tertawa gemas melihat aksi kekanakannya.

"Chan.. Chan.. bener kata Jeno, kamu kek bocah." Gumamnya setelah menggeleng kecil.

"Heh, mas pacar! Ayo, buruan! Aku laper!" Seruan itu membuat Mark menaikkan sebelah alisnya jenaka, Haechan sudah kembali berbalik menatapnya meski dari jarak yang lumayan jauh, wajahnya masih ditekuk, merajuk bak anak kecil.

"Iya.. iyaa, bawel banget princess-nya Mark Lee." Sahut Mark agak kencang agar gadisnya mendengar ucapannya, tak peduli dengan beberapa mahasiswi yang memekik iri.

Mereka kini sudah sampai di kedai ramyeon langganan Haechan dan teman-temannya, menduduki kursi di sudut ruangan, spot favoritnya.

"Silahkan, nak Haechan. Ciiieee udah bawa pacar aja ke sini, mana ganteng banget lagi." Seorang wanita paruh baya meletakkan dua mangkuk mie, serta beberapa gorengan dan dua piring acar dan kimchi di meja mereka, tak lupa mencolek penuh tatapan goda untuk gadis yang wajahnya memerah kini.

"Apaan deh, si Ibu. Jangan bilang ganteng, nanti orangnya melayang. Tuh liat, hidungnya udah kembang-kempis."

Mark hanya mendengus seraya menggeleng menanggapi ocehan gadisnya yang hiperbola.

30 Days (MarkHyuck GS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang