Day 20 (lanjutan)

2K 258 102
                                        

Nungguin yaaa?
Wkwkwkwk

Maapin yaa mundur terus, ada banyak hal yang bikin aku maju mundur sampe hilang mood buat ngetik ini, ditambah tanggal 7 kemarin Almarhumah Tanteku meninggal, padahal di pas paginya aku udah semangat mau lanjut ngetik, eh malah mundur lagi..

Maapiiinn yaaa 😭😭

Udah, langsung aja yaa~

Jangan lupa tinggalkan jejak petualang~

Happy Tummy, Happy Reading! ~

(〃゚3゚〃)

.
.
.







Haechan hanya bisa menunduk diam seraya memainkan jemarinya, sementara di sampingnya Mark tampak fokus mengendarai mobilnya dengan ekspresi dinginnya. Sungguh, dulu ia sama sekali tak ambil pusing dengan keterdiaman Mark, maupun wajah dingin yang ditampilkan lelaki itu. Namun, kini semuanya berubah, ia ---Haechan--- takut melihat pacarnya diam membisu dengan ekspresi seperti akan menelan orang hidup-hidup.

"Ada yang mau kamu jelasin, By?"

Akhirnya hening dipecah kala Mark berucap, namun agaknya Haechan tampak semakin gelisah.

Mark menangkap gelagat gelisah gadisnya dari sudut mata, namun ia tak mau memaksa gadis itu untuk bersuara.

Elaan napas Mark lolos, disusul usapan lembutnya di puncak kepala gadisnya, membuat sangat empu menoleh, menatapnya lirih.

"Ga usah dipaksain kalo kamu emang belom siap buat cerita, By. Aku nunggu kamu siap aja." Rasanya Haechan ingin menangis saja, mengapa Mark memperlakukannya begitu lembut nan manis?

Sepasang netra jati itu kini berlapis kristal, kemudian menangkap lengan lelakinya untuk dipeluk erat, wajah dibenamkan di ceruk lelakinya, menggumam maaf yang tentu saja terdengar oleh sang pacar.

Mark beberapa kali menoleh di sela aktivitas berkendaranya guna membubuhkan kecupan manis di kening sangat gadis, berusaha menenangkannya.

"Miel, mau ke rumah ga?" Tawar gadisnya, yang mana mungkin bisa ditolaknya.

Mobil yang dikendarai Mark kini sudah berhenti tepat di depan pagar rumah Haechan, gadis itu turun terlebih dahulu guna membuka kunci pagar, disusul pacarnya di belakang.

Pemuda asal Kanada itu memilih duduk di sofa, sementara gadisnya melenggang naik ke kamarnya, berniat mengganti baju terlebih dahulu.

Lima belas menit kemudian Haechan bergabung dengan membawa dua potong kue redvelvet dengan toping taburan kacang kenari, tentu saja hasil buatan tangan dinginnya pagi tadi, juga dua gelas Ice Cappucino.

Menyandarkan kepalanya di bahu lebar dan tegap milik pacarnya, sementara tangannya memainkan jemari yang lebih tua, sudah kebiasaan.

"Miel, aku mau cerita, tapi mungkin kamu akan jijik sama aku setelah ini." Ucapnya pelan, Mark menggenggam tangannya, mengusap punggung tangan Haechan dengan ibu jarinya lembut, kemudian mengecup pelipis gadisnya.

"Aku ga akan pernah mandang kamu kaya gitu, By. Dan kalaupun emang kamu belom siap buat cerita, ga apa-apa, ga usah dipaksain, Sayang."

Haechan menggeleng kecil, "ga, aku ga kepaksa, kok." Ia menoleh menatap lelakinya dan mengerjap kaget kala bibir si tampan mengecup miliknya.

"Ja-jadi.. Tolong dengerin dan jangan disela ya, Miel." Mark tersenyum manis melihat gelagat malu gadisnya, kemudian mengangguk mantap, siap mendengarkan kisah dari bibir yang lebih muda secara langsung, meskipun ia sudah mendengar dari sudut pandang Jeno sebelumnya.

30 Days (MarkHyuck GS)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang