Dalam waktu 30 hari apapun bisa terjadi, bahkan pada sepasang insan yang notabenenya adalah musuh bebuyutan..
kisah Mark Lee dan Kim Haechan yang penuh warna dimulai~
Semi baku // non-baku
bxb // gs
Haechan gs
Jaemin gs
Daehwi gs
Felix gs
MarkHyuck
...
Haaaiii.. Neoo tengah malem mulu datengnya kek mba Kun.. 🤧
Nih, janjinya udah ditepatin yaa..
Niatnya nanti akan diselipin lagi beberapa chapter khusus LuWoo, yaa.. Tungguin aja, oke..
Eh, mau minta naikin jumlah followers lagi boleh ga? Sampe 70 aja.. boleh ga??
Minta tolong buat follow @neobucinsquad yaa..
Dijamin ga rugi, kok.. hehehe 😀
Yuk, bikin seneng Neoo dapet pahala, loh.. Ga perlu ngasih duit, cukup gerakin jempol kalian buat pencet "ikuti" atau "follow", terus pencet bintang kecil di bawah alias vote ⭐ , lebih bagus lagi kalo mau ikut ngebacot disini sama Neoo.. hehehe..
Yang ga follow, vote, sama comment mimpinya ketemu Miper, amin! (ب_ب)
Oh iya, lupa.. Mau promosi, nih.. NoMin lokal-au baru di-publish kemarin.. masih anget..
Yuk, NoMin shipper, kita ramaikan!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Tummy, Happy Reading!~ ( ◜‿◝ )♡
. . .
LuWoo special chapter of 30 Days
. . .
1st Meet
. . .
Gadis cantik dengan rambut sebahu senada mahoni itu tampak menatap bosan sekeliling, melihat beberapa mahasiswa baru yang tengah berlalu-lalang di lapangan yang tepat berada di hadapannya.
Ia sengaja tak memakai jas almamater kampus juga name tag tanda bahwa ia juga merupakan salah satu panitia ospek.
Bukannya jahat, ia hanya sedang ingin sendiri. Suasana hatinya sedang tidak bagus, dan ia tidak ingin direcoki oleh para mahasiswa baru yang akan mengejarnya demi sebuah coretan tanda tangan di buku tugas masing-masing.
Menurunkan topi baseball-nya hingga hampir menutupi matanya. Ya, ia bahkan sengaja memakai serta topi yang diberikan oleh Taeyong ---Kakak tingkatnya yang berada di fakultas seni musik, kebetulan mereka cukup akrab--- saat gadis itu berlibur bersama keluarganya ke Los Angeles.
Menghela napas panjang, kemudian menunduk memainkan ponselnya, membuka dan mengunci kembali layarnya, persis seperti orang kurang kerjaan. Memang kenyataannya seperti itu.
Merutuki nasib percintaannya yang baru saja kandas karena lelaki sialan itu mendua, mengkhianatinya dengan perempuan lain.
Sialan, mengapa ia harus kembali mengingat si bajingan itu, sih?!