16🍂 Ikhtiar berupa rencana

377 73 9
                                    

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***
"Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
(Qs. al-Zalzalah: 7-8).
_____

Jika sebuah kebaikan kau tanam, pastilah menuai kebaikan pula meski tidak seketika. Mungkin berjeda atau disisipi hal kurang mengenakkan sebelumnya. Tapi, pasti berakhir baik.

Kejadian yang menimpa Juragan semalam kembali muncul di benak, bagaimana warga begitu khawatir dan cekatan menolong juragan yang terluka memberikan sebuah pelajaran. Hal itu tak lepas dari kebaikan yang dilakukannya pada warga sekitar rumahku. Ia terkenal sebagai sosok dermawan pada siapa saja. Begitu mudah mengulurkan tangan pada yang butuh bantuan. Meski kurasa perhatian juragan pada keluargaku berbeda dengan yang lain, menempatkan dirinya bukan sekedar pria asing tapi, seolah telah berada di posisi penting. Apa pikiranku saja terlalu jauh? Entahlah.

Kondisi sekitar jalan setapak menuju rumahku sepi, mengingat langit juga masih gelap. Langkahku melambat seiring mataku menangkap bangunan rumahku dengan lampu emperan menyala.

Aku mematung ketika sampai di teras karena berniat melihat Juragan yang salat meski dengan posisi duduk. Kedua mataku meneliti sesuatu yang salah dan berakhir menatap lekat area mata kaki yang dibalut perban. Aku mendesah berat, antara cemas dan tak terima ia disakiti. Hal itu mendorong pikiranku kembali berkelana, menerka siapa penyebab sosok dermawan itu terluka. Sejujurnya bukan bermaksud su'udzon, tapi aku yakin itu ulah Paklek mengingat semua tindakan nekatnya selama ini. Apalagi beberapa waktu lalu keduanya sempat berurusan karena perihal uang hutang keluargaku yang dilunasi oleh Juragan.

"Pintunya tidak dikunci." Lamunanku seketika buyar usai mendengar bariton dari dalam rumah. Tersadar bersamaan dengan mataku menangkap Juragan telah selesai menunaikan salat. Posisinya kini bersandar pada dinding.

Kuhembuskan napas lega. Benar saja, kondisinya sudah lebih baik meski dengan balutan perban di beberapa bagian tubuhnya. Sudut bibirnya juga tampak membiru sebab lebam.

Pelan aku berjalan mendekat dengan sedikit ragu sebelum akhirnya duduk di sudut tikar lalu meletakkan bungkusan plastik di sana. Aku menunduk, memainkan jemariku. Mengusir rasa canggung. Suasana berlangsung sunyi sebelum suara derap langkah terdengar mendekat.

Wajahku terangkat, melihat Pakde berjalan membawa nampan dengan piring berisi nasi dan ikan goreng serta sambal. "Nduk, kamu bawa semurnya?"

"Nggih, Pakde." Aku bangkit, berjalan menuju dapur untuk menempatkan semur dalam mangkuk sebelum kembali menuju ruang tamu.

Tak ada keberanian memandang dua pria beda generasi di hadapanku. Keduanya sibuk berbincang sedangkan aku hanya menjadi pendengar dengan mata menatap halaman rumah melalui pintu, menampakkan lalu lalang warga menuju sawah walaupun langit masih cukup gelap. Pintu sengaja dibuka lebar-lebar agar udara pagi yang segar masuk.

"Juragan kalau ingin pulang nanti bisa diantar Damar, kadose sekitar jam sembilan dia sampai. Pakde minta dia langsung ke sini." Tak ada percakapan lagi. Pakde pamit pulang karena harus segera mengantar pesanan, meninggalkan kami berdua.

Disinilah kami, duduk di amben emperan rumah. Juragan sempat kesulitan beranjak, dengan seluruh tenaga berusaha berjalan keluar rumah guna menghindari fitnah.

Cahaya mentari mulai menyorot dari timur meski tipis. Mata kami kompak menatap ke depan. Menikmati pemandangan rimbunan tanaman bawang yang masih tersisa di sudut lahan. Lihatlah, betapa pria tak banyak bicara ini begitu khusyuk menyaksikan desiran angin yang menerpa tanaman bawang hingga sedikit bergoyang layaknya anak-anak. Menyaksikan juga para warga mulai datang ke sawah untuk panen.

Sudera Untuk Brahmana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang