بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***"Pak Dar kalau jelasin materi suka kecepetan. Jadi mohon maaf nih Pak kalau jawabannya tidak sesuai harapan dan ngoreksi tugas saya perlu indra ketujuh." Bunga yang sejak tadi mengerjakan tugas tak henti-hentinya menggerutu.
Ia berulang kali menutup lalu kembali membuka bukunya guna mencari jawaban, sesekali menggeleng sambil mengerucutkan bibir ketika jawaban tak berhasil didapatkan.
"Istighfar, Bung. Sabar," ingat Jihan yang sejak tadi menemaninya.
"Ini Pak Dar ngasih pertanyaan tidak bersumber. Masa soal begini dimasukin juga, padahal ndak ada di buku. Penjelasannya kemarin juga babar blas ndak singgung materi ini." Kalimat itu meluncur bersamaan dengan hembusan napas panjang.
Fitri tertawa keras menyaksikan momen kerja rodi anak sekolah dan istilah itu didapat dari Lina. Bahkan Jihan sampai menepuk punggung Fitri untuk menghentikan tawanya.
"Iya, yang udah pada terbebas dari tugas sekolah. Mbok ya adek kelasnya ini dibatuin ngerjain dari pada cuma ketawa terus. Hayo yang ngaku pandai merapat sini." Hani yang sejak tadi menyaksikan interaksi kami kali ini turut menyetujui perkataan Bunga, melayangkan dua jari jempol ke arahnya. "Sip! Lanjutkan Mbak Flower. Minta bantuan Mbak Lili, Mbak Pit sama Mbak Jiji."
Bunga menggeser bukunya dengan sekali tarikan. Melemparkan remasan kertas kosong ke arah Lina yang kali ini berusaha menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Khususon Jihan yang dari tadi ndak ikut bahagia di atas keprihatinan saya." Bunga menyerahkan buku pada Jihan yang langsung disambut gelengan kepala, menolak karena ia dulu jurusan IPS lalu di geser pada Lina.
"Itu juga bukan ranahku, Bung. Lupa kamu kalau dulu aku ini anak IPA, mana paham materi Ushul fikih macam begitu? Yang ada aku jawab pake rumus kimia," sahutnya sambil mengarahkan ibu jari pada yang duduk di sebelahnya. "Monggo Mbak Fitriyani, ini lho adek kelasnya sampean. Satu jurusan, kan?"
Dengan sedikit mengangkat dagu Fitri mengambil buku milik Bunga lalu menarik pena yang ada tak jauh darinya, berniat membantu menjawab pertanyaan itu dengan menuliskannya pada kertas kosong yang sudah disiapkan.
"Nomor sepuluh, qiyas yang illat hukum pada furu' nya lebih kuat dari hukum asl adalah?" Fitri terdiam sejenak setelah membacakan pertanyaan yang ada di buku tugas Bunga.
"Ini masuk materi kelas sebelas kayaknya, Bung. Pak Dar mungkin kasih soal ini buat flashback materi yang dulu pernah dijelaskan. Coba diingat lagi materinya siapa tau masih inget dikit," sambungnya.
Bunga menggeleng pelan dengan pandangan sendu. "Aku beneran blank, Fit. Masih ingatkan dulu aku pernah ijin pulang karena sakit dan imbasnya sampai nggak masuk sekolah selama hampir satu bulan. Waktu udah sembuh dan bisa masuk sekolah jeda beberapa hari langsung ujian. Alhamdulillah ada teman yang baik jelasin materi pelajaran yang ketinggalan dan itu pun dikebut. Materi itu belum benar-benar masuk jadinya." Hani mengusap punggung Bunga.
"Yaudah, jadi sekarang nunggu jawaban dari Mbak Pit aja. Jawab Mbak!"
Bukannya menjawab, Fitri malah meringis lalu mengarahkan pandangan padaku. "Untuk soal ini saya serahkan kepada Mbak Anis yang sejak dulu rajin masuk rangking paralel di sekolahnya. Monggo, waktu dan tempat saya persilahkan," ujarnya pelan.
Mendengar ucapan Fitri barusan sontak Lina dan Hani bersorak, kompak menggelengkan kepala sambil menggumam kesal pada Fitri. Mereka kira dengan sikap sombongnya tadi akan benar-benar bisa menjawab, tapi ternyata malah dilemparkan padaku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudera Untuk Brahmana
EspiritualSquel My Future Gus, tapi bisa dibaca terpisah (slow update) Kisah Nur Aniskurly dan Zaki Mustofa Althaf. Ganti judul dari Laksana menjadi Sudra untuk Brahmana . Dia bukan pria penuh senyum, dia pendiam, dia penuh rahasia. Aku suka, entah dari semua...