بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***"Niatkan ikhlas mencari ilmu disini."
Mendengar ucapan Ibu barusan, aku hanya bisa mengangguk pelan karena bibirku sejak tadi masih mengeluarkan isakan. Apalagi ini adalah kali pertama aku tinggal jauh dari Ibu.
Perlahan tanganku bergerak melepas pelukan kami, menatap Ibu dengan ukiran senyum di bibir. Bergeser mendekati Mas Damar dan Mbak Haura yang sejak tadi duduk di depanku.
"Nok, jangan lupa jaga kesehatan juga. Kalau butuh sesuatu langsung hubungi Mas atau Ibumu," katanya sambil menatapku.
Pelukanku pada Mbak Haura semakin erat. "Iya, Mas. Kalau Anis butuh sesuatu yang penting insyaallah kasih kabar. Titip Ibuku ya, Mas." Mas Damar mengangguk, mengusap kepalaku.
Aku mengurai pelukan, bersiap masuk ke kamar yang akan kutempati setelah mendaptakan informasi dari salah seorang santri pengurus yang menghampiri kami.
Sebelumnya kami sempat sowan ke ndalem pengasuh pondok, mungkin kurang beruntung tidak bisa bertemu karena semua keluarga ndalem sedang pergi.
Selepas mengatur barang dalam kamar dibantu beberapa santri, aku kembali menemui keluargaku sebelum mereka pamit pulang.
Aku tersenyum manis ketika mengantar mereka keluar meski bertepatan mobil Mas Damar meninggalkan pelataran pesantren air mataku kembali lolos. Ya, aku tidak sekuat itu ternyata.
Tahap baru dalam menimba ilmu kembali bermula. Mengikhlaskan semua yang telah menjadi keputusanku untuk mencari ridho Allah dan keberkahan dengan mengaji di tempat ini. Meninggalkan rumah yang selama ini kutempati bersama Ibu. Apa ini yang dimaksud dari ucapan perpisahan Juragan tadi siang? Karena setelah ini kami sulit ada pertemuan singkat tanpa sengaja ketika pria berjambang itu pergi ke sawah.
Sontak aku menggeleng ketika sadar kembali memikirkan sosok itu. Berhentilah! Fokus pada tujuanmu datang kemari, Nis.
Aku berjalan pelan menuju kamar, masuk dengan langkah tanpa menimbulkan suara ketika melihat salah satu teman tengah tertidur. Melangkah ke sudut ketika seorang berhijab maron melambaikan tangan ke arahku. Ia Jihan, santri lama yang tadi berkenalan denganku.
"Anggap kami semua keluarga, jangan sungkan jika meminta bantuan. Ingin berbagi cerita padaku juga boleh, mungkin akan membuat kita semakin akrab." Aku tersenyum menanggapi ucapannya.
Kesan pertama dengannya tadi sempat kukira ia jutek tapi ternyata tidak. Hanya wajah yang memang minim ekspresi itu membuatku beranggapan begitu, nyatanya keliru. Yang membuatku mudah akrab dengannya itu karena ia sangat ramah ditambah lagi mengaku usia kita sama. Ia baru lulus sepertiku tapi mondok disini sejak Tsanawiyah.
"Asal kamu dari mana?"
"Tidak jauh dari sini, hanya berbeda kecamatan saja." Ia mengangguk. Disambung membahas hal lain.
Obrolan kami terhenti ketika penghuni yang lain berdatangan. Kebanyakan langsung mendekati kami, berkenalan dan ikut duduk lalu mengobrol, hanya satu orang yang tidak turut serta. Kirana namanya, ia duduk di sudut lain, sejenak memandang kami lalu keluar. Entahlah, sejak masuk tadi ia seolah menatapku tak suka tapi sudahlah, mungkin hanya perasaanku saja.
"Kali pertama santri baru masuk kamar ini, biasanya santri lama yang kena operan kamar dari pengurus kayak aku ini," ucap Hani santri paling muda di kamar. Ia masih kelas dua Tsanawiyah.
Dua orang di depanku yang mendengar penuturan Hani mengangguk samar, membenarkan.
"Hanya Hani yang kena operan, sisanya asli kamar ini sejak lama," tambah Fitri. Sosok berhijab putih yang duduk di sebelah Hani. Menyambung obrolan ke pembahasan lain hingga tak terasa langit mulai gelap dengan sapuan jingga di ufuk barat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudera Untuk Brahmana
SpiritualSquel My Future Gus, tapi bisa dibaca terpisah (slow update) Kisah Nur Aniskurly dan Zaki Mustofa Althaf. Ganti judul dari Laksana menjadi Sudra untuk Brahmana . Dia bukan pria penuh senyum, dia pendiam, dia penuh rahasia. Aku suka, entah dari semua...