Lama ndak update lapak ini. Alhamdulillah akhirnya ada ide buat lanjut. Mangkrak berapa bulan lapak ini? Lima bulanan kayaknya.
__________________'Apa yang kau punya? Hanya sehelai pakaian lusuh itu yang membebat tubuhmu. Jangan berandai terlalu tinggi.'
Mengingat kalimat yang kerap dilontarkan padaku, kini mulai membuatku kebal. Harusnya sejak dulu aku kebal dan menulikan telinga untuk menjaga hatiku sendiri.
"Nduk, kenapa masih duduk di situ? Udara malam ndak baik buat kesehatan. Masuk, nduk." Suara Ibu membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk, menyapu bayangan kejadian di sekolah, mengangkat tumpukan anyaman bambu yang sudah setengah jadi menjadi tampah.
Kakiku berjalan pelan di belakang Ibu, masuk ke dalam rumah sederhana dengan ukuran yang tidak luas. Hanya terdapat ruang tamu, dua kamar tidur kecil dan satu kamar mandi yang terletak di samping dapur. Inilah harta peninggalan bapak satu-satunya yang masih kami bisa tempati. Karena harta bapak lain sudah berpindah ke tangan saudara bapak yang maruk dengan harta.
Kupandang wajah wanita paling mulia dalam hidupku yang kini tengah duduk bersandar pada dinding kamar dengan sesekali menarik ujung bibir melihat tontonan yang ada di televisi 21 inci di depan kami. Setiap melihat apa di sana, pasti Ibu memberikan komentar yang disangkutkan dengan ajaran Islam. Seperti tentang film yang kami tonton saat ini, kisah tentang anak yang harus melapangkan dada menerima kenyataan memiliki penyakit parah yang membuatnya berperang dengan rasa sakit. Melihat itu Ibu berkata dengan lembut, bahwa kita sebagai manusia yang diberi Allah kesehatan harusnya bersyukur, melihat ada orang yang tidak seberuntung kita yang masih merasakan badan begitu bugar tanpa penyakit.
"Bu, apakah orang kaya selalu memandang orang yang miskin dengan jumawa?" Kalimat itu meluncur begitu saja. Mungkin lebih terbawa lamunanku tadi.
Tangan ibu terhulur mengusap puncak kepalaku. Menatap dengan teduh. "Tidak semua begitu, ada orang kaya yang baik dan tidak memandang rendah yang miskin. Banyak dari mereka yang peduli pada orang tak punya." Ibu merapatkan duduknya, semakin dekat denganku. "Kamu tahu, di akhirat kelak orang miskin yang paling cepat hisabnya karena harta mereka sedikit. Dan kamu ingat, bahwa yang dianggap baik adalah yang paling takwa. Tolok ukur Allah bukan harta dalam menilai hambanya, tapi takwa." Aku selalu terkesima dengan jawaban ibu. Beliau memang bukan wanita berpendidikan tinggi, tapi karena pikirannya, menurutku ibu sangat cocok disematkan gelar sarjana.
"Kita beruntung, Nduk. Dengan kondisi ini, kita diminta bersabar. Jangan pikir semua yang telah Allah gariskan itu tidak membuat bahagia, harusnya kita bersyukur, besok di akhirat melancarkan jalan kita. Jujur, Ibu sudah sangat bahagia dengan kondisi kita seperti ini. Kekurangan membuat kita dekat dengan Allah, ingat dengan Allah." Aku tersenyum simpul.
Kembali aku mengangguk, tapi dengan pertanyaan yang siap kuberikan lagi. "Lalu apa salah jika membenci orang kaya yang berlaku buruk terhadap orang miskin?"
Ibu menggeleng. "Jangan membenci mereka, kita doakan saja supaya mereka sadar. Roda kehidupan berputar itu keniscayaan, saat ini mereka berada di atas angin, jika suatu saat berada pada posisi paling rendah semoga mereka ridho dan bersabar. Mengingat tidak benar jika berbuat buruk pada orang lain." Tidak ada pikiran buruk, ibu selalu berpikir positif dalam berbagai hal.
Otakku mencerna dengan baik semua yang Ibu ucapkan. "Ada dari mereka yang baik. Sama seperti pria yang dilanda cinta, banyak dari mereka yang memejamkan mata dengan kondisi strata sosial yang berbeda. Mereka tidak pandang status dalam bergaul, bila membantu pun tulus tanpa pamrih. Disinilah hati yang berperan, bukan ego yang dijunjung tinggi," sambung ibu.
Aku semakin paham tentang Islam yang begitu agung setelah ibu menjelaskan sedikit ilmu. Setelah mendengar malah semakin meyakinkanku untuk meminta maaf pada pria yang menolongku, tapi malah mendapat bentakan dariku.
****
Sudah cukup lama aku berdiam di gubug kecil dekat pematang sawah paling ujung. Masih dengan seragam sekolah lengkap aku duduk disana. Tempat yang menjadi saksi pertemuanku dengan pria itu. Aku tidak tahu namanya, hanya saja aku yakin dia adalah pria baik.Tanganku bergerak memilin ujung hijab, menghalau perasaan aneh yang timbul ke permukaan. Jantungku bekerja tak wajar, sangat cepat. Ada yang salah sepertinya, ini kali pertama kurasakan. "Ya Allah, ada apa ini? Aku hanya berharap berjumpa dengannya untuk meminta maaf dan berterima kasih. Itu saja."
Tak lama sosok yang kutunggu datang juga. Ia memikul cangkul pada punggung berjalan mendekat dengan wajah datar. Menyatukan dua alis pertanda heran atas kehadiranku. Tubuhku menegang ketika pria itu sudah berdiri cukup dekat denganku, ditambah tadi tak sengaja kulihat netra kelamnya menatapku dalam. Semakin membuat kerja jantungku tak keruan. "Ada apa?" tanyanya. Bariton berat itu akhirnya kembali menyapa telingaku.
Aku tertunduk, antara malu serta aneh dengan situasi dan tingkahku sendiri. Menggantung pertanyaannya. Beberapa hari lalu dengan lantangnya aku menolak pertolongannya dan menuduh yang tidak-tidak. Sekarang malah aku sendiri yang mencarinya. Sungguh, aku juga tidak paham dengan keadaan yang berbanding terbalik sekarang.
"Saya ingin meminta maaf atas tuduhan yang beberapa hari lalu saya lontarkan." Aku semakin gusar, bimbang antara melanjutkan ucapan atau kembali diam bahkan lari dari tempat ini segara.
"Untuk?" Baritonnya lagi-lagi terdengar, menarik bimbangku lalu memunculkan keyakinan.
"Kejadian beberapa hari lalu, dan---- " Lidahku mendadak Kelu, menelan ludah susah payah. Kalimat selanjutnya hilang entah kemana.
"Dan?" Ucapnya lagi sambil kembali menautkan alisnya. Jemariku semakin kuat meremas ujung hijabku.
"Dan, terimakasih," balasku. Tak ingin semakin membuatnya bingung dengan situasi ini, kusambar tas ransel yang tergeletak di sampingku, segera bergegas bangkit dan meninggalkannya.
Ya Allah, ini salah. Ada yang tidak benar telah terjadi pada diriku.
Sosok pria itu terpaku, tersenyum sangat tipis, bahkan sampai tidak terlihat jika tak teliti memperhatikan wajahnya. Netra kelamnya menatap dalam sosok gadis dengan seragam putih abu-abu yang berjalan cepat menjauh dari jangkauannya.
*****
Malam ١٠ رمضان ١٤٤١ ه
Semarang, 2 Mei 2020

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudera Untuk Brahmana
SpiritualSquel My Future Gus, tapi bisa dibaca terpisah (slow update) Kisah Nur Aniskurly dan Zaki Mustofa Althaf. Ganti judul dari Laksana menjadi Sudra untuk Brahmana . Dia bukan pria penuh senyum, dia pendiam, dia penuh rahasia. Aku suka, entah dari semua...