بسم الله الرحمن الرحيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***Suara derap langkah kakiku mengiringi tubuhku masuk ke ruang rawat inap Ibu. Aku berdiri, memandang ibu yang terbaring lemah di ranjang pesakitan. Aku bahkan mengabaikan Gani yang berjalan di belakangku.
"Assalamualaikum, Bu. Ini Anis," lirih ku. Memposisikan diri duduk di kursi kecil sebelah brankar.
"Waalaikumussalam, anak Ibu," Ibu membalas pelan. Menoleh, tersenyum tipis padaku dengan kedua tangan bergerak, hendak bertumpu pada ranjang untuk duduk tanpa bersandar tapi kucegah.
"Kenapa ibu sampai begini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Ku usap punggung tangan kanan ibu yang terbebas dari infus.
"Nasib, Nduk. Allah sayang kita. Sekarang Allah sedang kasih cobaan buat kita."
Air mata yang sejak tadi kubendung akhirnya luruh. Aku tersedu dalam tundukan. Jujur, sejak perjalanan menuju rumah sakit aku tak henti-hentinya memikirkan kondisi Ibu.
Ternyata kecemasanku benar, tak mungkin Ibu sampai dilarikan ke rumah sakit jika tidak mengalami luka serius. Apalagi bukan cuma luka bakar, ternyata kaki Ibu juga terluka hingga butuh jahitan sebab tergores cukup dalam kayu rumah yang roboh. Bahkan saat kejadian itu ternyata Ibu sedang sakit.
"Sudah, Nduk. Apa yang kamu tangisi? Alhamdulillah Allah masih menyelamatkan ibu dari musibah itu. Ibu juga bersyukur kamu sedang ndak di rumah, jadi tidak terluka kayak Ibu." Tatapan ibu mengarah pada jemariku sebelum beralih mengabsen satu persatu bagian tubuhku. Terdengar helaan napas panjang seolah begitu lega karena aku tidak berada di rumah saat peristiwa naas itu terjadi.
"Urusan rumah ibu juga sudah pasrah, Insyaallah pasti ada rizkinya kita buat bangun rumah suatu saat nanti."
Bukan persoalan rumah, tangisku muncul sebab ketakutanku kehilangan ibu. Aku takut Ibu kenapa-kenapa dan berakhir menyusul Bapak. Itulah yang paling ku takutkan sejak tadi. Aku belum sanggup kehilangan beliau. Baktiku padanya tak seberapa, dan aku tidak ingin kembali kehilangan orang tua.
"Bukan rumah, dan bukan apapun yang kupikirkan. Cuma Ibu yang ada di pikiranku saat tau musibah itu dari Gani. Aku khawatir sama Ibu."
Ibu menarik telapak tanganku, menautkan jarinya hingga membentuk genggaman. "Maaf ya, Nduk. Ibu sudah membuatmu khawatir."
Aku menggeleng, membuka obrolan lain untuk mengalihkan. Mengambil buah apel yang tadi dibawa Gani, mengupasnya untuk Ibu.
Ibu berulang mengucapkan terima kasih pada Gani yang sudah turut menolongnya dan membawaku kemari.
Keakraban antara aku dan Ibu serta Gani yang selama ini belum begitu ada seolah mengalir tanpa sekat. Aku tersenyum bahagia. Sungguh kondisi ini yang sejak lama kuinginkan. Dekat dengan keluarga adik kandungan Bapak. Meski sebelum hal ini terjadi sebuah pergolakan panjang harus dilalu. Walaupun sebenarnya kecamuk masalah itu hanya berlaku padaku, Ibu dan Paklek Abu tanpa campur tangan Gani.
Adik sepupuku yang jauh lebih tua dariku itu sejak dulu memang tidak pernah berlaku buruk pada kami, ia cenderung ada di posisi netral meski sebenarnya lebih banyak membela kami ketimbang menuruti ayahnya.
Gani yang sejak tadi duduk di sofa ketika mengobrol dengan kami kini beranjak, ia ijin pulang lebih dulu sebab ada langganan yang biasa membeli ikan ingin bertemu dengannya.
Tepat ketika Gani membuka pintu Bude yang baru datang menghentikannya. Wanita berpakaian batik itu memberikan bungkusan berisi makanan pada Gani setelah itu baru mempersilakannya pulang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudera Untuk Brahmana
SpiritualSquel My Future Gus, tapi bisa dibaca terpisah (slow update) Kisah Nur Aniskurly dan Zaki Mustofa Althaf. Ganti judul dari Laksana menjadi Sudra untuk Brahmana . Dia bukan pria penuh senyum, dia pendiam, dia penuh rahasia. Aku suka, entah dari semua...