بسم الله الرحمن الرحيم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّد
اللهم با رك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***"Maafkan Zaki, Umi."
Gus Zaki memandang wajah uminya dengan rasa bersalah. Ia tau keputusannya menyembunyikan kebenaran ini memang salah. Tapi ada suatu hal yang membuatnya terpaksa sementara menyembunyikan statusnya yang sudah menikah.
Umi Fia tampak memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam. "Ikut umi sekarang, Mas. Biar Kang Abdul yang tetap di sini," ucapnya dengan tegas tidak mau dibantah.
Tanpa bersuara Umi Fia berjalan meninggalkan UGD diikuti oleh Kia, baru disusul Gus Zaki usai meminta tolong pada Kang Abdul untuk memberikan kabar padanya tentang perkembangan kondisi kedua santri putri itu, terutama Anis.
Dalam mobil yang melaju menyusuri jalan tak ada percakapan. Suasana hening sangat terasa, membuat penumpang di dalamnya tak nyaman dan ingin segera keluar.
Sampai di pelataran ndalem, Umi Fia langsung turun. Sedangkan Kia masih duduk dalam mobil, memandang lamat kakaknya.
"Jujur, aku terkejut karena tahu kalau Mas sudah menikahi Anis. Kukira njenengan hanya tertarik saja tapi, ternyata sudah sejauh itu." Kia diam sebentar sebelum menyambung ucapannya "sekarang Umi sudah tau, berarti waktunya terus terang. Entah apapun alasan Mas Zaki, tolong bicara jujur sama Umi dan Abah."
Dari sekian lama saudara kembar itu berinteraksi, baru kali ini sang adik yang notabene biasa diemong sang kakak memberikan nasihat. Bukan hal sepele, masalah yang dihadapi oleh kakaknya saat ini menyangkut marwah keluarga serta status gadis yang bisa dikatakan masih terlalu muda masuk dalam hubungan pernikahan.
"Abah sudah tau, Dek. Tapi Anis yang belum tau tentang hal ini," sahut Gus Zaki.
Tangan Kia yang bergerak hendak membuka pintu mobil terhenti, melemas usai mendengar pengakuan lain dari kakaknya. "Apa maksudnya, Mas?"
"Nanti kujelaskan. Turun, Dek," balas Gus Zaki. Keluar dari mobil sambil memberi isyarat pada adiknya melalui gerakan kepala agar mengikutinya.
Langkah Gus Zaki terhenti dengan kening mengernyit, menatap dua motor yang pemiliknya dikenal terparkir berjejer di depan ndalem. Melanjutkan langkah masuk ndalem, menuju ruang tengah.
Kia berjalan mengiringi sang kakak, ikut masuk dalam ruangan yang ternyata sudah ada beberapa orang. Langsung mengambil posisi di samping uminya.
Dua pemilik motor itu ternyata berada di sini, duduk di karpet ruang tengah berhadapan dengan kedua orang tua Gus Zaki.
Pria bermata legam itu terdiam, mendekati enam orang yang sudah ada di sana.
Rencana memberitahu tentang kebenaran ini sesuai harapannya pupus. Sekarang malah dihadapkan pada situasi rumit dimana sosok yang paling dijaga hatinya kecewa.
Bahkan seorang Ibu yang telah mempercayakan sang putri padanya juga menatapnya dalam, seolah mengatakan ketakutannya telah terbukti. Menunggu waktu kemungkinan entah baik atau buruk siap terjadi.
Kiai Amir yang merasa menjadi tuan rumah akhirnya angkat suara, membuka percakapan dengan kata maaf. Beliau menjelaskan dengan pelan alasan meminta kedatangan keluarga Anis hingga sampai pada duduk permasalahan.
Sosok yang begitu disegani itu menjadi penengah, tidak berat pada istri atau pun putranya. Memang, ia tak menyukai atas kemarahan istrinya, tapi ia juga tidak membenarkan keputusan sang putra yang masih bungkam.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sudera Untuk Brahmana
SpiritualitéSquel My Future Gus, tapi bisa dibaca terpisah (slow update) Kisah Nur Aniskurly dan Zaki Mustofa Althaf. Ganti judul dari Laksana menjadi Sudra untuk Brahmana . Dia bukan pria penuh senyum, dia pendiam, dia penuh rahasia. Aku suka, entah dari semua...