23🍂 Pemilik sorban putih

484 89 37
                                    

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***

'Berpikirlah positif jika ingin hati terasa lebih ringan.'
__________

Mbak Kia menatapku lamat sarat akan pengharapan, kembali mengukir senyum malah lebih merekah dari sebelumnya.

"Nis, jangan menyerah atasnya, ya. Maklumi semua sikap kakunya. Ini kali pertama Masku cukup sering menyungging senyum meski sangat tipis. Dia terlihat jauh lebih baik. Terimakasih, Nis," ucapnya sambil membawa tanganku dalam genggaman.

Kalimat itu adalah penutup dari perbincangan kami sebelum Mbak Kia dijemput oleh sang suami yang tak lain dokter yang dulu pernah menangani Pakde usai kecelakaan.

"Nok, ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Mas Damar usai menepuk pundakku hingga membuatku sadar dari lamunan.

Aku menghela napas panjang, memejamkan mata sesaat.

"Apa benci situasi ini, Mas. Hatiku memang ada rasa untuk Juragan, tapi aku enggan. Aku takut kembali dihina orang. Mungkin saja keluarganya merendahkanku ketika tau aku anak dari buruh tani putranya. Aku cukup tau diri. Semua yang pernah terjadi dahulu itu sudah lebih dari cukup."

Mas Damar berdiri, mengambil bungkusan nasi pemberian Juragan tadi yang belum sempat ku sentuh lalu membukanya. Bahkan ketimbang makan aku memilih memikirkan sang pemberi yang langsung pergi tanpa pamit padaku ketika Mas Damar datang tadi.

"Cobalah berpikir positif, hapus pikiran negatif perlahan," ucapnya sambil mengangsurkan bungkusan nasi dan sendok padaku. Mendekatkan gelas berisi air minum ke arahku.

"Lalu apa yang aku dapatkan? Karena pada kenyataannya banyak orang seperti mereka menilai orang lain dari segi ekonomi, Mas," balasku lirih. Pikiranku seolah buntu, hanya bertuju hal kurang enak ketika kembali mengingat masa menyedihkan saat di bangku sekolah menengah atas. Tepatnya ketika teman-temanku menjauh karena tau aku dari kalangan kurang mampu.

"Aku bosan jika kembali dihadapkan pada situasi yang tidak baik untukku. Semuanya seolah mengejek padaku, dan saat aku menangis mereka malah tersenyum," balasku menggebu-gebu. Bongkahan emosi yang terpendam selama bertahun-tahun akhirnya mencuat.

Memang Ibu berulang juga mengatakan perihal apa yang Mas Damar sampaikan barusan, tentang berpikir positif. Namun nyatanya tidak semudah itu. Semua akan ringan bila terucap tapi sungguh berat pada pelaksanaannya.

Terdengar Mas Damar mendengus. "Inilah yang Mas kurang sukai darimu. Usahamu untuk ikhlas masih kurang tapi kamu malah mengundang kembali luka lama yang belum kering dan menyetarakan rasa sakitnya dengan apa yang bahkan belum terjadi. Tau tidak? Secara tidak langsung kamu su'udzon dengan ketetapan Allah."

"Ana 'inda dhonni Abdi bi," sambung Mas Damar telak dengan potongan hadist yang sangat familiar bagiku.

Aku terhenyak, mataku memanas seiring tubuhku bergetar dan tersadar akan kesalahanku.

Ucapan Mas Damar menamparku, apa yang diucapkan semuanya benar. Aku tersedu, menutup bungkusan makanan yang baru satu suapan kutelan. Meletakkan ke nakas kecil samping ranjang karena selera makanku menghilang.

"Aku capek, Mas. Aku juga ingin orang-orang menghargaiku. Tidak memandang sebelah mata. Itu saja. Apa aku salah?" tekanku sambil menatap kedua matanya.

"Tidak, kamu tidak sepenuhnya salah. Maka dari itu cobalah berpikir positif dalam segala hal, Nok. Tidak semua yang kamu kira buruk itu benar adanya. Lepaskan semua pikiran buruk itu, insyaallah semua akan terasa lebih ringan, luka sebab hinaan itu juga akan memudar. Dan satu lagi, kita tidak bisa memaksa semua orang sesuai kemauan kita," balasnya dalam pejam.

Kelopak mata Mas Damar perlahan terbuka bersamaan dengan gerakan menoleh ke arahku, membalas tatapanku. Kedua manik matanya tak jauh berbeda denganku. Ada selaput tipis di sana.

Ia menepuk sisi ranjang yang kosong tak jauh dari posisinya sebagai isyarat padaku untuk bergeser, lebih dekat dengannya. Memberikan satu usapan di puncak kepalaku dengan lembut.

Aku menunduk, menautkan kedua telapak tangan menjadi genggaman.

"Ceriwisku bukan untuk menghakimi, tapi bentuk rasa peduli," ujarnya lirih. Kembali mengusap lembut puncak kepalaku.

Anggukan kepala kuberikan. Sangat paham dengan nasihat dan maksud baiknya. Semoga semua akan jauh lebih baik setelah ini, termasuk perihal perasaanku pada Juragan.

***

"Nduk, Ibu bawa sop ayam kesuakaanmu. Sekalian bawa kripik tempe buat lauknya."

Tangan ibu tampak cekatan membuka bungkusan plastik berisi sop dan menaruh dalam mangkok plastik. Tak lupa mengambil piring yang sudah berisi makanan lalu diangsurkan padaku.

"Kemarin Damar minta Ibu istirahat dulu, Pakde dan Bude juga kemarin bantu Ibu urus pesanan kripik tahu. Alhamdulillaah ada saja pesanan yang datang. Mungkin ini jalan rizki tambahan dari Allah untuk kita."

Dalam benak tiba-tiba aku malah teringat sesuatu yang memang sejak awal mataku terbuka ingin kutanyakan. "Bu, siapa yang menolong dan bawa Anis kesini?"

Mendengar itu Ibu seketika membeku, tangannya yang semula menyisir rambutku terhenti.

"Damar yang membawamu kemari," jawab Ibu terdengar kurang yakin. Jelas ada keraguan dalam suaranya ketika menjawab.

"Dan siapa pemilik sorban di sofa itu, Bu?" Aku menunjuk sorban yang teronggok di sofa.

Kembali Ibu melanjutkan mengikat rambutku. "Mas Damar mungkin."

"Tidak, Bu. Itu bukan milik Mas Damar karena saat kutanya dia bilang bukan miliknya. Dan yang kuingat saat kejadian beberapa waktu lalu, hijabku disobek pria suruhan Paklek dan rambutku tergerai."

Terdengar helaan napas berat. Ibu menatapku dalam. "Tidak penting siapa pemilik sorban putih itu, Nduk. Yang penting bagi Ibu kamu selamat dan sekarang sudah baik-baik saja."

Aku menggeleng lemah. "Tapi itu penting bagiku, Bu. Aku yakin pemilik sorban itu yang menutup rambutku. Tandanya dia sudah melihat mahkota yang selama ini kujaga. Bahkan mungkin melihat bagian lain tubuhku karena tunik yang kupakai sobek dan tersingkap sebelum kesadaranku menghilang."

"Apa maksudmu, Nduk?"

"Waktu itu orang suruhan Paklek Abu sempat hampir melucuti pakaian yang kupakai. Hijabku sudah ditariknya kasar dan hampir saja merobek seluruh pakaianku. Ketika terjadi perkelahian pria itu pergi lalu aku dibawa oleh temannya menuju Paklek dengan kasar hingga membuat tunikku tersingkap. Aku tidak bisa melakukan apapun karena kedua tanganku di ikat kuat. Jadi Anis mohon, beritahu siapa pemilik sorban itu, Bu. Anis yakin Ibu tau." Kali ini aku benar-benar memohon. Dalam lubuk hati aku ingin sekali mengucapkan terima kasih padanya dan mengembalikan sorban putih itu.

Terlihat Ibu seolah mempertimbangkan sesuatu sebelum kedua telapak tangannya merangkum wajahku.

"Pemilik sorban putih itu adalah Juragan, Nduk."

Hatiku mencelos, ternyata ia memang selalu dalam garis edarku. Sosok itu kembali datang sebagai penolong.

Ya Allah, inikah jalan takdir yang digariskan untukku? Mengikat kami dalam berbagai situasi.

****

Maaf baru muncul. Terima kasih juga yang masih setia menunggu Juragan dan Anis dan kasih vote+ komentar. Bolehlah Minta barokah Fatihah buat kelancaran menyusun skripsi dan semua ujian-ujiannya saya nggih. Matur nuwun

Semarang
9 Oktober 2021
2 Robiul awwal 1443

Sudera Untuk Brahmana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang