25🍂 Permintaan maaf Paklek

341 79 13
                                    

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***

'Semua butuh proses, apalagi perihal memberi maaf sebab luka berkepanjangan yang diberikan'
_______

Aku mencoba mengontrol perasaan campur aduk yang melanda. Ikut menempatkan diri dengan duduk bersimpuh di samping Ibu. Kedua tanganku telungkup di pangkuan serupa duduk tahiyyat. Mengatur napas yang sempat tak teratur dengan debaran aneh menguasai.

Kepalaku masih menunduk. Situasi semacam ini membuatku tak nyaman, berkumpul dengan Ibu, Paklek dan Gani serta Juragan dalam satu ruangan. Amarahku dan semua kebencian sebisa mungkin kuredam, berusaha berpikir positif dengan apapun yang sudah terjadi. Mungkin dengan jalan kurang mengenakkan beberapa waktu lalu membuat keluarga yang lama tak berhubungan hangat sudah lebih bersahabat.

"Nduk, Paklekmu tulus meminta maaf padamu. Cobalah membuka maaf dan berilah kesempatan untuk menjadi seorang yang lebih baik."

Aku diam.

"Ingat, ada darah yang sama mengalir di tubuhmu dan Paklek. Sampai kapanpun kita tetap keluarga, Nduk," lanjut Ibu ketika ucapan sebelumnya tak mendapat tanggapan dariku.

Kalimat dari Ibu setelah sempat hening itu berhasil menarik atensiku. Perlahan menganggkat wajah seiring merasakan usapan lembut di punggung tanganku yang Ibu berikan.

"Ibu ... , Anis masih belum bisa menerima semuanya dengan mudah," ucapku lirih. Menatap wajah pria dengan sisipan uban pada rambut hitamnya itu dengan perasaan campur aduk.

Jika Bapak masih ada, pasti wajah beliau hampir sama dengan Paklek seperti foto Bapak yang dipajang di ruang tamu. Wajah Bapak dan Paklek memang mirip meski bukan saudara kembar, yang membedakan hanya warna kulit Bapak lebih gelap, alis lebat dan hidung yang lebih tinggi. Aku tahu jika hidung lancip dengan kedua alis cukup tebal inilah turunan Bapak, lain dengan warna kulitku yang putih sama seperti Ibu.

Aku menghela napas panjang sebelum pikiranku semakin ngelantur kemana-mana. "Maaf, untuk sekarang Anis belum bisa memaafkan semua tindakan buruk Paklek," sambungku.

Jujur, ketulusan serta penyesalan tergambar jelas pada raut wajahnya. Aku bahkan bisa merasakan tak ada kebohongan lagi dari tatapannya ketika mengiba agar mendapatkan maaf dariku tadi. Namun, aku hanyalah manusia biasa. Kesakitan yang cukup panjang kuterima darinya tak serta merta mampu hilang dalam sekejap, semua butuh proses.

Setelah mendengar balasanku Paklek mengukir senyum tipis, bergeser mendekatiku lalu mengusap puncak kepalaku lembut. "Paklek akan sabar menunggu maaf darimu, Nduk."

Gani yang sejak tadi hanya diam tampak menepuk pundak Ayahnya setelah melihat arloji yang melingkar di lengan. Mohon ijin pamit karena mereka harus segera pergi ke suatu tempat.

Entah kebetulan atau memang sengaja, Juragan juga pamit karena akan pergi ke rumah adiknya. Ada yang sedikit membuatku heran, Juragan yang biasanya menolak menerima sesuatu dari Ibu kini tampak menerima bungkusan plastik hitam tanpa penolakan. Saat Juragan hendak melangkah meninggalkan rumah, tiba-tiba ditahan oleh Ibu karena melupakan sesuatu.

Ketika ibu masuk mengambil sesuatu yang terlupa diberikan pada Juragan, pria itu sedikit memangkas jarak kami. Berdiri di emperan rumah dengan posisi kami berhadapan. Bibirnya bergerak, mengucap sebuah kalimat yang mampu menamparku.

"Allah sang pemilik jagat semesta memiliki nama Al Ghaffar, sebab dosa seorang hamba yang berulang diperbuat akan mendapat ampunan jika dia bertaubat. Lalu bagaimana dengan kita yang hanya bergelar hamba?"

Sudera Untuk Brahmana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang