7🍂 Kedatangan paklek

695 80 3
                                    

بسم الله الرحمن الرحيم
اللهم صل على سيدنا محمد
JADIKAN ALQURAN SEBAGAI BACAAN YANG PALING UTAMA
***

Tanganku sibuk mencari sesuatu yang kuyakini ada. Lebih dari tiga kali mengulang mengobrak-abrik tas tapi masih sama, hasilnya nihil. Mungkin jika tadi kembali ke kamar rawat ibu untuk  mengambil sisa uang tabungan, hasilnya tetap saja kurang. Karena lembaran uang itu ternyata sudah raib. Aku mungkin lupa jika uang itu telah digunakan tepatnya entah kapan.

"Nduk, pembayarannya sudah?" Cukup kuanggukkan kepala sebagai balasan, takut jika Ibu bertanya lebih. Menyingkir dari sisi ranjang ibu, menyibukkan diri mengemasi barang-barang untuk pulang.

"Uangnya cukup?" Gerakanku memasukkan baju kotor Ibu ke dalam tas terhenti, rasa tidak berguna sebagai anak mendadak timbul.

Bahkan hanya untuk membayar biaya pengobatan Ibu saja aku tidak bisa. Malah orang lain yang menanggungnya.

Aku berjalan pelan menghampiri Ibu dengan tangan menenteng tas berwarna hitam, meletakkan tas berisi pakaian itu di samping ranjang Ibu. Wanita surgaku itu menatapku dengan sorot berbeda dari biasanya, membuatku menunduk.

"Maaf, Bu. Anis tidak bisa membayarnya. Anis bukan anak yang berguna bagi Ibu." Netraku terhalang selaput bening yang kian menumpuk hingga mencuat dari tempatnya. Aku menangis.

Ibu menggenggam tanganku, mengangkat wajahku lalu menggeleng pelan. "Kamu anak ibu yang baik. Bukan anak yang tidak berguna, kamu anak yang berbakti. Ibu saksinya, tidak ada komentar buruk apapun atas dirimu, Nduk."

Tangisku kian menderu, tertunduk dalam dekap sosok surgaku. Tangannya yang tak lagi berkulit kencang menepuk punggungku, memberi usapan juga disana. "Tidak semua yang belum bisa kamu lakukan membuatmu merasa tak berguna."

Ibu mengurai pelukan kami, mengusap jejak kesedihan pada wajahku. "Sekarang kita bayar, ya. Ibu ada uang. Kemarin setelah gajian dari Juragan Ibu masukkan di saku baju yang kemarin."

Aku menghentikan gerakan Ibu yang hendak bangkit dari posisi duduknya. "Sudah dibayar," balasku pada akhirnya.

Mata dengan ukuran tidak terlalu lebar milik ibu menatapku tak percaya. "Siapa yang membayar? Pakde?"

Aku tidak mengangguk atau menggeleng. Menjawab dengan pelan, "Juragan, Bu."

Helaan napas panjang terdengar. Ibu seakan tidak nyaman karena hal itu. "Nanti Ibu ganti ke Juragan," ujar Ibu kemudian menyudahi percakapan kami.

***
Pakde dan Bude mengabari tidak bisa menjemput kami dengan angkot milik Pakde karena anak Ragilnya mengalami kecelakaan dan harus dilarikan ke rumah sakit lain. Karena itu kami harus pulang menggunakan angkutan umum.

Dengan perlahan aku menuntun Ibu menuju pinggir jalan, memintanya duduk pada sebuah beton yang ada di pinggir gedung besar pencakar langit yang menghadap jalan raya.

Aku mengedarkan pandangan pada jalanan, mencari kendaraan bercat hijau dengan pintu terbuka. Cukup lama, namun tetap saja tak ada satupun yang lewat. 

"Bu, mari ikut saya." Sebuah suara tiba-tiba membuatku menoleh, melihat sosok pria dengan tampilan sederhana berdiri di samping Ibu dengan pakaian berbeda dari pagi tadi.

"Lho, Juragan! Sejak kapan di sini?" tanya Ibu. Mengulurkan tangan pada Juragan yang lebih dulu terhulur tangannya untuk mengecup punggung tangan Ibu.

"Baru saja, Bu. Ibu dan Anis ikut saya mawon. Kebetulan saya bawa mobil."

"Tidak, juragan. Kami naik angkot saja." Dengan sopan ibu menolak. Tapi juragan tidak menerima penolakan, pria itu tersenyum dan memberikan rayuan pada Ibu hingga anggukan diperolehnya.

Tak ada percakapan, kami sibuk dengan kebungkaman. Ibu tertidur tak lama setelah masuk mobil sedangkan aku hanya menatap wajah Ibu yang damai dalam lelap. Aku tersenyum, pemilik telapak kaki surgaku sudah sehat kembali. "Kenapa kita diuji  sedemikan rupa, Bu?" gumamku, amat sangat lirih. Namun, ternyata suaraku masih saja dapat ditangkap oleh indera pendengaran Juragan. 

"Semua manusia tak jauh dari ujian, entah berwujud bahagia atau nestapa sesuai kehendak Yang Kuasa. Kadar ujian yang diberikan sesuai kemampuan, tidak ada yang berlebihan. Hanya anggapan manusia sendiri yang memandang berat ujian karena tidak berinisiatif berpikir positif. Jika kehendak baik digariskan didahului ujian, maka ikhtiar dan sabarlah jalan yang benar." Kalimat terpanjang yang kudengar darinya. Memberi petuah dengan tangan dan pandangan tetap sibuk pada kemudi dan jalanan. Pria ini memang berbeda, dia istimewa dengan caranya.

"Terima kasih," ucapku. Mengingat usai registrasi yang diurusnya tadi aku sampai  melupakan kata terimakasih karena sosok itu memilih pergi bersama wanita dengan kursi roda pada saat itu.

"Untuk?"

"Bantuan Juaragan pada pembayaran rawat inap Ibu tadi pagi." Hanya deheman yang kudapat sebagai balasan.

Mobil masih melaju dengan kecepatan sedang, membelah ramainya kendaraan di jalanan. Usai percakapan tadi, senyap kembali mengisi. Mungkin sosok pria jog kemudi tak ingin diganggu, memilih fokus pada rimbunan kendaraan dengan jarak cukup rapat di depannya.

***
Aku usap pelan tangan Ibu, membangunkannya dari kelana dalam mimpi. Memberitahu bahwa telah sampai pada jalan menuju rumah. Kami harus berjalan untuk sampai, karena jalan menuju rumah tidak bisa dilalui mobil.

"Sudah sampai, Nduk?" Aku mengangguk. Ibu membenarkan posisi duduknya, hendak meraih tas yang ada di atas pangkuanku namun seketika kutolak.

"Biar Anis yang bawa."

Juragan keluar lebih dulu, mengitari mobil lalu   membukakan pintu untuk Ibu. Kata terimakasih lantas terlontar dari kami, berjalan menjauh dari mobil. Menjangkah pelan-pelan mengingat jalan tanah yang dilalui becek dan lumayan licin.

Juragan masih setia berjalan di belakang kami. Tak berucap apapun, hanya diam sambil mengayun langkah lebar.

Mataku sekejap bersitatap dengannya tanpa sengaja ketika menoleh. Dengan cepat aku memalingkan wajah, memutus kontak mata dengannya. Tidak ingin rasaku padanya kembali mekar usai kulayukan.

Secara tiba-tiba Ibu menghentikan langkahnya, memutar tubuh hingga berhadapan dengan Juragan. Melihat itu lantas membuat langkah Juragan terhenti pula. "Juragan, biaya pengobatan  Insyaallah besok saya ganti. Maaf, merepotkan." Tangan kiri ibu masih terpaut dengan tanganku. Malah sekarang kurasakan ada remasan disana. 

"Tidak, Bu. Saya ikhlas."

"Tapi saya menganggap itu hutang, Juragan." Juragan mengangguk, memberikan ulasan senyum.

"Baik, tapi saya tidak memaksakan segera." Hembusan napas terdengar dari Ibu, mungkin ibu merasa lega.

Langkah kami kembali berlanjut, bahkan posisi kami sudah cukup dekat dari rumah.

Dari kejauhan tampak sosok pria dengan pakaian rapi berdiri pada emperan rumah. Membawa sebuah benda seperti map berwarna merah.

Mendadak kaitan tangan Ibu terlepas, mematung di tempatnya. Aku yang melihat tingkah Ibu seketika paham. Sosok itu pasti Paklek. Untuk apa pria itu datang?

Sibuk dengan pikiran, kami bahkan tidak menyadari Juragan telah berdiri berhadapan dengan sosok pria itu di emperan rumah.

Semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

🍃🍃🍃🍃

Semarang
26 Juni 2020

Sudera Untuk Brahmana Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang