[BEBERAPA CHAPTER DIPRIVAT, FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Dipo Panji Tirtayasa adalah seorang anak geng sekolahan yang populer. Ia manis, suaranya bagus, pandai bermain gitar, jago bela diri, wangi, juga pecinta warna hitam. Cowok jangkung yang kerap kali...
GUYS 3K KOMEN & 1,2k - 1,5k VOTE untuk next chapter.
Maaf kalau aku bakal gantungin kalian sampai targetnya tercapai.🙂↕️
Ramein tiap paragraf yuhu~
INI PART SEDIH, SILAKAN PLAY LAGU GALAU VERSIMU.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy reading❤️
45. KITA PUTUS AJA
LANGIT-langit kamar adalah objek yang paling sering dipandang oleh Elona ketika ia hendak menjelajahi dunia mimpi atau sekadar menatap kosong memikirkan hal-hal yang berkecamuk di pikirannya.
Tugas-tugas sekolah sudah beres, pukul sembilan malam lewat lima menit gadis dengan piyama putih itu berbaring dalam keheningan kamarnya. Malam ini Elona menginap di rumahnya, tentu saja seorang diri, kedua orang tuanya sudah tidak tinggal di rumah yang sama dengan Elona bahkan tidak dalam kota dan negara yang sama.
Dinginnya suhu AC memancing Elona untuk membungkus tubuh tingginya itu dengan selimut, rumah yang terasa sepi sudah bukanlah hal baru bagi Elona, itu tidak akan menjadi pergumulan dalam otaknya.
Plafon kamar di atas sana tidak lagi seterang lima menit yang lalu setelah Elona bersiap untuk tidur. Namun, plafon di atas sana yang samar-samar bisa Elona lihat karena pantulan cahaya lampu tidur masih menjadi objek yang betah untuk dipandangi.
Setelah bertemu ibunya beberapa hari lalu, Elona hari ini bertemu dengan ayahnya. Ia tidak tahu atas dorongan apa pria itu mengajaknya untuk bertemu namun Elona menebak kalau kunjungan Narena Andromeda lah yang membuatnya tidak ingin kalah saing.
Elona tidak tahu apakah ayahnya mendengar kabar itu dari Bunda Aruna, Ayah Tama, atau bahkan sepupunya, intinya pria itu mengajaknya untuk bertemu. Isi pembahasannya sudah bisa ditebak, basa-basi perihal sekolah Elona hingga rencana pernikahan laki-laki itu dengan seorang wanita yang tidak ingin Elona sebutkan namanya.
"Kamu udah tahu kalau Daddy-"
"Udah tahu, ini terakhir kali aku ketemu Dad kalau beneran terjadi."
Kalimat lantang yang Elona keluarkan tadi adalah sebuah peringatan dan ia pun tak sempat atau lebih tepatnya tidak ingin melihat reaksi ayahnya. Elona sudah pernah bilang kalau ia tidak butuh mama baru atau ayah baru, toh, kalau pun itu terjadi biarkan Elona berdamai dengan perpisahan ini dulu. Ah, ya, Elona juga tidak menyukai perempuan yang akan dinikahi oleh ayahnya, jadi ia menolak tegas.
"Nanti kalau kamu udah dewasa, kamu bakal paham, Khanza."
"Aku gak akan pernah paham soalnya aku gak niat nikah terus ujung-ujungnya cerai."
Oh ayolah, biarkan Elona menikmati makanannya serta biarkan pertemuan ini tidak berakhir dengan hati yang mengganjal juga sakit yang lebih dalam.
"Kamu masih keras kepala ya, sayang." Kalimat ayahnya pelan, tidak ada nada keras dan tinggi di sana namun mendengar itu Elona dongkol setengah mati.