Bab 42. Secercah ingatan

49 16 0
                                        

Happy Reading!



🌺🌺🌺




"Kak, boleh berhenti bentar di fotocopy yang depan situ" pinta Shaquilla pada Azka yang fokus mengemudi.

Tanpa menjawab, Azka langsung menepikan mobilnya ditepi jalan depan fotocopy.

Shaquilla bergegas turun untuk membeli barang yang ia perlukan. Azka tak ikut, ia memilih tetap didalam mobil.

.
.

Shaquilla kembali dengan dua gulung kertas karton manila berwarna kuning dan biru.

"Untuk apa?"

"Besok ada pertandingan di sekolah, mau buat tulisan penyemangat Kak"

Azka mengangguk pelan.

===

"Assalamualaikum" salam Shaquilla.

"Wa'alaikumsalam" balas Imam membukakan pintu.

"Silahkan masuk kak" tutur Shaquilla.

Azka melangkah memasuki rumah, diikuti oleh Imam dan Shaquilla.

"Bang Satria belum pulang Mam?" tanya Shaquilla.

"Belum, paling bentar lagi juga dateng"

"Hm, Kak Azka mau minum apa? Biar Shaquilla buatin"

"Terserah kamu aja"

"Oh, oke. Tunggu bentar ya" Shaquilla berlalu menuju dapur.

"Mam, sajadah mana?"

"Oh, Kak Azka mau sholat ashar? Ke kamar Imam aja kak. Ada dia atas"

"Baiklah"

.
.

"Kak Azka mana?" tanya Shaquilla tak melihat keberadaan Azka disana.

"Di kamar gue, sholat ashar"

"Oh, yaudah gue taro disini." Shaquilla meletakkan gelas berisi jus jeruk diatas meja.

Shaquilla berlalu pergi menuju kamarnya, tapi saat di anak tangga terakhir ia berpapasan dengan Azka. Wajahnya terlihat lebih segar dan rambutnya masih sedikit basah.

"Tampan sekali" gumam Shaquilla pelan.

"Hm?"

"Astagfirullah, a-aku... hm, ti-tidak bukan apa-apa kak" Shaquilla berlari kecil pergi dari hadapan Azka.

"Apa yang dia lakukan" Azka geleng-geleng melihat tingkah gadis itu.

===

Azka duduk di sebelah Imam.

"Udah selesai kak, silahkan minum jusnya."

Azka langsung meneguk jus itu sedikit, lalu kembali meletakkannya di atas meja.

"Lele mana?" tanya Azka melirik sekeliling mencari keberadaan kucing peliharaan Imam yang dulu sangat-sangat ingin ia adopsi karena sangat lucu.

"Lele? Udah lama mati"

"Kok bisa?" sentak Azka.

"Yah, udah takdirnya gitu."

"Iya, maksudnya gara-gara apa?"

"Nggak tau, tiba-tiba aja mati"

Azka langsung terdiam.

"Kuburannya di halaman belakang, kakak mau ziarah?"

Azka menatap Imam aneh, "Nggak dulu"

"Haha, kirain mau" kekeh Imam.

"Terus, nggak pelihara kucing lagi?"

The Careless GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang