Disha dan Arkan menengok ke belakang bersamaan setelah mendengar umpatan Erland. Mereka melihat Erland berlari mendekat dan segera meraih tangan Disha untuk membawanya lari secepatnya menuju kamar Disha. Dengan refleks, Disha juga segera meraih tangan Arkan hingga sekarang mereka berlari secepatnya menuju kamar sebelum orang di dalam lift itu sampai.
Setelah sampai, Disha segera membuka kunci kamarnya dengan sangat cepat dan tepat waktu, di mana saat kepala asrama dan Pak Dodit sampai, Disha, Erland, dan Arkan juga sudah berada di kamar Disha.
Dengan napas terengah-engah, Disha mencoba mengatakan sesuatu. "Hufftt.. ka-kayaknya-" Disha mencoba mengatur napasnya lebih dulu. "Kayaknya mereka udah sadar kalau absen gue masih kosong, dan sekarang mereka lagi menuju ke sini, gue harus apa? Gak akan cepet kalau gue ganti baju," ujar Disha melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti.
Erland membuka lemari Disha, dan segera membawa sebuah Hoodie oversize. Ia juga memberi Disha celana tidur.
"Lo pakai Hoodie sama celana ini, abis itu lo tinggal copotin rok doang, ini lebih cepet," saran Erland.
"Benar juga."
Disha segera memakai Hoodie nya itu, dan terdiam sebentar saat ingin memakai celana.
"Gue mau pakai celana," kata Disha membuat Erland dan Arkan segera membelakangi Disha.
Setelah selesai Disha segera menaruh rok miliknya itu di kursi tempat ia selalu belajar. Lalu suara ketukan pintu membuat mereka bertiga terkejut.
"Tuh, kan, mereka ke sini," desis Disha khawatir.
"Lo tenang dan buka aja pintunya, jangan lupa wajah lo harus kayak orang baru bangun tidur," balas Erland berbisik, lalu segera pergi ke kamar mandi untuk bersembunyi.
Arkan juga tanpa lama-lama lagi, segera bersembunyi di balik pintu, sehingga saat pintu di buka, ia tidak akan terlihat.
Suara ketukan kembali membuat Disha terkejut. Sebelum membuka pintu, Disha tampak menaburkan bedak serbuk di tangannya dan menepuk-nepuk agar bedaknya menyebar, dan sekarang membuat hidungnya serasa ingin bersin.
Disha membuka pintunya.
"Eh Pak Dodit sama Bu Sarma, ada apa ya malam-malam?" tanya Disha diakhiri dengan bersin yang menyerangnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Pak Dodit khawatir melihat hidung Disha yang sedikit memerah. Disha memang gampangan terkana flu, atau bisa dibilang ia memiliki alergi hal-hal yang berdebu. Bahkan perubahan cuaca juga akan membuatnya mudah terserang flu.
"Gak, Pa, Disha baik- hacim. Baik aja kok," kata Disha.
Bu Sarma yaitu kepala asrama wanita, tampak berjinjit-jinjit untuk mencari tahu ada seseorang atau tidak di dalam. Bu Sarma orang yang teliti, tegas, dan curigaan, walaupun akting Disha sudah menjiwai ia tetap tidak percaya pada Disha.
"Kamu kenapa tidak absen? Pulang jam berapa kamu?" tanya Bu Sarma.
"Disha tadi gak kuat antri buat absen, Bu, jadi Disha buru-buru aja ke kamar tanpa absen biar Disha bisa cepat istirahat," jawab Disha sedikit membuat Bu Sarma memiliki rasa percaya padanya.
Setelah Bu Sarma rasa tidak ada hal mencurigakan pada Disha, dan ia juga tahu Disha anak yang baik, bahkan ia belum tahu soal kejadian Erland yang pernah datang ke asrama wanita dan pergi ke kamar Disha, itu membuatnya mengembalikan kepercayaan nya pada Disha.
"Ya, sudah kalau gitu, kamu istirahat dengan cukup." Bu Sarma pun pergi lebih dulu dan meninggalkan Pak Dodit yang masih ingin di sana.
Setelah Bu Sarma jauh, Pak Dodit langsung memasang wajah marah seperti seorang Ayah yang siap-siap memarahi anaknya. Ia lalu menunjuk ke sebuah cermin dan langsung membuat Disha menoleh ke arah yang dimaksud Pak Dodit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar
TeenfikceDua gadis kembar yang terpisahkan sejak bayi, kembali bertemu ketika mereka sedang duduk di bangku SMA. Namun, pertemuan mereka tidak membuat mereka berdua sadar, jika sebenarnya mereka itu saudara kembar yang terpisahkan. Mereka hanya tahu, bahwa d...
