Pasar malam memang tidak pernah mengecewakan bagi Disha. Raut senang tergambar jelas dari wajah Disha yang sekarang tengah melihat sekelilingnya. Disha memang suka sekali dengan pasar malam. Dari kecil sampai terakhir kali sebelum ia ke Jakarta, Disha sering sekali ke pasar malam saat di Bandung.
Ayah nya dulu selalu mengajak Disha ke pasar malam, bahkan setelah beliau meninggal, Ibu nya lah yang melanjutkan tugas Ayah nya itu. Tapi tidak pa-pa, Disha malah bahagia jika pergi bersama Ibu nya itu, yang dulu sangat susah sekali di ajak pergi bersama. Entah mengapa tapi dari dulu Bu Aminah memang selalu menolak jika di ajak jalan-jalan.
Dan alasan Arkan mengajak Disha ke pasar malam itu karena ia tahu bahwa Disha suka pergi ke pasar malam. Ia tahu karena saat di Bandung, beberapa kali Arkan melihat Disha tengah berjalan bersama Ibunya di pasar malam. Ia melihat kebahagiaan begitu terpancar di wajah Disha. Arkan juga tidak pernah menghampiri Disha saat berada di pasar malam, ia tidak mau merusak kebahagiaan Disha bersama Ibunya, dan hanya memandangi Disha dari kejauhan.
Itu sebabnya ia mengajak Disha hari ini ke pasar malam, agar ia bisa melihat raut wajah senang dari Disha yang notabennya selalu memasang raut wajah kesal padanya, tapi sekarang Arkan merasa sejuk melihat senyuman bahagia yang terpancar dari wajah Disha.
Disha membuang napasnya dan tersenyum. "Rindu banget gue sama suasana kayak gini," ujar Disha.
"Tapi, Sha..." Arkan menggantungkan ucapannya, dan Disha segara menoleh pada Arkan. "Gue lihat-lihat di sekolah lo kayak gak suka gitu sama keramaian, kok di pasar malam kayak gini, di mana banyak banget orang-orang berlalu-lalang kayak gini, lo malah bahagia," lanjut Arkan.
"Gue emang gak suka keramaian, tapi gue suka momen. Kalau gue udah bahagia, gue bakal lupa kalau di sekeliling gue banyak orang."
Arkan tersenyum mendengar jawaban Disha. Arkan juga tiba-tiba menautkan tangannya dengan Disha, dan Disha terlihat bingung menatap tangannya yang digandeng Arkan.
"Kalau gitu ayo, gue bakal buat lo bahagia." Arkan berjalan dengan tangannya yang menggandeng Disha.
Tanpa disadari, Disha menarik kedua sudut bibirnya sedikit seraya menatap tangannya yang menaut dengan tangan Arkan.
Mereka berdua tampak bersenang-senang. Banyak wahana yang mereka coba, dan juga permainan-permainan lainnya.
"Eh, Sha, main itu yuk." Arkan menunjuk ke sebuah claw machine.
Disha menggelengkan kepalanya. "Gak ah, gue sering banget mainin itu, tapi satupun gak ada boneka yang gue dapet, malah buang-buang koin,"
"Ck, belum juga di coba udah nyerah gitu aja, ayo coba dulu." Arkan kembali memegang tangan Disha dan membawa Disha ke dekat mesin capit boneka itu.
"Oke, sekarang coba lo mainin," suruh Arkan.
Disha berdecak kesal. "Arkan, gue nih emosian orangnya, gampang kesel lagi, males ah main ginian buang-buang waktu, mending naik komedi putar,"
"Coba dulu," suruh Arkan kembali seraya membalikan tubuh Disha ke mesin, dan segera memasukkan koin ke mesinnya.
"Ayo buruan."
Hanya bisa pasrah, akhirnya Disha menuruti Arkan dan bermain dengan fokus dan teliti. Wajah yang awalnya kesal, berubah sumringah saat Disha berhasil mencapit satu boneka. Tapi hanya sebentar. Disha kembali memasang raut kesal saat boneka yang hampir ia dapatkan malah kembali jatuh.
"Nah, kan, jatuh. Argh... Dah lah, ke sana aja, ayo!" ajak Disha ke sebuah komedi putar.
"Ini dulu," kata Arkan menunjuk mesin itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar
Fiksi RemajaDua gadis kembar yang terpisahkan sejak bayi, kembali bertemu ketika mereka sedang duduk di bangku SMA. Namun, pertemuan mereka tidak membuat mereka berdua sadar, jika sebenarnya mereka itu saudara kembar yang terpisahkan. Mereka hanya tahu, bahwa d...
