“Gue terlalu sibuk ngejar apa yang ada di hadapan gue."
"Arkan"
•
•
Jam pulang sudah berlalu 15 menit yang lalu. Kini Disha tengah membersihkan kelas bersama Varnaz, karena hari ini jadwal piket mereka.
Beruntung mereka berdua sudah berbaikan, sehingga tidak ada unsur canggung lagi di antara mereka.
Disha tampak menaruh sapu yang ia pegang, begitu juga dengan Varnaz. Sekarang kelas sudah tampak bersih dan rapi.
"Beres. Huftt... Akhirnya bisa balik," umpat Varnaz merasa lega.
"Sha, balik bareng gue, ya? Ini juga udah sore, kalau lo pulang sendiri takutnya bahaya, sahabat gue ini gak boleh lecet," ajak Varnaz.
"Gue..." Perkataan Disha terhenti saat Arkan memasuki kelas untuk mengambil tas miliknya.
Hari ini juga jadwal piketnya Arkan, dan ia barusan habis membuang sampah ke bawah.
Arkan sempat melirik ke arah Disha yang masih terdiam melihat dirinya. Setelah itu, Arkan hendak pergi keluar, namun langkahnya terhenti di depan pintu mendengar namanya dipanggil.
"Arkan!" Panggil Disha.
Arkan membalikkan badannya.
"Lo mau gak anterin gue pulang?" pinta Disha mengejutkan Arkan dan juga Varnaz.
"Sha, maksud lo gimana?" tanya Varnaz bingung.
Disha tampak memberi kode pada Varnaz untuk tenang dan jangan terlalu terkejut.
"Naz, gue pulang sama Arkan aja, gak pa-pa ya?"
Varnaz tidak merespon. Ia hanya terdiam menatap heran pada Disha.
Disha berdecak, lalu memegang tangan Varnaz, dan juga Arkan. Disha menarik mereka berdua menuju bawah.
Arkan dan Varnaz juga sempat saling melempar tatapan bingung, namun setelah itu, karena Varnaz masih sebal terhadap Arkan, ia pun membuang mukanya seraya mendelik.
Setelah sampai di parkiran, Disha melepas tangan mereka berdua, dan menyuruh Varnaz untuk segera masuk ke mobilnya.
"Sha, lo sama gue aja," pinta Varnaz.
Disha menggelengkan kepalanya, dan segera menyuruh sopir Varnaz untuk segera meninggalkan area sekolah.
Setelah mobil jauh, Disha beralih menatap Arkan yang sedari tadi masih terlihat kaget. Arkan tidak percaya, untuk pertama kalinya Disha ingin pulang diantar oleh dirinya, biasanya harus Arkan yang memaksa Disha.
"Kenapa lo malah diam? Ayo buruan, mau anterin gue gak?"
"Ha.. hah?" Arkan tersadar dari pikirannya yang kacau.
Disha menghela napas. "Ada yang harus gue omongin, gue mau lo bawa gue ke suatu tempat terserah ke mana, asal jangan ke tempat aneh-aneh, buruan."
***
"Halo, siapa ini?"
Langkah Kayra terhenti saat Papanya tampak kesal menjawab seseorang di telepon karena tidak ada suara apapun di sana, dan nomor itu terus saja menelepon pada ponsel Rodi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kembar
Fiksi RemajaDua gadis kembar yang terpisahkan sejak bayi, kembali bertemu ketika mereka sedang duduk di bangku SMA. Namun, pertemuan mereka tidak membuat mereka berdua sadar, jika sebenarnya mereka itu saudara kembar yang terpisahkan. Mereka hanya tahu, bahwa d...
