"IBU! JANGAN TINGGALIN ZALFA!"
🍁🍁🍁
(September, 2008)
Zalfa yang baru pulang sekolah dipaksa untuk berlari secepat mungkin dari rumahnya karena baru saja di kabari oleh tetangganya.
Kabar itu tidak enak. Perihal Ibunya yang katanya kecelakaan di jalan raya. Sepeda motor yang selalu dibawa oleh Ibu Zalfa untuk bekerja sebagai pembawa dan pengirim barang-barang stok di tiap toko itu di tabrak oleh sebuah truk ugal-ugalan dengan supir yang mengantuk.
Zalfa tidak hentinya melantunkan do'a, berharap Ibunya bisa selamat, di perjalanan itu Zalfa bahkan tidak bisa membendung lagi airmatanya. Zalfa kecil itu hanya takut Ibunya pergi. Namun, pikiran itu ditepis dan digantikan dengan keyakinan bahwa Ibu Zalfa sekarang masih di lokasi kejadian dengan keadaan yang masih bisa di selamatkan.
Dengan seragam putih dan rok merah itu Zalfa berlari layaknya memang tidak ada yang bisa menghalangi jalannya. Tubuh kecilnya terlihat secepat kilat berlari dari sudut ke sudut jalan lainnya.
Zalfa benar-benar tidak ingin Ibunya kenapa-napa. Ibu adalah segalanya bagi Zalfa, setelah Ayah yang lebih dulu meninggalkan Ibu juga Zalfa karena penyakit kronisnya. Setelah kepergian itu, Ibu yang membanting tulang agar Zalfa bisa hidup bahagia dengan selayaknya.
"IBU!"
Zalfa kecil berteriak lantang, membuat kerumunan yang mengelilingi tubuh Ibunya itu menarik diri ke samping. Memberi jalan untuk Zalfa agar dapat melihat lebih jelas.
Benar, Zalfa dengan jelas dapat melihat darah yang sudah bercucuran dimana-mana. Matanya menangkap sepeda motor juga, itu sungguh hancur. Zalfa menutup mulutnya tatkala melihat tubuh Ibu tergeletak dengan darah yang jauh lebih banyak mengelilinginya.
Zalfa sangat terkejut dengan itu, lalu dengan cepat menghampiri Ibu, tidak peduli seberapa menjijikannya darah, yang harus Zalfa pedulikan saat ini adalah kondisi Ibunya.
"Ibu... Bangun ibu.."
Zalfa sungguh tidak sanggup saat sekarang sudah berada lebih dekat dengan Ibunya.
"IBUUUU!"
Saksi disana mendekati tubuh kecil Zalfa. Mengusap-ngusap punggungnya perlahan.
"Nak, kami sudah menelpon ambulance, sebentar lagi mereka datang kesini."
Saksi lainnya ikut berbicara, berusaha menenangkan Zalfa yang saat itu masih terlalu kecil untuk melihat hal se mengerikan ini.
Zalfa memegang tangan Ibunya, lalu menatap wajah Ibu. Wajah itu adalah wajah yang dulu selalu tersenyum kepadanya. Tidak peduli seberapa nakal Zalfa, seberapa sering dirinya menangis, bagi wajah itu Zalfa adalah kebahagiaannya, lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
Wajah yang selalu terlihat ketika Zalfa membuka matanya di pagi hari, Wajah yang selalu bersinar kala Zalfa merasa kesusahan dalam belajar, wajah yang selalu menenangkan ketika Zalfa dilanda ketakutan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Beda
FanfictionPertemuan itu, entah memang disengaja atau justru sudah menjadi takdirnya? Zalfa tidak tau apa rencana Sang Pencipta dibalik itu semua. Tuhan memang lebih tau apa yang terbaik untuk Ciptaan-Nya, namun kalau-kalau semua sudah terjadi dan melewati bat...