Hilang kabar;

41 7 1
                                    

"Gue khawatir banget sama dia."

🍁🍁🍁

Satu minggu berlalu dari kejadian Zalfa meninggalkan Jun di Taman.

"Sayang, ayo makan dulu."

Mama masih berusaha mendekatkan satu sendok yang berisi bubur hangat itu ke mulut Jun. Jun menggeleng lemah, matanya yang sayu itu menatap Mama.

"Jun harus nyari Zalfa kemana lagi ya Ma?"

Jun terbatuk, lalu menghela nafasnya panjang. Dia tidak enak badan sekarang, dari kemarin yang ada di pikirannya hanya Zalfa dan Zalfa. Jun bingung, sejak kejadian petak umpet disana, kenapa Zalfa menghilang?

Ya, Zalfa benar-benar menghilang. Sekitar satu minggu yang lalu, Jun benar-benar bertanya-tanya tentang Zalfa yang menghilang entah kemana. Seperti di telan oleh bumi, kabar Zalfa tidak ada sama sekali.

Jun sudah berusaha mencari Zalfa kemanapun yang dia mau, bahkan sampai berulang kali ke kontrakannya. Tidak sampai disana, Jun juga menanyakan Zalfa pada Sinta karena siapa tau Sinta tau dimana Zalfa berada. Namun, semua usahanya itu tidak membuahkan hasil.

Jun masih belum tau dimana Zalfa, Handphone Zalfa tidak aktif, chat yang dia kirimkan, telpon beratus-ratus kali tidak dilihatnya. Zalfa hilang dan Jun khawatir.

"Makan dulu, siapa tau kalo udah makan nanti Zalfanya ketemu."

Mama sebenarnya ikut khawatir juga dengan Zalfa. Mama tidak tau kenapa Zalfa menghilang dan meninggalkan Jun seperti itu. Mama tau, Zalfa mungkin punya alasan, namun bukankah kejam tiba-tiba meninggalkan Jun tanpa pamitan?

Bukan hanya khawatir dengan Zalfa, Mama juga khawatir dengan Jun yang dari kemarin tidak mau makan. Badannya tidak sehat dan sulit sekali bisa membujuknya untuk makan.

"Sayang, kalo kamu gak mau makan.. nanti kamu tambah sakit. Kalo tambah sakit kan gak bisa nyari Zalfa lagi.."

Mama mengelus puncak kepala Jun yang sekarang matanya menatap langit-langit kamarnya. Mama benar, Jun tidak sepantasnya tidak makan begitu. Jun baru menyadari kalau Mama pasti khawatir dengannya.

"Maaf ya Ma.."

Jun memegang tangan Mama, Mama yang mendengar itu tersenyum lalu kembali mendekatkan sendok yang berisi bubur itu ke dekat mulut Jun.

Jun tidak boleh menolaknya kali ini, dengan perlahan melahap satu sendok bubur itu meski terasa pahit di lidahnya. Ia harus sembuh, ia harus bisa menemukan Zalfa.

"Siang Tante.."

"Ini udah sore kali Dav."

"Ma, ada Yoshi sama David nih, mau jenguk Jun katanya."

Mama menoleh, mendapati Yoshi, David dan Danny yang sekarang perlahan memasuki kamar milik Jun.

"Eh, kebetulan. Ayo kesini, duduk-duduk."

Mama beranjak, menyimpan mangkuk bubur di nakas dekat tempat tidur milik Jun. David dan Yoshi tersenyum lalu duduk di samping Jun yang tengah berbaring.

"Kebetulan gimana Tante?"

"Tolong suapin Jun ya?"

"Kek anak kecil aja lo Jun, makan masih disuapin."

Celetuk Danny.

David dan Yoshi menatap satu sama lain lalu menahan tawa agar tidak keluar saat belum waktunya. Mama yang mendengar itu hanya mencubit pelan pinggang Danny.

"Bacot."

Umpat Jun sambil memberikan finger heart ke arah Danny. Danny yang melihat itu hanya memberikan tatapan datar.

BedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang