"Jadi lo yang ngada-ngada cerita gue ke hotel?"
🍁🍁🍁
Jun menatap laptop yang ada di hadapannya dengan tatapan yang hambar. Berulang kali melihat ke arah jam dinding yang terpampang tepat di dinding sebelah kirinya.
Jun tidak enak perasaan, namun berulang kali dia tepis. Pikirannya sempat terfokus pada Zalfa, ia ingin sekali menelponnya, namun Jun tidak ingin mengganggu keseriusannya dalam mencari kerja. Maka dia urungkan saja niatnya itu.
Jun lalu terpikir kembali ke David yang masih saja belum memunculkan wajahnya. Jun sampai sengaja membuka pintu ruangannya karena ingin melihat David melewati ruangannya untuk sampai ke ruangan Danny.
Jun merogoh Handphone yang berada di saku celananya. Mengotak-ngatik sebentar. Lalu, dia terpikir akan perkataan Zalfa. Benar, dia belum mengecek kebenaran tentang orang yang menjawab telpon Zalfa di Handphone miliknya saat ia di Bandung.
Cepat-cepat dia mengecek log panggilan. Siapa tau disana masih tertera, karena Jun terbilang sangat jarang bahkan tidak pernah yang namanya membersihkan log panggilan.
Matanya meneliti tiap nama Zalfa dan tanggal juga waktu saat melakukan panggilan. Begitu teliti, jari nya menari menggeser dari arah bawah ke atas. Sampai akhirnya, ia rasa ia benar-benar menemukannya.
Kening Jun berkerut, benar yang diucapkan Zalfa tentang semua perkataannya. Disana ada panggilan masuk dari Zalfa pada saat dirinya ke Bandung beberapa waktu yang lalu. Terlihat angka menit, menunjukan berapa lama Zalfa mengobrol dengan seseorang yang lancang menerima telpon dari Zalfa.
Jun terdiam, waktu itu tidak ada sinyal. Tapi kenapa saat tengah malam tiba-tiba ada dan siapa yang mengangkat telpon dari Zalfa?
Jun kembali mengingat-ngingat apa saja yang terjadi pada malam itu. Ia, Danny dan Greysia bertemu dengan investor, lalu memesan makanan dan hal yang paling akhir dia ingat adalah dia ke toilet karena sakit perut.
Pertanyaan di otak Jun semakin mendalam, saat ke toilet, seingatnya Jun tidak membawa Handphone nya. Lalu dimana ia taruh Handphone dan tasnya?
Jari telunjuk Jun menunjuk ke arah langit-langit ruangan, seiring dengan ingatannya yang ingat bahwa Handphone dan tas nya itu ia titipkan pada Danny.
Apakah ini kelakuan Danny?
Sebegitu isengnya kah Danny?
Tapi, Danny kan laki-laki. Selain itu dia tidak punya bakat dalam meniru-niru suara.
"EH KAK, MAU KEMANA?"
Saat sedang benar-benar berpikir, mata Jun menangkap jelas tubuh Danny yang melewati ruangannya. Danny yang dipanggil menoleh, mengernyit heran menatap pintu ruangan Jun yang terbuka.
"Tutup tuh pintu, gak biasa banget."
"EH JANGAN!"
"Ada-ada aja lo."
Danny hendak kembali melangkahkan kakinya. Dia punya urusan dan sedang tidak ingin meladeni Jun.
"MAU KEMANA EH? BELOM DIJAWAB PERTANYAAN GUE!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Beda
FanfictionPertemuan itu, entah memang disengaja atau justru sudah menjadi takdirnya? Zalfa tidak tau apa rencana Sang Pencipta dibalik itu semua. Tuhan memang lebih tau apa yang terbaik untuk Ciptaan-Nya, namun kalau-kalau semua sudah terjadi dan melewati bat...