Berakhir;

114 10 3
                                    

"Setidaknya kita pernah merasakan jatuh cinta satu sama lain..."

🍁🍁🍁

"Ma, Jun berangkat ya!"

Jun meraih tas kantor nya yang ada di sofa depan Televisi. Membenarkan dasi yang di pakainya, dia tidak bisa pakai dasi sebenarnya tapi memaksakan.

"Iya.. hati-hati ya?"

Mama berjalan menghampiri Jun. Mengelus wajah anaknya sebentar lalu memeluk.

"Mama gak akan kemana-mana kan?"

Tanya Jun.

Mama melepaskan pelukannya, menatap Jun dengan tatapan terheran-heran, "Kemana-mana kemana?"

"Soalnya dulu pas Zalfa mau pergi, dia meluk aku dulu."

Iya, Jun masih ingat betul saat Zalfa benar-benar pergi meninggalkannya. Itu sudah empat bulan berlalu, namun rasanya Jun masih sulit untuk tidak mengingatnya.

Mama hanya tersenyum menatap Jun, "Dia udah bahagia sekarang sayang.."

"Kuy Jun, gue gak mau terlambat."

Saat situasi hampir mellow Danny tiba-tiba datang sambil menenteng tas kerjanya juga. Senyum di wajahnya mengembang ketika rambutnya di elus oleh Mama.

"Bacot lo terlambat, kayak yang mau ngapain aja di kantor."

Jun mencibir, Danny kerap kali seperti itu kalau Jun mau menebeng di mobilnya. Danny terkekeh, "Ya kan harus semangat kerja."

"Yaudah sana gih cepet ke kantor."

Suruh Mama.

"Mamadinda ngusir anakanda?"

Danny memanyunkan bibirnya ke arah Mama. Mama yang mendengar itu hanya mencubit pinggang Danny pelan.

"Mamadinda anakanda. Anakonda kali ah."

Cibir Jun lagi.

"Mamadinda sama adikonda jahat sama anakanda."

"Kak anjir, mau berangkat gak ini? Lama banget."

Tanpa disuruh pun Jun sudah mulai melangkahkan kakinya sampai ke ambang pintu. Meninggalkan Danny yang masih saja bercanda kepada Mama.

"Iya tuh, tadi aja ngeburu-buru."

"Ya maaf."

"Bacot ah anakonda."

***

"Presentasi lo bagus Jun, gue bangga!"

Danny, Jun serta karyawan dan karyawati lainnya baru menyelesaikan meeting. Sekarang mereka berjalan pelan keluar dari tempat meeting.

"Kita duluan ya Pak Danny, Mas Jun."

Pamit sebagian karyawan dan karyawati yang baru saja beriringan dengan Jun juga Danny. Danny maupun Jun sama-sama tersenyum menanggapi itu.

BedaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang