"Andai kalo kamu gak jatuh waktu itu, mungkin sekarang aku masih jomblo ya?"
🍁🍁🍁
Sejak hari dimana Zalfa dan Jun pergi ke Mall bersama, dari hari ke hari, hubungan mereka semakin dekat dan mulai saling terbuka satu sama lain.
Jun bahkan pernah memberi saran agar dia dapat menjemput juga mengantar Zalfa
untuk bekerja ke restoran.Zalfa tidak nyaman jika seperti itu, maka dia mencoba untuk menolak perlahan dan meyakinkan Jun bahwa dia lebih nyaman untuk pulang dan pergi dari restoran seperti biasanya.
Untuk hal itu, Jun tidak bisa memaksa. Zalfa tentu punya hak, Jun pun tidak ingin Zalfa merasa terkekang ketika menjalin hubungan dengan dirinya.
"Zal, kayaknya Jun serius ya sama kamu?"
Tanya Sinta yang sekarang tengah sibuk mencuci tiap piring bekas makan pelanggan.
Zalfa yang posisinya membawa piring-piring kotor itu tersenyum, "Do'ain aja ya Sin, semoga emang bener hehe."
"Wah! Kalo urusan do'a sih, aku selalu do'ain yang terbaik buat kamu. Bukan buat kamu aja, tapi buat orang tua, saudara dan teman-teman se-"
"Zalfa! Antarkan pesanan ke meja lima!"
"Siap! Eh Sin, ngobrolnya nanti ya? Dah.."
Zalfa dengan sigap menghampiri sumber suara Aina yang berteriak barusan. Meninggalkan Sinta yang sebenarnya masih ingin bercerita.
Tapi Sinta juga sadar, ini waktunya bekerja. Sangat tidak baik karena harusnya dia fokus dengan apa yang menjadi pekerjaannya.
"Ini mba, selamat menik-"
Zalfa berusaha untuk menyimpan Mangkuk besar berisikan Ramen pada pelanggan di meja nomor lima.
"AW OMAYGAD DRESS GUEEEEEEE!"
Namun, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Zalfa merasa sedikit pusing, entah kenapa dan tangannya pun tidak sengaja menumpahkan sebagian Ramen itu ke arah pelanggan.
"Ah, maaf mba, maafin saya."
Tangan Zalfa dengan sigap membawa beberapa lembar tissue yang memang sudah di sediakan di tiap meja. Lalu berusaha membersihkan kuah Ramen yang sebenarnya sudah terlebih dahulu menyerap di rok yang digunakan oleh pelanggan itu.
"Don't touch me! Lo menjijikan tau gak?"
Pelanggan itu beranjak dari duduknya. Sementara Zalfa masih terus berusaha ikut membersihkan rok pelanggan tersebut.
"Minggir!"
BRUGH
Tubuh Zalfa di dorong kasar oleh pelanggan itu. Mata semua pelanggan mulai tertuju pada keributan yang terjadi. Atasan mulai datang dan karyawan yang tengah fokus dengan kerjaan masing-masing pun sempat terhenti karena ingin tau apa yang terjadi.
"Mohon maaf mba, ini ada apa ya?"
Zalfa beranjak, menghadap atasannya dan pelanggan itu.
"Karyawati anda ceroboh! Liat ini? Dress saya sampai terkena kuah ramen. Bisa milih-milih karyawati gak sih?"
Pelanggan itu terlihat begitu marah. Zalfa di penuhi dengan rasa bersalah, namun Zalfa juga tidak tau mengapa tadi dia merasakan pusing yang menyebabkan dia merasa tidak fokus.
"Mba, saya minta maaf."
Ucap Zalfa lirih sambil mendekat.
"Zalfa! Kenapa kamu ini? Kenapa ceroboh sekali?!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Beda
FanfictionPertemuan itu, entah memang disengaja atau justru sudah menjadi takdirnya? Zalfa tidak tau apa rencana Sang Pencipta dibalik itu semua. Tuhan memang lebih tau apa yang terbaik untuk Ciptaan-Nya, namun kalau-kalau semua sudah terjadi dan melewati bat...