Tentang Apa Yang Belum Selesai

773 178 88
                                        

Jika saja memiliki kemampuan berteleportasi, Jeonkook akan memilih menghilang dari hadapan pria di depannya ini.

Setelah pertemuan tak terduga tadi, Taehyung menyeretnya ke Starbuck terdekat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kini, keduanya duduk berhadapan dengan minuman yang telah dipesan Taehyung untuk mereka berdua.

Jeonkook gusar. Apalagi Taehyung terus menatapnya dan belum berbicara. Membuat Jeonkook tidak bisa menebak apakah Taehyung sedang marah atau kecewa. Tapi yang paling Jeonkook takutkan adalah jika Taehyung membencinya.

"Hyeong ... apa kabar?"

Masih saja Taehyung tidak bersuara. Matanya enggan menatap ke arah lain. Seseorang yang duduk di depannya saat ini adalah seseorang yang sangat ia rindukan beberapa bulan terakhir ini.

"Apakah Hyeong baik-baik saja?"

"Apa kau pikir aku baik-baik saja setelah kau pergi begitu saja, Jeon?"

Pertanyaan yang keluar dari mulut Taehyung mendadak membuat jantung Jeonkook mencelos. Ia bisa merasakan kesedihan yang dirasakan sang kakak. Apalagi setitik bening jatuh membasahi pipi Taehyung.

"Apa kau kira hidupku akan berjalan mudah seperti biasanya saat aku mendengar kabar kematianmu? Bahkan orang-orang menipuku dengan mengatakan kalau jantungmu ada dalam tubuh Sohyun! Apa kau kira aku bisa bahagia, ha?!"

Ini adalah pertama kalinya Taehyung membentak Jeonkook. Pertama kalinya seorang Taehyung memuntahkan beban berat di hatinya setelah beberapa bulan terakhir ini.

"Hatiku hancur, Jeon. Aku tidak bisa bernapas. Seberapa keras pun aku meneriaki namamu, kau tidak akan kembali," Taehyung frustrasi. Perasaannya campur aduk sekarang. Ia sedih karena telah ditipu oleh orang-orang disekitarnya. Tapi juga bahagia dan lega melihat Jeonkook masih hidup dan tumbuh dengan baik. Bahkan rambut pemuda itu dicat blonde sekarang.

"Hyeong," Jeonkook memberanikan diri meraih telapak tangan Taehyung yang ada di atas meja. Tangan besar itu masih hangat sama seperti biasanya. Jeonkook sangat merindukan itu. "Aku hanya ingin mengakhiri semua ini. Aku tidak ingin membuat orang tua kita terluka."

"Dan apa kau pikir aku tidak terluka?" Taehyung balas menggenggam telapak tangan Jeonkook. Bahkan menggunakan kedua telapak tangannya. "Aku sangat terluka, Jeon. Lebih dari siapa pun. "

"Tapi kata Jin Hyeong kau bahagia bersama Noona. Dan aku sangat senang mendengarnya."

"Jadi dia yang merencanakan semua ini? Dia yang membuatmu tega meninggalkanku, Jeon?! Orang tua kita pasti tahu hal ini kan? Jadi kalian semua bersekongkol?"

"Hyeong, bukan seperti itu!"

"Mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau harus tetap berada di sisiku!"

"Aku tidak bisa melakukannya. Kau harus hidup bahagia dengan istrimu."

"Lantas bagaimana jika kebahagiaanku adalah hidup bersamamu, Jeon?"

Dulu, Jeonkook akan senang setiap mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Tapi sekarang ia justru merasa takut. Ia takut akan menyakiti hati orang tuanya lagi.

"Aku tidak ingin orang tua kita kecewa lagi, Hyeong. Jadi tolong biarkan aku menjalani kehidupanku yang baru. Jin Hyeong merawatku dengan baik. Aku hidup dengan nyaman dan layak. Aku juga bisa sekolah dan mulai memiliki banyak teman."

"Aku tidak mau mendengar alasanmu, Jeon. Aku akan menghubungi Jin Hyeong. Akan kusediakan tempat tinggal untukmu. Tempat di mana istriku dan orang tua kita tidak tahu bahwa kau ada bersamaku."

Black SwanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang