Kolam Renang Malam Hari.

1.1K 216 86
                                        

"Maafkan aku, Jeonkook-ah," adalah kalimat pertama yang Sohyun ucapkan pada Jeonkook setelah seminggu lamanya pemuda itu mengibarkan bendera perang dingin padanya.

Tentu saja Sohyun tidak nyaman. Cukup Lee Taehyung saja yang bersikap seperti kulkas berjalan. Shin Jeonkook jangan. Karena Sohyun bisa mati bosan jika pemuda delapan belas tahun yang sebelumnya bersikap ramah padanya justru mendiamkannya lebih lama lagi.

Jeonkook mengambil handuk warna putih yang ada di kursi kayu panjang untuk mengeringkan keringatnya. Baru satu jam ia berlatih taekwondo di rumahnya dan terpaksa harus menghentikan kegiatannya saat Sohyun tiba-tiba saja muncul.

"Aku tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi. Dan aku tidak akan merebut Taehyung dari kekasihnya atau berusaha memisahkan mereka berdua," tentu saja Sohyun bohong. Karena ia merasa Shin Jeonkook begitu dekat dengan wanita yang menjadi kekasih Taehyung. Itu artinya dia harus mencari cara lain agar Lee Taehyung jatuh ke dalam pelukannya karena meminta bantuan Jeonkook adalah sebuah ketidakmungkinan. "Saat itu aku tidak memikirkan perasaan Taehyung dan kekasihnya. Aku hanya memikirkan nama baik kakakmu dan juga diriku sendiri."

Jika boleh jujur, Jeonkook masih kesal dengan Sohyun jika ingat bahwa wanita di depannya ini memiliki niat ingin memisahkan dirinya dengan Taehyung. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada gunanya mendiamkan Sohyun lebih lama lagi. Mereka sekarang adalah keluarga meski pernikahan Sohyun dan Taehyung hanya sandiwara. Bukankah Sohyun selalu bersikap baik padanya selama ini layaknya seorang kakak?

"Maafkan aku ya," Sohyun berujar sekali lagi saat Jeonkook tak kunjung menanggapi ucapannya.

Jeonkook mengangguk lalu tersenyum tipis. Mengamati penampilan Sohyun sore ini. Wanita itu masih memakai pakaian yang pagi tadi dikenakannya sebelum berangkat pemotretan.

"Noona baru pulang? Kenapa belum ganti baju?" Jeonkook memberi kode pada Sohyun untuk bersama-sama keluar dari ruangan tersebut. Mereka berjalan beriringan turun menuju lantai dua di mana masing-masing kamar mereka berada.

"Aku belum mandi. Badanku sangat lengket," Sohyun berhenti saat ia sudah berada di depan kamarnya begitu juga dengan Jeonkook yang juga sudah di depan kamar pemuda delapan belas tahun itu. "Jeonkook-ah, aku mau bertanya satu hal lagi boleh?"

"Tanya apa?"

"Apa Taehyung sangat mencintai kekasihnya?"

Jeonkook terdiam cukup lama yang membuat Sohyun kembali panik karena takut pemuda itu akan marah padanya untuk kedua kalinya.

"Aku hanya penasaran. Tidak ada niat mengganggu hubungan mereka."

"Hyeong sangat mencintai kekasihnya lebih dari apa pun," Jeonkook mengulas senyum lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sohyun jadi semakin penasaran. Secantik apa wajah wanita itu sampai Taehyung tergila-gila?

***

Malamnya Sohyun tidak bisa tidur. Padahal jam yang menggantung di dinding dekat lemari telah menunjukkan waktu pukul satu dini hari. Ia memang akan insomnia jika sedang banyak pikiran. Sohyun penasaran siapa kekasih Taehyung. Ia juga bingung bagaimana cara membujuk suami sandiwaranya itu agar bersedia melakukan program bayi tabung. Hah! Kepalanya mungkin sudah berasap sekarang. Apalagi saat memikirkan bagaimana cara mengalahkan Hwang Jimin.

Sohyun geram. Menendang kakinya ke udara berulang kali. Ia ingin tidur tapi tidak bisa. Padahal besok dia harus tiba di lokasi pemotretan pukul enam pagi. Apa sebaiknya Sohyun ke perpustakaan lantai tiga saja? Jika membaca buku, mungkin dia akan mengantuk meski dia tidak yakin buku yang ada di perpustakaan rumah ini bisa menghiburnya. Mungkin buku-buku yang ada di sana hanya berisi tentang bisnis, ekonomi dan sejarah. Mengingat Lee Taehyung adalah pria kaku seperti kawat jemuran.

Black SwanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang