"Hyeong," Jeonkook memeluk Taehyung dari belakang. Sangat erat dengan kedua mata terpejam. Meresapi kenyamanan yang ia rasakan bahkan hanya dengan memeluk Taehyung seperti ini. "Jangan marah."
Taehyung mendiamkannya. Setelah Jeonkook meminta pisah di bath up tadi, Taehyung tidak melontarkan sepatah kata pun. Ia diam bahkan ketika sedang membantu Jeonkook mandi. Mengabaikan setiap ocehan kekasihnya itu dan menganggapnya sebagai angin lalu.
Sampai akhirnya Jeonkook tidak tahan. Mereka yang sudah selesai mandi dan sudah memakai piyama, keluar dari kamar mandi. Dan saat itulah Jeonkook langsung memeluk Taehyung dari belakang.
"Jangan mendiamkanku."
Taehyung bergeming. Ia tidak membalas pelukan Jeonkook namun juga tidak melepas paksa kedua tangan pemuda itu yang melingkar di perutnya.
"Meski kita berpisah, tapi kita masih bisa menjadi saudara. Aku akan tetap menjadi adikmu."
Taehyung tiba-tiba berbalik, menarik pinggang Jeonkook agar merapat padanya. Sorotnya menatap lekat mata kekasihnya itu yang terlihat terkejut.
"Aku tidak ingin menjadi kakakmu!"
"Hyeong tahu tidak apa kebahagiaan terbesar dalam hidupku?" lagi-lagi air mata Jeonkook menggenang. "Aku memiliki ayah, ibu dan kakak sepertimu. Aku merasa menjadi seseorang yang paling beruntung di dunia. Aku tidak kekurangan kasih sayang dan materi. Aku bisa membeli apa pun yang aku mau. Aku bisa mendapatkan pelukan hangat seorang ibu dan tawa bangga seorang ayah. Aku tidak ingin menyakiti orang tua kita lagi. Aku seperti gelandangan tidak tahu diri yang tidak tahu caranya berterima kasih setelah dipungut di jalan dan dirawat dengan baik."
"Kau bukan gelandangan! Kau kekasihku!" Taehyung sangat marah jika Jeonkook mengucapkan hal-hal seperti itu. Mengapa Jeonkook sangat senang merendahkan dirinya sendiri? Padahal Taehyung selalu berusaha meninggikan derajat pemuda itu.
"Aku ingin dipeluk Appa dan Eomma lagi. Aku ingin Appa menepuk pundakku lagi karena bangga. Atau saat Eomma mengusap kepalaku dan menawariku makanan. Jika kita melanjutkan hubungan ini, mereka akan membuangku. Bukankah aku hanya anak pungut?"
"Apa mulutmu tidak bisa diam, Jeon?"
"Hyeong-"
Taehyung segera membungkam mulut Jeonkook dengan ciuman panas. Meski sang adik memukul dadanya berulang kali agar bebas, sayangnya itu tidak berhasil. Taehyung geram karena Jeonkook terus-terusan meminta pisah dan menghina dirinya sendiri. Apa Jeonkook tidak tahu kalau Taehyung rela melakukan apa saja demi mempertahankan hubungan ini?
Lambat laun, Jeonkook tidak melayangkan perlawanan lagi. Ia justru membalas ciuman Taehyung dan melingkarkan kedua tangannya pada leher pria itu.
Masih dengan posisi berciuman, Taehyung membimbing Jeonkook ke tepi ranjang dan mendorongnya hingga jatuh ke atas tempat tidur. Ia yang masih berdiri, mulai melepas kancing piyamanya dengan mata yang masih fokus menatap Jeonkook.
"H-Hyeong mau apa?"
Taehyung menyeringai. Melempar piyamanya ke atas lantai begitu saja dan mulai menindih tubuh Jeonkook dengan bertumpu pada kedua lutut dan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mulai melepas kancing piyama Jeonkook satu per satu.
"Aku menginginkanmu."
"H-hajima, Hyeong."
"Bukankah kemarin kau menginginkannya, Jeon?" Taehyung menunduk, mengulum telinga Jeonkook hingga pemuda itu menegang. "Kita lanjutkan saja apa yang belum kita selesaikan di perpustakaan."
Jika biasanya Jeonkook yang meminta, namun kali ini pemuda delapan belas tahun itu justru bimbang. Ia teringat kedua orang tuanya. Bagaimana perasaan mereka seandainya tahu apa yang ia dan Taehyung sedang lakukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Black Swan
Fanfic"Aku dan kamu adalah dua ganjil yang tidak bisa menggenapkan. Adalah dua kata yang tidak bisa menjadi kita." -Lee Taehyung, 2020. START: 25 Juni 2020.
