Percobaan Pembunuhan.

963 191 50
                                        

Taehyung mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil warna putih. Ia baru saja selesai mandi dengan tubuh bagian atas yang dibiarkan terbuka. Membuat kulit tubuhnya mulai merasakan dingin akibat dari pendingin ruangan di kamarnya yang menyala.

Taehyung melempar handuk kecil itu ke keranjang baju kotor, berjalan ke arah jendela dan menatap pemandangan di luar sana pukul dua dini hari. Sementara hujan masih terus menjatuhkan diri entah sampai kapan.

Hari ini Taehyung hampir mati. Ia hampir saja menabrakkan dirinya ke sebuah mobil box yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Namun siapa sangka, sebelum mobil box itu mendekat, ada seseorang yang tiba-tiba saja menyeberang jalan dan membuat mobil tersebut menghantam tubuh seseorang itu.

Tuhan menyelamatkan Taehyung malam ini. Atau lebih tepatnya, Tuhan masih ingin menyiksa Taehyung lebih lama lagi.

Taehyung berbalik, mengamati setiap sudut kamar Jeonkook yang masih terasa sama. Bahkan aroma parfum pemuda itu tertinggal di kamar ini. Semua kenangan tentang mereka berdua tersimpan rapi di kamar ini. Bagaimana mereka saling memeluk dan mencumbu, bagaimana mereka saling berbagi kehangatan di bawah selimut yang sama, tentang Jeonkook yang sering merengek tengah malam karena Taehyung tiba-tiba menciuminya.

Semua masih terasa sangat nyata. Begitu juga dengan Taehyung. Tanpa terasa air matanya kembali menetes, berjatuhan dan membuatnya kembali kesakitan.

Apa benar Jeonkook telah tiada? Setega itukah pemuda itu padanya? Meninggalkannya tanpa mengucapkan salam perpisahan, meninggalkannya tanpa mengizinkan Taehyung memeluk pemuda itu untuk yang terakhir kalinya? Apa Jeonkook sedang mencoba menghukumnya karena sampai detik ini Taehyung masih memaksakan diri agar bisa bersama pemuda itu?

Taehyung benar-benar merasa ia tidak memiliki arti lagi untuk hidup. Namun saat ia ingat bahwa jantung kekasihnya masih hidup di dalam tubuh Sohyun, Taehyung mengurungkan niatnya. Dia ingin menebus kesalahannya pada Jeonkook dengan cara merawat jantung pemuda itu agar tetap berdetak. Meski sekarang, detak itu bukan milik Jeonkook lagi. Melainkan milik Hwang Sohyun, istri sandiwara yang sangat ingin dia ceraikan.

"Aku akan menjagamu dari sini, Jeonkook-ah. Aku akan menjagamu."

***

Di sebuah ruangan pengap dan redup seorang pria berstelan jas abu-abu duduk di kursi dengan kedua kaki diletakkan di atas meja. Sementara di samping kakinya terdapat tumpukan uang yang ia letakkan di dalam tas dengan jumlah satu milyar won. Di depan pria itu, seorang pria bertato dengan tindik di hidung dan di telinganya menatap uang tersebut dengan mata berbinar. Beberapa menit lagi, lembaran-lembaran won itu akan menjadi miliknya.

"Lenyapkan dia dalam waktu tiga puluh menit. Besok pagi aku harus sudah mendengar berita kematiannya."

Pria bertato itu tertawa dengan hati meringan. Membunuh seseorang dalam waktu tiga puluh menit bukan pekerjaan yang sulit baginya.

"Saya pastikan besok pagi Anda akan menerima kabar baik, Tuan Hwang Jimin."

"Satu lagi. Jangan menyeret namaku dalam masalah ini," Jimin bangkit, menatap pria bertato itu sekali lagi. Kemudian meninggalkan ruang pengap dan redup yang berada di sebuah bangunan tua tak terawat pinggiran Kota Seoul.

Jika Tuhan tidak melenyapkan adiknya, kali ini biarkan Jimin melenyapkannya dengan tangannya sendiri.

Jimin masuk ke dalam mobil miliknya. Lalu memerintahkan sang sopir untuk mengantarnya ke rumah sang ayah. Bagaimana pun juga dia harus mendesak sang ayah malam ini juga untuk melimpahkan semua harta keluarga Hwang pada dirinya. Karena setelah ini, satu-satunya penerus keluarga Hwang hanyalah Hwang Jimin. Sementara Sohyun akan segera pergi ke neraka.

Black SwanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang