Satu minggu Agnia lalui dengan berat, mendapati Kayana dan Stevy yang selalu menyindirnya, tapi Agnia tidak bertemu dengan Ares semenjak hari itu. Agnia berusaha mencari keberadaan Ares melalui emeald eyes namun nihil, seolah ada yang menutupi keberadaannya. Tidak biasanya ada yg bisa menutup akses Agnia.
Agnia seperti hilang arah sekarang, selama ini dia selalu tau akan melangkah kemana. Tapi anehnya Ares kini mengusai pikiran Agnia sepenuhnya bahkan Ken tidak mampu membuat Agnia seperti ini. Seandainya ada Valero atau Zenya tapi keduanya sibuk mengurus perusahaan mereka di Dubai.
Agnia berjalan di lobby gedung yang lumayan besar, menuju ruang CEO perusahaan tersebut. Beruntung langkahnya tidak ada yang menghalangi, karena sebagian besar mereka mengenal Agnia sebagai kekasih Lord Evgene. Ada juga guna status pura pura didepan media pikirnya.
"Brian??" Agnia memanggil pria yang sedang mengobrol dengan wanita seumurannya, sepertinya sekretaris Brian.
"Eh Queen? Ada perlu apa ?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu, masuk ke ruanganku." Brian membukakan pintu untuk Agnia mempersilahkan gadis itu duduk di sofa.
"Apa yang membuatmu kemari?"
"Ares, kau tau dimana dia? Aku berusaha mencarinya seminggu ini."
"Ares? Aku tidak bertemu dia seminggu ini. Kau sudah coba hubungi ponselnya?"
"Sudah tapi tidak ada jawaban. Kau tau Brian, Ares berubah pikiran dia akan bertunangan dengan Stevy." Raut kesedihan muncul di wajah Agnia.
"Begitukah?"
"Kau pasti sudah tau?"
"Hem yaa, tapi-"
"Kenapa?"
"Bukannya kau tidak mencintai Ares? Jadi apa yang kau khawatirkan sekarang?"
"Kau tau semuanya?"
"Tentu, Ares sudah cerita semuanya padaku, dia hanya ingin melepasmu Queen."
"Kenapa secepat ini?"
"Bukankah itu keinginanmu?"
"Aku? entahlah aku tidak bisa pergi darinya begitu saja. Aku pun tidak mengerti kenapa."
"Kau mencintainya?"
"Aku tidak tau."
"Perjanjianmu dengannya apakah dibatalkan begitu saja?"
"Aku bahkan sudah lupa dengan perjanjian itu."
"Kalau kau bertemu dengannya apa yang akan kau perbuat?"
"Bertanya."
"Tentang?"
"Kenapa menghilang."
"Hanya itu?"
"Aku harus pergi Brian, terimakasih atas waktunya." Agnia bangkit dan melangkah ke arah pintu, Brian menatap punggung gadis itu hingga menghilang.
_________________________
Mobil sport putih melaju kencang membelah kota Moscow—Rusia, Agnia jelas mengalihkan amarahnya dengan mengendarai mobil kecepatan tinggi tanpa peduli bahaya. Leo tau apapun yang Agnia akan lakukan saat amarah seperti ini. Dua mobil pengawal kelelahan mengikuti Agnia. Mobil rancangan Agnia ini memang di desainnya untuk balapan, karena ia menyukai hal menantang.
Gadis itu melaju tanpa tujuan, jalan yang semakin sepi membuatnya tidak merasa takut. Hamparan hijau disisi jalan pertanda memasuki kawasan hutan. Jelas saja sepi.
Mobil sport berwana hitam menyalip mobil Agnia menambah amarah dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emerald Eyes
Chick-LitAgnia Gayatri Purwoko, dokter yang membuat para kaum adam rela berpura-pura sakit, hanya untuk disentuh olehnya. Selalu menjadi pusat perhatian karena parasnya bagai dewi Rusia ditengah kota Jakarta. Tatapan mata emerald-nya membuat siapapun tertund...
